Duh…Tarif Dasar Listrik Naik, Pelaku UMKM Merugi

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, SOREANG– Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada golongan pelanggan 1.300 Volt Ampere (VA) ke atas, menyebabkan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung rugi. Potensi kerugian yang dialami mereka mencapai 15 persen.


Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bandung bidang UMKM dan Perbankan, Yus Hermansyah menuturkan, dampak kenaikan TDL ini memang sangat signifikan terhadap keberlangsungan pelaku UMKM.

Apalagi, ia mengakui, banyak pelaku UMKM yang termasuk pelanggan PLN golongan tersebut. “Ini menambah beban berat bagi UMKM. Bagaimana ini,” tutur Yus, Jumat (11/12).

Terlebih, bunga bank saat ini tergolong sangat tinggi seiring dengan keadaan ekonomi nasional yang masih melemah. Tak hanya itu, menurut Yus, serapan anggaran dalam APBD dan juga APBN pun tergolong kurang. Dengan kondisi tersebut dan ditambah naiknya tarif, beban UMKM menjadi bertambah, belumlagi permasalahan daya beli Masyarakat yang melemah.

Akibat kondisi ini, beberapa usaha kecil harus putar otak demi menjaga produksi usahanya. Yus mencontohkan, usaha kecil yang memproduksi tahu-tempe, harus memperkecil ukuran tahu-tempenya agar tetap memperoleh keuntungan meski hanya sedikit.

Selain lewat pengecilan ukuran produknya, beberapa UMKM juga ada yang mengantisipasinya dengan mengurangi jumlah produksinya.

“Minimal kan kalau produksi makanan, seperti tahu-tempe, pasti kan diperkecil ukurannya. Dampaknya ke situ,” ujar dia.

Dengan kondisi tersebut, keuntungan juga menjadi berkurang smapai 15 persen. Sedangkan, di bidang usaha pakaian maupun konveksi, kebanyakan pelaku UMKM mengantisipasinya dengan menaikan harga satuannya.

“Kalau ke pakaian otomatis harus dinaikan harganya. Biasanya seperti itu mengakalinya,”ucapnya.

Yus juga menjelaskan, rata-rata omset dari usaha kecil yang bergerak di bidang makanan, di Kabupaten Bandung, dalam sehari itu bisa memperoleh Rp 300 sampai Rp 400 ribu. Sejak kenaikan TDL pada awal Desember ini, omset para pelaku usaha kecil tersebut menurun sampai 15 persen. Kebanyakan pelaku usaha kecil ini, yaitu seperti penjual es kelapa muda, soto betawi, kue-kue dan makanan kecil lainnya.

“Nah ini yakin 15 persen bakal berkurang. Termasuk usaha kecil ayam potong juga. Jadi semuanya berdampak dengan naiknya TDL ini,” ujar dia.

Menurut Yus, kenaikan TDL ini tentu tidak memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha kecil. Momen kenaikannya pun dinilai kurang tepat mengingat situasi ekonomi nasional masih dalam keadaan belum stabil.

Semestinya pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini terlebih dahulu mementingkan efisiensi ketimbang menaikan TDL. PLN sendiri masih banyak memiliki kelemahan di sana-sini.

“Misalkan dalam hal pengerjaan jaringan. Terus juga untuk karyawan juga masih banyak karyawan yang ‘bocor’ sana sini,” tutur dia.

Selain itu, Yus juga menyebut pemadaman listrik yang dilakukan PLN itu cenderung seenaknya sehingga malah merugikan pelaku UMKM

“Misal kalau pemerintah madamin listrik itu seenaknya. Otomatis bagi pengusahha kecil itu keganggu. Kalau yang kecil tukang jus kan pakai listrik, setengah hari saja listrik padam otomatis rugi,” kata dia.

Yus menilai PLN mesti menyeimbangkan antara pelayanan dengan efiensi jaringan di lapangan. Lanjut dia, harus seimbang juga antara hak dan kewajiban. Apalagi, ada denda yang diberlakukan jika telat bayar ke PLN.

Saat ini, di Kabupaten Bandung terdapat total 4.800 usaha kecil yang terdaftar di Kadin Kabupaten Bandung. Jenis usahanya beragam. Ada yang di kuliner, konveksi, dan lainnya. Tapi yang paling banyak adalah kuliner.

Pada beberapa waktu lalu, tepatnya pada 1 Desember, PLN resmi menaikan TDL. Namun, bagi Direktur Utama PLN Sofyan Basyir, itu sebenarnya bukan merupakan kenaikan TDL, melainkan penyesuaian harga TDL khusus untuk pelanggan PLN pada 1.300 VA ke atas.

Penyesuaian tarif ini berpatokan pada inflasi, nilai kurs rupiah terhadap dolar AS, dan harga bahan bakar minyak. Pelanggan di golongan daya 1.300 VA dan 2.200 VA ditetapkan menjadi Rp 1.509,38 per kilowatt hour (kwh) dari sebelummnya Rp 1.352 per kwh.

“Ini bukan kenaikan tarif, hanya penyesuaian harga dengan mengacu pada tiga indikator itu,” tutur dia. (mld)

Loading...

loading...

Feeds