Beri Pemahaman yang Baik untuk Generasi Muda

ilustras

ilustras

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Terus bermunculannya penyebaran aliran sesat menimbulkan kekhawatiran dari kalangan DPRD Jawa Barat. Hal ini menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang belum paham mengenai ajaran yang menyesatkan.

Anggota DPRD Jabar, Ridho Budiman Utama, mengatakan, pemerintah dibantu pihak terkait lainnya harus bekerja keras dalam mengedukasi masyarakat terkait keberadaan aliran sesat. Menurutnya, sejumlah lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia serta organisasi masyarakat Islam harus lebih gencar memberikan pemahaman ke masyarakat.

“Kita prihatin. Edukasi ke masyarakat berkaitan paham-paham beredar itu harus disosialisasikan lebih baik lagi,” kata Ridho di Bandung, Minggu (31/1).

Tidak hanya itu, Ridho pun mengharapkan peran serta masyarakat yang merupakan ujung tombak pencegahan peredaran paham tersebut. “Jelas, masyarakat juga. Tetangga dan orang tua harus memberi pendidikan memadai,” katanya.

Ridho pun menyoroti generasi muda sebagai pihak yang harus mendapat perhatian ekstra. Sebab, lanjutnya, pada masa-masa tersebut seseorang rentan diberi pemahaman yang keliru dan menyesatkan.

“Jangan sampai anak-anaknya yang punya idealisme tinggi, tapi minim pengetahuan. Akhirnya terseret ke aliran sesat seperti Gafatar,” katanya.

Oleh karena itu, Ridho meminta agar semua pihak turut serta dalam memberi pemahaman yang baik kepada generasi muda. “Diarahkan, agar mereka kembali ke pemahaman yang benar,” pungkasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dituntut bisa mengembalikan aset milik mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara asal Jabar. Mantan Sekretaris Daerah Gafatar Jabar, Jefri, meminta, Pemprov Jabar memfasilitasi pengembalian aset milik eks organisasi itu.

Dia menjelaskan, pemulangan ribuan eks anggota Gafatar dari Kalimantan Barat merupakan inisiatif dari pemerintah. Ini terjadi menyusul aksi anarkis yang dilakukan sejumlah oknum warga Mempawah terhadap pemukiman eks Gafatar.

Dia menduga, aset milik eks Gafatar mencapai Rp 300 juta. “Kami meminta pemerintah sebagai bapak anak-anak bangsa, membantu pengembalian aset kami,” katanya di Bandung, akhir pekan lalu.

Selain itu, pihaknya tidak terima dengan label Gafatar sesat seperti yang berkembang saat ini. Sebab, menurutnya kegiatan Gafatar murni untuk membantu pemerintah mengatasi permasalahan pangan seperti sekarang ini.

“Faktanya, pemerintah tidak sanggup memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Jutaan ton beras diimpor dari luar negeri, pasokan daging sapi masih bergantung terhadap impor. Ini menjadi bukti kegagalan pemerintah memenuhi kebutuhan pangan Tanah Air,” katanya.

Melihat kondisi ini, kata dia, pihaknya bersama eks anggota Gafatar lainnya mencoba membantu pemerintah melalui aksi nyata. Salah satunya melakukan berbagai kegiatan pertanian di Kalimantan Barat yang menggunakan dana pribadi.

“Kondisi hari ini pangan Indonesia semakin kacau balau. Kami memutuskan fokus pada kemandirian pangan. Kami mencari tempat di Kalimantan karena harganya murah dan masuk akal,” ucapnya.

Oleh karena itu, pihaknya membantah jika Gafatar menyebarkan aliran sesat. “Kegiatan kami ini sosial. Donor darah, pembangunan masjid, dan kegiatan sosial lainnya,” pungkasnya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds

DPRD Jabar Imbau Ponpes Taati Prokes

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketua Fraksi PKB DPRD Jabar M. Sidkon Djampi mengimbau para santri dan pengajarnya taati protokol kesehatan Covid-19. …

Kenaikan Sanksi Prokes Terbentur Pergub

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penerapan kenaikan sanksi denda untuk pelanggaran protokol kesehatan (prokes) sulit dilakukan. Musababnya, realisasi sanksi tersebut harus melakukan …