Koalisi Melawan Limbah Gugat Tiga Pabrik di Rancaekek

ilustrasi

ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Koalisi Melawan Limbah optimistis akan memenangkan gugatan terhadap izin pembuangan limbah cair (IPLC) bagi tiga pabrik di kawasan Rancaekek Kabupaten Sumedang.


Kuasa Hukum Koalisi Melawan Limbah, Dhanur Santiko menyatakan, pihaknya memiliki bukti kuat pencemaran Sungai Cikijing akibat pembuangan limbah cair dari ketiga pabrik. Ketiga pabrik itu adalah PT Kahatex, PT Five Star dan PT Insan Sandang Internusa.

“Kami akan sajikan bukti hasil uji laboratorium baku mutu air permukaan di Sungai Cikijing. Jelas itu melebihi batas yang ditentukan dan menunjukkan pencemaran,” ujar Dhanur selepas sidang yang berlangsung di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung jalan Diponegoro, kota Bandung, Selasa (16/2).

Hasil uji baku mutu air permukaan tersebut, sambungnya, didapat dari berkali-kali pengambilan sampel dalam jangka waktu 2009-2015. Baik sebelum maupun setelah keluar IPLC bagi tiga pabrik itu.

Menurutnya, pengujian baku mutu air permukaan memang dilakukan di Sungai Cikijing Kabupaten Bandung sebagai wilayah terdampak. Bukan di Sungai Cikijing Kabupaten Sumedang dimana limbah cair itu bermula.

“Gugatan ini kan bukan perkara bagaimana ketiga pabrik itu mengeluarkan limbah. Tapi lebih menitikberatkan pada bagaimana sungai itu tercemar akibat limbah itu,” kata dia.

Terkait jawaban tergugat bupati Sumedang selaku penerbit IPLC, Koalisi Melawan Limbah membantah semua jawaban tergugat. Salah satunya terkait prosedur penerbitan izin yang diklaim sudah sesuai prosedur.

Setelah dipelajari, terangnya, prosedur yang seharusnya dilaksanakan ternyata malah sebaliknya. Terutama dari sisi kajian teknis dampak pembuangan air limbah.

Terdapat setidaknya empat kajian teknis yang harus dilalui sebelum penerbitan IPLC itu. Dimana harus berkaitan dengan peternakan, perikanan, kualitas air tanah dan tanah, serta kesehatan mansia.

“Kami tidak mempermasalahkan administrasinya. Tapi pada saat izin dikeluarkan, kajian teknis tidak dilaksanakan,” ujarnya.

Selain itu, terkait masalah RTRW yang berbeda antara Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung di wilayah itu. Kabupaten Bandung terkait pertanian lahan basah dan permukiman, sedangkan Kabupaten Sumedang terkait industri.

“Di Perda Jabar nomor 22 tahun 2010 jelas bahwa kawasan Rancaekek itu sebagian untuk pertanian dan industri non polutif. Jadi jelas tidak tepat untuk industri tekstil,” terang Dhanur.

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum turut tergugat PT. Kahatex Andy Nababan menyatakan, pihaknya terlebih dahulu akan mendalami suksesi gugatan.

Namun begitu, secara garis besar pihak turut tergugat mengklaim sudah melaksanakan prosedur yang benar dalam urusan pembuangan limbah cair ke sungai Cikijing.

“Kita sudah mengikuti prosedur yang berlaku. Sebagai buktinya, nanti akan kami sajikan laporan berkala kualitas limbah yang dihasilkan perusahaan,” kata Andy.

Dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Nelvy Christin, majelis hakim meminta penggugat melampirkan bukti hasil laboratorium baku mutu di titik keluar tiga pabrik sebagai bukti. Waktu pengambilan dan siapa yang mengambil harus lebih jelas lagi.

“Jangan-jangan bukan dari ketiga pabrik turut tergugat sumber pencemarannya. Waktu pengambilan sampel juga akan menentukan. Misalkan standar pagi sama malam pasti beda. Bukan satu saja. Terutama kapan mereka buang limbah,” jelas majelis hakim.

Sementara itu, baik kuasa hukum bupati Sumedang, PT. Five Star maupun PT. Insan Sandang Internusa akan terlebih dahulu mempelajari bantahan penggugat maupun gugatan itu sendiri. Dan secara tertulis akan disampaikan jawaban pada persidangan selanjutnya.

Persidangan akan dilanjutkan satu pekan mendatang tanggal 23 Februari 2015 dengan agenda duplik dan jawaban turut tergugat.(cr2)

Loading...

loading...

Feeds

Sosok Habib Rizieq di Mata UAS

POJOKBANDUNG.com – Ustadz Abdull Somad (UAS) memberikan pandangannya terhadap sosok Habib Rizieq Shihab. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu …