Pembangunan KA Cepat Jakarta-Bandung Butuh Sarana Pendukung

Groundbreaking Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Khairizal Maris)

Groundbreaking Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Khairizal Maris)

POJOKBANDUNG.com,SOREANG– Dengan akan dibangunya kereta api cepat Jakarta-Bandung, maka sarana transportasi pendukung harus dibuat. Salah satunya adalah Light Rail Transit (LRT) atau kereta sistem rel ringan.


Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bandun, Firman B Soemantri mengatakan, rencana pembangunan jalur kereta Api Cepat Bandung-Jakarta dengan stasiun akhir di Tegal Luar, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, akan membutuhkan sarana lain untuk menyebar penumpang.

Disebutkannya, jika penumpang dari Jakarta sampai di Tegalluar, maka diperlukan pembangunan sarana lain seperti LRT. Hal tersebut harus dilakukan, supaya penumpang tidak menumpuk di stasiun Tegal Luar.

“Harus ada sarana transportasi umum lain, seperti LRT yang banyak digunakan di negara-negara maju,” tutur Firman, Jumat (22/1).

Sebab itu, Firman mengatakan,pihaknya akan segera meminta keteranan dari instansi terkait mengenai rute dan bentuk LRT yang akan dibangun di Kabupaten Bandung.

Berdasarkan informasi yang didapatnya, LRT akan menghubungkan Bojongsoang dengan Banjaran, Soreang, Majalaya, dan Cileunyi.

“Memang sejauh ini ada jalur kereta dari Bojongsoang menuju Ciwidey, tapi ada beberapa masalah yang harus diselesaikan jika akan menggunakan jalur tersebut,”ujarnya.

Salah satu permasalahan yang akan dihadapi adalah, pembebasan lahan milik Masyarakat. Menurut Firman, karena jalur kereta api menuju ciwidey sudah tidak digunakan, maka Masyarakat banyak yang membangun rumah di jalur tersebut.

“Walaupun status lahannya milik negara, tapi akan ada gejolak jika bangunan yang beridiri diatas ex rel kereta api Ciwidey tidak dibebaskan,”katanya.

Kalaupun tidak menugnakan ex rel Ciwidey, maka alternatif lain adalah pembangunan monorel.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Teddy Kusdiana, mengatakan pembangunan kereta api cepat dan LRT harus dibangun sesuai dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung, yang sedang dibahas di tingkat kementerian.

Teddy pun khawatir jika jalur LRT akan dibangun di atas jalur kereta api lama yang sudah puluhan tahun ditutup dan dihuni masyarakat. Karenanya, pembangunan jalur LRT dan pemberhentiananya pun harus diperhitungkan dengan kondisi sosial dan geografisnya.

“Kami belum dapat informasi jelasnya mengenai pembangunan LRT ini seperti apa. Konsep dari dinas perhubungan sendiri masih dikaji dalam pembahasan RTRW Kabupaten Bandung,” katanya. (mld)

Loading...

loading...

Feeds