Jika Bersyukur, Pengikut Gafatar Bilang: Puji Tuan Semesta Alam

Suasana di camp atau pemukiman Gafatar di Mempawah Timur yang sengaja dibakar oleh warga untuk mengusir mereka.

Suasana di camp atau pemukiman Gafatar di Mempawah Timur yang sengaja dibakar oleh warga untuk mengusir mereka.

POJOKBANDUNG.com, PADANGSIDIMPUAN – Abdul Rahman Silitonga, pria yang kesehariannya sebagai kuli bongkar muat di daerah Palopa, Padangsidimpuan Tenggara, cerita puterinya, Mira Lisda br Silitonga pergi bersama suami Enuh Ruhiyat dan tiga anaknya (cucu, Abdul Rahman) berangkat ke Kalimantan untuk eksodus bersama pengikut Gafatar lainnya.


Bahkan, meski sudah dilarang, keluarga itu tetap memutuskan untuk berangkat tanpa pamit kepadanya dan istri, Nur Suti.

Dia cerita, selama masih tinggal bersama Enuh, menantunya itu, dia kerap berseberangan pendapat.

“Berbicara mengenai Tuhan, katanya Tuhan itu tidak ada, yang ada hanya Tuan yang ditentukan manusia sendiri. Kalau bersyukur, katanya Puji Tuan Semesta Alam, panggil laki-laki dengan Bung, perempuan dipanggil Bunda, bahkan anak kecil manggilnya Bung juga,” ujarnya.

“Pernah juga berbicara mengenai ruh orang yang mati kecelakaan, malah ditanya sama dia (Enuh), ‘ruh lalat yang mati ke mana, ruh nyamuk itu ke mana?”. Kan aneh, semua dilogikan sama mereka (Gafatar),” terang pria yang telah puluhan tahun merantau dari Garut itu. (mag-01/sam/jpnn)

Loading...

loading...

Feeds

Maradona Pulang ke Tangan Tuhan

Duka warga dunia di sepanjang tahun pandemi 2020 ini kian berlarat-larat saja. Jelang tengah malam kemarin WIB, Diego Maradona, salah …