Awali 2016, Ini yang Akan Dilakukan Pemkab Bandung Barat

POJOKBANDUNG.com, KBB–Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada pertengahan Januari ini bakal mengecek Sungai Cihaur sebagai titik terparah yang dialiri limbah industri. Pengecekan ini menyusul upaya normalisasi yang selesai pada Desember 2015 kemarin.


Kepala Kantor Lingkungan Hidup KBB Apung Hadiat Purwoko menuturkan, pengecekan fisik tersebut sebagai tindak lanjut dari sanksi administrasi yang diberikan Pemprov Jabar kepada dua perusahaan, yakni PT Sarana Makin Mulia dan PT Oriental. Dua perusahaan ini berkontribusi besar mengaliri limbah ke sungai Cihaur.

“Kita akan cek lokasi sungai dan juga perusahaannya, untuk mengetahui progres pemanfaatan Ipal oleh dua perusahaan ini,” tutur Apung kepada wartawn, Minggu (3/1/2016).

Apung menjelaskan, limbah yang dikeluarkan oleh dua perusahaan pada 2015 lalu memyebabkan sungai Cihaur sangat tercemar. Kondisi sungai ini paling parah jika dibandingkan dengan dua sungai lain di KBB, Cibingbin dan Cipeusing. Hingga akhirnya, dua perusahaan itu termasuk 10 perusahaan di KBB yang mendapat sanksi administrasi terkait pembuangan limbah industri selama 2015.

Konsekuensi sanksi tersebut menuntut perusahaan untuk segera membikin kembali Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) dengan meningkatkan kapasitasnya. “Ipal yang sebelumnya dimiliki perusahaan tidak mampu menampung volume limbah yang dikeluarkan sehingga Ipalnya pun tidak berfungsi. Karena kan ini overlap, berarti kan limbahnya tidak diproses,” tutur dia.

Apung menambahkan, pihak perusahaan PT SMM menyatakan sudah menyelesaikan pembuatan Ipal pada Desember 2015 lalu. Hingga kini, pihak KLH KBB masih belum turun ke lapangan untuk memantau keadaan. Timnya baru akan diturunkan pada pertengahan Januari ini untuk mengecek fisik progres pembuatan Ipal dan kondisi sungai Cihaur.

Pihaknya juga akan meminta laporan tertulis soal pembuatan Ipal perusahaan itu. Namun, Apung dan jajarannya tidak ingin langsung percaya terhadap laporan tersebut. “Karena bisa saja di laporan tertulis itu bagus, sementara di lapangannya tidak demikian. makanya nanti kita harus cek,” ujar dia.

Lanjut Apung, kadar limbah di sungai Cihaur sudah melampaui ambang batas baku mutu sehingga sangat berbahaya. “PH-nya itu sudah tinggi, kadar racunnya juga sudah tinggi. PH yang dihasilkan oleh dua perusahaan itu dan kadar racunnya itu sudah sangat parah pada 2015 kemarin,” tutur dia.

Contoh pelanggaran perusahaan terhadap limbah yang dibuang ke sungai Cihaur berbeda dengan perusahaan yang membuang limbah ke sungai Cipeusing. Contoh kenakalan perusahaan yang membuang limbah ke sungai Cipeusing yaitu dengan mengurangi kadar bahan kimia sebagai penetralisir kadar racun limbah.

“Kalau yang di Cipeusing itu nakal, ada kucing-kucingan (antara petugas pemerintah dengan oknum perusahaan, ada yang dikurangi kadar bahan kimianya itu,” kata dia.

KLH KBB menargetkan normalisasi sungai Cihaur rampung pada 2015 lalu. Namun, jika normalisasi sungai tersebut belum rampung, maka akan dilanjutkan hingga 2016 ini. Artinya, tak hanya Cihaur yang akan dinormalisasikan, tapi juga sungai Cipeusing dan Cibingbin. “Ya pekerjaan kita bertambah aja (jika normalisasi Cihaur belum rampung),” kata dia.

Jika kondsi di 2016 ini belum ada perubahan, pihaknya akan memperketat pengawasan dan sanksi agar memberikan efek jera. Sebab, jika tidak demikian, pencemaran akan terus terjadi. “Kami juga akan bekerja sama dengan dinas PU terkait, dan juga masyarakat, untuk bersama-sama mengawasi pencemaran tiga sungai di KBB ini,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Kelompok Masyarakat Pemantau Pencemaran Daerah Aliran Sungai Citarum BPLHD Jabar Budi Setiawan meminta warga di KBB untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitarnya. Ia yakin himbauan soal kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sudah banyak didengungkan. Namun himbauan itu selalu tidak digubris.

Budi juga meminta kepada pelaku industri untuk memperbaiki Ipalnya. Sebab, menurut dia, saat ini Ipal di seluruh industri itu memang ada, tapi banyak yang berjalan tidak maksimal. Limbah buangan dari industri itu masih banyak yang mencemari lingkungan. Misalnya, limbah tersebut bersuhu panas.

Suhu panas pada limbah tersebut mengindikasikan IPAL tidak dijalankan secara optimal. Karena, jika IPAL itu maksimal, limbah buangannya dingin. “Bahkan ini ada yang berbau dan ada yang berwarna, panas. Kalau pengolahannya benar itu kan dingin. Enggak panas,” tutur dia. (bie)

Loading...

loading...

Feeds