Ayah Terduga Pelaku Teror Sarinah : Anak Saya Dicuci Otak

Rumah orang tua Dian Juni Kurniadi, di Desa Pegirikan, Kecamatan Talang, tertutup rapat. Selasa, (19/1).

Rumah orang tua Dian Juni Kurniadi, di Desa Pegirikan, Kecamatan Talang, tertutup rapat. Selasa, (19/1).

POJOKBANDUNG.com, TEGAL – Salah satu pelaku pengeboman di Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis (14/1) lalu bernama Dian Juni Kurniadi. Dia merupakan anak ketiga pasangan Sutopo dan Rodiyah, warga RT 27/RW 07 Desa Pegirikan, Kecamatan Talang.


Meski sudah dinyatakan polisi sebagai pelaku, tapi orang tua Dian menolak anaknya disebut sebagai teroris. “Anak saya bukan teroris. Dia itu lugu. Saya jamin Dian tidak pernah punya niat melakukan semacam itu (pengeboman),” kata Sutopo, saat ditemui di kediamannya, Selasa (19/1).

Sutopo menengarai anaknya telah dicuci otak dan dipengaruhi oleh Ali Mahmudin, warga Desa Langgen, Kecamatan Talang. Ali sendiri telah ditangkap oleh tim Densus 88 AT di kediamanya bersama seorang terduga teroris lainya yakni Fahrudin. Penangkapan dilakukan sehari setelah aksi pengeboman di Sarinah, Jakarta.

“Saya yakin Pak Ali yang mencuci otak dan mempengaruhi anak saya terjerumus ke aksi terorisme. Karena anak saya sering kali berada di rumah dia berhari-hari sejak Desember 2015 lalu,” bebernya.

Awal kisah perkenalan Dian dengan Ali, dikatakan Sutopo, melalui media sosial facebook sekitar November 2015 lalu. Kala itu, Dian masih bekerja di sebuah peternakan di Kabupaten Sampit, Kalimantan Barat.

Setelah saling komunikasi melalui media sosial itu, Dian mendapatkan pesan-pesan dari Ali yang bertuliskan tentang ajaran yang menyimpang dari agama. Dari pesan-pesan itu, akhirnya Dian memutuskan untuk kembali pulang ke Tegal.

Ketika berada di Tegal, Dian acap kali bertandang ke rumah Ali selama berhari-hari. Hingga akhirnya, kedua orang tua Dian menjemput di kediaman Ali. “Saya kira, anak saya bekerja di tempatnya Ali. Sebab, dulu Ali seorang pengusaha logam pembuatan onderdil kapal. Tapi ternyata, Ali itu teroris,” sesalnya.

Menurut Sutopo, terakhir kali Dian meninggalkan rumahnya pada 8 Desember 2015 dan memilih tinggal di rumah Ali selama beberapa hari setelah akhirnya berangkat ke Jakarta. Sejak itu Sutopo mengaku tidak pernah komunikasi lagi dengan anaknya.

Dia pun tidak tinggal diam dan terus mendatangi rumah Ali untuk selalu menanyakan keberadaan anaknya itu. Hanya saja, Ali kala itu selalu menjawab tidak tahu. “Katanya sudah pergi ke luar Jawa,” ucapnya.

Setelah beberapa hari tidak mendapat kabar tentang anaknya itu, tiba-tiba rumah Sutopo didatangi sejumlah anggota polisi. Dia terkejut karena ternyata anaknya menjadi salah satu pelaku pengeboman di Sarinah, Jakarta Pusat. “Saya sudah ikhlas, tapi saya masih tidak terima dengan Pak Ali. Karena saya yakin sekali dia yang membuat Dian terjerumus seperti ini. Kalau ketemu dia, akan saya tonjok,” tandasnya. (yer/fat/dil/jpnn)

Loading...

loading...

Feeds