BNNP Jabar Rehabilitasi 5.029 Pengguna Narkoba

Kepala BNNP Jabar Brigjen (pol) Iskandar Ibrahim.

Kepala BNNP Jabar Brigjen (pol) Iskandar Ibrahim.

 
POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat hingga akhir Desember 2015 berhasil merehabilitasi sebanyak 5.029 korban penyalahgunaan narkoba di Jabar, atau 54,75 persen dari target sebanyak 9.186 korban narkoba di Jabar tahun ini.
Dari jumlah itu, 1.563 diantaranya ditangani komponen masyarakat dan 383 diantaranya oleh institusi pemerintah.


Hal itu diungkapkan Kepala BNNP Jabar Brigjen (Pol) Iskandar Ibrahim kepada sejumlah wartawan media di Kantor BNNP Jabar, Rabu (30/12). “Angka pengguna narkoba di Jabar memang masih tergolong cukup tinggi, berdasarkan data BNNP Jabar, ada 850 ribu orang yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Target kita tahun ini 9.186 korban yang perlu direhabilitasi, hingga akhir tahun 2015 kita baru mencapai 5.029 orang atau 54,75 persennya,” ujar Iskandar.

Iskandar menerangkan, hingga akhir Desember 2015 ini, pihaknya telah melakukan penyelidikan kasus narkoba sebanyak 23 kali, 20 diantaranya, berkasnya sudah dilaporkan, sisanya masih dalam proses. Sedangkan untuk barang bukti, lanjut dia, BNNP Jabar telah mengamankan sebanyak 803 gram sabu-sabu dan empat butir ekstasi. “Sementara untuk operasi di Lapas atau rutan telah dilakukan 20 kali terhadap 167 penghuni lapas/rutan, tempat hiburan 35 kali dengan 21 orang yang kena sasaran dan di tempat kosan 19 kali dengan sasaran 47 orang serta satu kali di vila dengan sasaran 18 orang, selebihnya di tempat lain sebanyak delapan kali dengan sasaran sebanyak enam orang,” tuturnya.

Iskandar mengakui, ke depan, tantangan BNNP Jabar dalam menangani berbagai kasus penyalahgunaan narkoba di Jabar makin berat. Soalnya, model dan cara pelaku dalam meracik dan menyalurkan narkoba sudah berubah dan lebih meningkat lagi. “Peredaran narkoba sekarang sudah tidak lagi di tempat-tempat hiburan malam seperti tempat karaoke, pub atau diskotik, melainkan di tempat-tempat khusus, seperti kamar apartemen atau tempat kosan, sehingga tidak mudah untuk diketahui,” ungkap Iskandar.

Begitu pula dengan tempat produksinya, sekarang para pelaku memilih tempat-tempat yang lebih tersembunyi. “Kalau dulu narkoba ada yang diproduksi besar-besar di sebuah gudang atau pabrik seperti yang pernah terungkap di Tangerang, nah sekarang ini, para pelaku meracik dan memproduksi narkoba di tempat-tempat khusus seperi di laboratorium pribadi, kamar apartemen atau kamar kosan,” jelasnya.

Apalagi sekarang, BNN menemukan sejumlah narkoba jenis baru yang telah masuk ke Indonesia. “Ada 250 jenis narkoba baru yang beredar di dunia saat ini, 36 diantaranya telah masuk ke Indonesia, di Jabar sendiri ada narkoba jenis baru tapi belum begitu banyak, seperti sabu-sabu tapi jenisnya baru lagi, dan banyak jenis narkoba lainnya yang belum tercantum dalam UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” jelasnya.

Parahnya lagi, kata dia, peredaran narkoba jenis baru itu, saat ini bukan hanya dalam bentuk serbuk atau obat-obatan. “Narkoba jenis baru ini ada yang berbentuk bahan sintetis berupa tisue atau prangko, ada pula yang berbentuk cairan seperti air mineral atau disimpan dalam kemasan mie gelas. Jadi tidak gampang untuk mengungkap peredaran narkoba ini, karena para pelaku cukup lihai untuk mengelabui petugas maupun konsumen yang secara tidak sadar mereka telah menggunakan narkoba dengan modus baru ini,” jelasnya.

Nah di 2016 nanti, lanjut Iskandar, pihak BNNP Jabar akan lebih fokus untuk menekan jumlah konsumen narkoba, melalui upaya pencegahan. “Ke depan kita akan telusuri peredaran narkoba di tempat-tempat tertutup seperti apotek, toko obat, selain itu upaya pencegahan di kalangan generasi muda terutama anak-anak, salah satunya melalui kegiatan di kwarcab-kwarcab Pramuka se Jabar,” jelasnya.

Bahkan, menurut Iskandar, pihaknya telah bekerja sama dengan Pemprov Jabar dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan membuat aksi rencana daerah yang disosialisasikan di masing-masing SKPD. “Misalnya di Dinas Pertanian ada sosialisasi kepada para petani agar tidak menanam tanaman terlarang seperti ganja,” paparnya.

Terkait korban narkoba yang telah ditangani, Iskandar menambahkan, BNNP Jabar ke depan akan melakukan kegiatan pasca rehabilitasi korban narkoba dengan menyediakan program-program pendampingan bagi mereka. “Penanganan masalah narkoba tidak cukup oleh BNN saja tapi butuh kepedulian semua pihak, termasuk masyarakat agar turut serta mengawasi lingkungan, keluarga dan anak-anak, jika ada temuan kasus-kasus narkoba agar segera menghubungi BNNP Jabar melalui call center 022-87772400 atau telepon ke 0227203765
serta email [email protected],” pungkas Iskandar.

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), sepanjang 2015 BNN telah mengungkap 102 kasus Narkotika dan TPPU yang merupakan sindikat jaringan nasional dan internasional, dimana sebanyak 82 kasus telah P21. Kasus-kasus yang telah diungkap tersebut melibatkan 202 tersangka yang terdiri dari 174 WNI dan 28 WNA.
Selain itu, pada tahun ini BNN juga menemukan 2 jenis zat baru (new psychoactive substances) yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon. Sehingga total NPS yang telah ditemukan BNN hingga akhir tahun 2015 yakni sebanyak 37 jenis, yang dapat dilihat selengkapnya di
www.bnn.go.id.
BNN melakukan penindakan tanpa pandang bulu, baik pria, wanita, warga negara Indonesia, warga negara asing, karyawan, mahasiswa, oknum aparat yang terbukti terkait dalam kasus Narkotika. Hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan yang tegas terhadap
oknum yang terbukti terlibat kasus peredaran gelap Narkotika, yang saat ini sedang menjalani proses hukum dan kode etik. BNN juga tidak segan-segan menggunakan senjata untuk penegakan hukum dalam memerangi para kurir dan bandar. Kesungguhan BNN dalam
menghentikan penyelundupan serta peredaran gelap Narkotika diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan memberikan sanksi hukuman yang seberat-beratnya terhadap para tersangka, termasuk dalam penetapan hukuman mati.
Seiring dengan gencarnya pemberantasan, BNN juga terus berupaya melakukan pencegahan dan pemulihkan bagi para pecandu dan penyalah guna dari ketergantungannya terhadap Narkotika. BNN menyediakan balai besar (Babes) rehabilitasi sebagai media dalam
proses penyembuhan dan pemulihan pecandu dan penyalah guna Narkotika. (nto)

Loading...

loading...

Feeds

Sosok Habib Rizieq di Mata UAS

POJOKBANDUNG.com – Ustadz Abdull Somad (UAS) memberikan pandangannya terhadap sosok Habib Rizieq Shihab. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu …