Wuiih….di Pesantren Ini Anak-Anak Punk Belajar Mengaji

Pesantren Anak-anak punk di Arjasari, Kab Bandung.

Pesantren Anak-anak punk di Arjasari, Kab Bandung.

POJOKBANDUNG.com, ARJASARI– Kepedulian Legiman Muaz (56) dan Istrinya Fatimah (34) warga Kampung Sukarasa RT 04/14 Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, terhadap sesama manusia sepertinya layak diacungi jempol.


Pasangan suami istri yang menjadi pembina Madrasah Al-Bina tersebut sempat menjadikan madrasah Al-Bina sebagai pesantren bagi anak punk.

Legiman menceritakan, Madrasah Al-Bina dijadikan ‘pesantren anak punk’ tersebut sebenarnya bukan disengaja, namun secara kebetulan saja. Menurutnya, pada 2010 lalu, ketika dia dan warga selesai salat berjamaan di masjid, dikagetkan dengan datangnya empat orang anak punk.

“Saya kaget ada orang aneh yang menanyakan saya dan mengatakan ingin tinggal dengan saya,” tutur Legiman, Selasa (19/1).

Legiman kemudian menanyakan maksud dari anak Punk yang dijawabnya mereka ingin numpang menginap di rumah Legiman karena sudah jenuh hidup menjadi gelandangan.

“Mereka rata-rata tidak punya tempat tinggal, karena sudah tidak dianggap oleh keluarganya masing-masing. Bahkan, ketika pulang ke rumah, malah diusir oleh orang tuanya,” ujarnya.

Merasa kasihan, Legiman kemudian menerima empat orang anak punk untuk tinggal di rumahnya. Dia berkeinginan mengubah sikap anak-anak tersebut.

Pada awalnya, masyarakat sekitar banyak yang menentangnya, terlebih empat orang anak punk tersebut malah membawa teman-temannya, sehingga total yang tinggal di kediaman Legiman berjumlah 20 anak.

Walaupun mendapat tentangan dari warga, Legiman tidak putus asa. Penjelasan pun diberikan kepada warga, karena jika dibiarkan di jalanan mereka akan lebih terjerumus lagi.

“Kalaupun dianggap oleh orang mereka itu sampah, saya umpamakan sampah yang tidak ada harganya juga bisa didaur ulang jadis esuatu yang bernilai, apalagi manusia yang punya hati,” ujarnya.

Walaupun warga tidak lagi menolak keras, namun reaksi yang didapat Legiman cukup besar, dimana pengajian anak-anak dan ibu-ibu yang biasanya berjumlah ratusan menurun drastis setelah ada anak punk di madrasah Al-Bina.

Terlebih, empat bulan pertama, Legiman tidak mengubah cara berpakaian anak-anak Punk yang sedang dibinanya. Kehidupan bebas dan liar pun masih sering dilakukan anak-anak tersebut. Namun ia sekeluarga serta jamaah pengajiannya tetap bersabar, dan lambat laun memberi mereka pelajaran agama, tatakrama hingga menyekolahkan sebagian dari mereka ke SMP dan SMA.

“Syarat pertama yang saya minta sama mereka, kalau mau tinggal di sini harus salat berjamaah dan tidak boleh berbohong. Dan ternyata mereka mau mentaatinya,” katanya.

Muaz melanjutkan, ia sekeluarga berani menampung mereka, dan mengajarkan mereka nilai-nilai kehidupan sesuai tuntunan agama Islam. Ia juga mengarahkan mereka untuk memiliki kegiatan positif bagi anak punk yang nyantri di tempatnya. Mereka diberdayakannya dengan memelihara ikan lele, mengelola domba aqiqah dan membantu istrinya menyiapkan dan berjualan ayam goreng fred chiken di Terminal Arjasari.

“Itu juga alasan saya sama warga dan Pak RT, kenapa saya mau menampung mereka. Karena saya punya kegiatan untuk menyalurkan mereka ke hal yang positif. Dari sana warga mulai memahami dan membantu kami,”ujarnya.

Delapan bulan berjalan menampung 20 anak punk, beberapa anak dikembalikan kepada orang tua masing-masing. Awalnya, kata Legiman oranhg tua anak banyak yang menolaknya, namun setelah melihat perubahan perilaku, akhirnya para orang tua anak tersebut mau menerima kembali dengan suka cita.

Hingga akhirnya tersisa dua orang anak yang masih tinggal di kediaman Legiman, keduanya kemudian disekolahkan bahkan sampai lulus SMA pada 2013 lalu.

Menurut Muaz, ada kebahagiaan tersendiri bagi ia dan keluarganya. Saat melihat anak-anak yang semula urakan, tak tahu etika sopan santun dan tidak memiliki tujuan hidup itu berubah drastis. Bahkan ada yang telah bekerja, berumah tangga dan memiliki keluarga yang utuh. Namun sayangnya, kegiatan Muaz menampung dan mendidik anak-anak punk ini terpaksa harus berhenti. Karena fasilitas pondokan yang tak memadai. Serta sudah tak ada lagi sumber penghasilan untuk membiayai semua kegiatan itu.

Selain itu, lanjut Muaz, kesehatan fisiknya pun mulai menurun. Mungkin, kata dia, karena bekerja terlalu semangat, ia sempat jatuh sakit paru-paru bocor hingga harus menjalani perawatan hingga berbulan-bulan.

“Sebenarnya sampai saat ini saya masih semangat ingin merangkul mereka. Apalagi kalau saya lewat dijalan, suka sedih dan mengucurkan air mata, kalau lihat anak-anak punk berkerumun dijalanan, apalagi sekarang itu banyak juga anak perempuan yang seperti itu. Cuma saya sadar tidak bisa berbuat apa-apa, yah selain fasilitas dan dana, kadang saya juga bingung, kalau saya tampung nanti setelah sadar dan punya keahlian, lalu mereka itu mau disalurkan kemana. Karena kalau tidak disalurkan, bisa-bisa mereka kembali kejalanan,” pungkasnya. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

Habib Rizieq Minta Maaf

POJOKBANDUNG.com,JAKARTA– Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab minta maaf karena beberapa waktu lalu dirinya membuat kerumunan massa …

Viral Azan Serukan Jihad

POJOKBANDUNG,com, BANDUNG – Aksi sekelompok orang yang mengumandangkan azan pada beberapa tempat viral di media sosial (medsos). Namun, dari panggilan …