Kena PPN 10 Persen, Pedagang Daging Sapi KBB Mulai Resah

 


POJOKBANDUNG.com, KBB–Sejumlah pedagang daging sapi di Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini mulai resah akibat pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen oleh Pemerintah melalui Kementrian Keuangan (Kemenkeu) untuk impor ternak, termasuk sapi.
Pasalnya, kenaikan PPN yang mulai berlaku 8 januari lalu tersebut selain berdampak pada pengusaha sapi, dampak itu juga justru akan dibebankan kepada para konsumen daging sapi ditataran bawah.

Kebijakan tersebut dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 267/PMK.010/2015 Kriteria Dan/Atau Rincian Ternak, Bahan Pakan Untuk Pembuatan Pakan Ternak dan Pakan Ikan Yang Atas Impor Dan/Atau Penyerahannya Dibebaskan Dari Pengenaan PPN.

Menurut salah seorang pedagang daging di pasar Curug Agung Padalarang, Ujang (50) yang mengaku merasakan langsung, bahwa dirinya tidak tahu-menahu adanya kenaikan pajak yang secara tidak langsung mempengaruhi harga jual daging.

“Saya nggak tau, tiba-tiba harga naik sepuluh ribu, setelah tanya dan melihat di media rupanya ada pengenaan PPN 10 persen,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Curug Agung Padalarang, Jumat (22/1/2016).

Semakin tingginya harga daging sapi di pasaran menurutnya membuat bingung para pedagang daging. Apalagi sebelum diberlakukannya wajib pajak ini harga daging sudah tinggi. Tentunya para pembeli akan semakin berkurang untuk membeli daging sapi.

“Sebelum ada pajak juga kami biasa jual Rp 100.000 sampai dengan Rp 105.000 sudah mahal. Kalau sekarang, harga daging bisa dijual sekitar Rp 120.000 sampai dengan Rp 125.000. Kami pedagang kebingungan nanti menjualnya kalau harga terus naik,” kata ujang

Dirinya mengaku sangat keberatan dengan naiknya harga daging sapi ini. Karena, dari yang biasanya mampu menjual daging sapi sebanyak 20-25 Kg/hari, kini hanya mampu menjual 10 Kg/harinya.

“Ya keberatan biasanya langganan bapak ngambil banyak kini hanya sedikit-sedikit,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Panorama Lembang pun juga terkena imbas dari diberlakukannya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) seberar 10 persen yang diberlakukan Pemerintah.

Iyan Sopian (35) salah seorang pedagang mengatakan, dengan adanya PPN itu, justru mengharuskan para pedagang menanggung biaya harga daging impor sebsar 10 persen. Sehingga, hal itu berdampak pada naiknya harga karkas (daging dan tulang tanpa kepala kaki-red) yang mencapai Rp90 ribu perkilogram. Sedangkan harga timbang hidup mencapai Rp 45 ribu perkilogram yang sebelumnya hanya Rp40 ribu perkilogram.

“Daging impor PPN nya masuk ke pedagang. Jadi otomatis harga daging juga jadi naik, karena harga karkasnya sudah naik,” kata Iyan.

Nailknya harga daging sapi di Pasar Panorama Lembang sendiri, lanjut dia, sudah terjadi sejak lima hari yang lalu. Sebelumnya harga daging sapi Rp110 ribu perkilogram, saat ini sudah mencapai RP120 ribu perkilogram.

“Kalau untuk kebutuhan daging lokal memang cukup, karena yang beli hanya warga lembang. Tapi banyak warga kota bandung juga yang beli kesini, jadi saya harus ngambil yang daging sapi impor juga,” ujarnya.

Di tempat yang berbeda, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Adiyoto mengatakan, meski dirinya belum menghitung secara pasti berapa jumlah tingkat penurunan permintaan daging sapi di KBB, namun dirinya yakin dengan kenaikan PPN 10% tersebut akan berdampak pada menurunnya permintaan daging sapi dari konsumen.

Sementara untuk jumlah pasokan sapi yang biasa untuk di konsumsi di wilayah KBB sendiri bisa mencapai 40-50 ekor sapi untuk setiap harinya.

“Jelas ini akan berdampak kepada menurunnya permintaan daging sapi yang harganya menjadi mahal,” katanya saat dihubungi.

Kendati demikian, pihaknya mengklaim, untuk jumlah pasokan sapi di KBB sendiri sejauh ini masih aman. “Inikan masalah naiknya harga daging sapi, sejauh ini masih aman normal,” pungkasnya. (bie)

Loading...

loading...

Feeds