Kisah Keluarga Tak Mampu dengan Anak-anak yang Disabilitas di Cangkuang Kab Bandung

ilustrasi

ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, CANGKUANG– Menjadi keluarga tidak mampu, tidak serta merta beban hidup keluarga Rohmat (60) dan Rahayu (50) berkurang. Bahkan, penderitaan justru seperti lebih dekat dengan mereka.


Bagaimana tidak, dua dari tiga anaknya merupakan anak disabilitas. Anak tertua Rohmat, yakni Rinto Hadikkusumah (17) sejak bayi tidak bisa berjalan dan bicara. Sementara anak bungsunya yakni Rian Adinugraha (11) tidak bisa bicara.

Menurut Rahayu, Rian mengalami panas dan kejang saat usia dua tahun yang menyebabkannya tidak bisa bicara.

“Dokter bilangnya ada penyempitan pita suara, jadi tidak bisa bicara. Kalau bicara juga palingg ngomong papa atau mama, itu juga terbata-bata,”tutur Rahayu ketika ditemui di Rumahnya,Komplek Parahyangan Kencana, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Kamis (21/1).

Keadaan lebih parah diderita oleh Rinto, jika Rian masih bisa berjalan, Rinto justru sebaliknya, selama 17 belas tahun, dia terbaring diatas kasur yang sudah lapuk beralaskan plastik bekas spanduk.

Bahkan, walaupun usia Rinto sudah 17 tahun lebih, namun badannya jauh lebih kecil dari adiknya. Dengan tubuh kecil, pergelangan tangan dan Kaki kecil, dia terlhat seperti anak usia lima tahun. Setiap hari remaja tersebut meringkuk dengan lutut menyentuh dada.

“Usia dua tahun, tubuhnya tiba-tiba dingin dan kejang-kkejang.awalnya kata dokter menderita ggejala epilepsi. Tapi sampai sekarang, dia tidak berkembang,”ujarnya.

Keadaan ekonomi membuat keluarga tersebut tidak mampu berbuat banyak untuk mengobati dua anaknya yang menjadi disabilitas. Walauupun Rohmat pensiunan dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan kota Bandung, namun karena hanya sebagai PNS lapangan dan tidak mempunyai jabatan, gaji yang dterimanya juga jauh dari kata cukup.

“Dulu sempat meminjam uang, jadi skearang gajinya hanya Rp200.000,”ujar Rohmat.

Keadaan menjadi lebih parah ketika dokumen penting miliknya hlang, sehingga keluarga tersebut tidak bisa mendapakan Askes yang sudah menjadi haknya.

Walaupun tinggal di konmplek perumahan, namun kondisi rumah Rohmat di Blok E nomor 20 tersebut terlihat kumuh. Pasalnya, dia tidak mempunyai uang untuk membetulkan kerusakan di rumahnya.

Dengan gaji pensiun yang diterima hanya Rp200.000, Rohmat setiap hari terpaksa harus banting tulang menjadi pemulung botol plastik.

“Untuk nyicil rumah saja sering tidak bayar. Makanya saya seringg mendapat surat teguran dari bank,” ungkapnya.

Rohmat mengatakan keluarga ini nyaris tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Dinas Sosial Kabupaten Bandung, tuturnya, hanya datang dan mendata keluarganya tahun lalu, tanpa memberikan kartu, fasilitasi, atau bantuan apapun.

“Kami hanya mendapat bantuan dari perorangan yang katanya dari kelompok peduli kaum disabilitas. Kami berusaha bertahan hidup dengan bekerja sebagai buruh serabutan atau memulung,” kata Rohmat.

Keadaan memburuk menimpa Rohmat,dimana empat bulan lalu dia terpaksa harus dioperasi karena didiagnosa ada nanah di hatinya.

Ketua RT setempat, Agus Goner (44), mengatakan Keluarga rohmat merupakan keluarga yang tidak mampu,s ehingga setiap bulan keluarga tersebut mendapat raskin dari pemerintah.

Berbagai upaya untuk membantu meringankan beban rohmat sudah dilakukan oleh Agus, namun tidak membuahkan hasil.

“Saya sering mengajukan bantuan kepada pemerintah melalui Desa, tapi tidak mendapat tanggapan,”ujarnya.

Bahkan, petugas dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung pernah datang ke rumah tersebut, namun hanya sebatas melakukan pendataan kaum difabel saja, tidak memberikan bantuan apa-apa.

“Ibu mereka bahkan pernah mengalami depresi berat kemudian kabur dari rumah dan ditemukan di Jawa Tengah,” kata Agus. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

43 Prajurit TNI Ditukar US Army

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa menerima kunjungan beberapa perwakilan dari tentara Amerika untuk Indonesia. Dalam pertemuan …