Soal Rekrutmen Teroris, Ini Komentar Psikolog Universitas Maranatha Bandung

Efni_Indriani

Efni_Indriani

 
POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Kepala Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Maranatha, Efni Indriani, mengungkapkan, orang-orang yang bergabung menjadi teroris adalah orang yang berusaha menunjukkan eksistensi diri. Dalam proses rekrutmen, kadang dicari orang-orang yang relatif gagal dalam hidupnya, tetapi mempunyai ambisi.


Menurut Efni, dalam proses cuci otak, orang-orang yang tersingkirkan atau yang merasa memiliki kekurangan diiming-imingi bisa mencapai aktualisasi dan eksistensi yang optimal ketika mereka bergabung dengan jaringan organisasi teroris tersebut.

“Dengan adanya cuci otak, diharapkan orang-orang yang bergabung dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dari jaringan teroris tersebut. Proses cuci otak itu bisa dalam proses yang panjang, tidak hanya satu atau dua bulan tapi biasanya taunan. Setelah itu, ada proses khusus terapi dengan cara mengubah cara berpikir,” kata Efni saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (16/1)

Selanjutnya Efni mengatakan, untuk mencegah penyebaran paham terorisme, bisa dilakukan melalui diintensipkannya komunikasi di tengah keluarga.

“Orangtua dan anak selalu luangkan waktu untuk berkomunikasi, sharing, dan bertukar pikiran,” katanya.

Kata Efni, untuk mengetahui apakah anggota keluarga atau kerabat sudah terinfeksi virus teroris atau tidak, amati pola perilaku yang ditampilkan oleh mereka. Melalui langkah itu, bisa diketahui apakah ada kebiasaan mereka yang berubah atau tidak.

“Jika lepas proses komunikasi, tentu pantauannya akan lebih sulit. Saat komunikasi dilakukan di keluarga, jangan hanya berbicara kosong atau menginterograsi tetapi sharing tentang banyak hal,” ujarnya.[des]

Loading...

loading...

Feeds

43 Prajurit TNI Ditukar US Army

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa menerima kunjungan beberapa perwakilan dari tentara Amerika untuk Indonesia. Dalam pertemuan …