Ini yang Menyebabkan Warga Cieunteung Masih Bertahan

ilustrasi

ilustrasi

 


POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH – Dalam dua pekan terakhir, hujan mulai turun dengan intensitas cukup tinggi. Selama itu, beberapa kali, Kampung Cieunteung Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung tergenang banjir dengan ketinggian antara 20-60 sentimeter. “Beberapa kali banjir, tapi ini masih permulaan,”tutur salah seorang warga Kampung Cieunteung, Diding Rasidi, Jumat (27/11).
Disebutkannya, banjir yang menggenang dalam dua pekan terakhir merupakan air hujan yang menggenang, sehingga genangannya hanya terjadi dalam beberapa jam saja. Disebutkannya, jika hujan turun sore hari,maka air akan menggenang Cieunteung setinggi beberapa puluh sentimeter, namun pada malam harinya akan surut kembali.

“Sekarang mah masih bertahan di rumah, biasanya pada puncak musim hujan air dari Citarum akan meluap dan surutnya lama, kami baru mengungsi,”ungkapnya.
Untuk mengatasi banjir Bandung Selatan, Pemerintah sebenarnya berencana membeskan pemukiman warga di Kampung Cieunteung, namun wacana tersebut sampai saat ini belum juga terealisasi. “Pengukuran sudah ada, tapi belum juga ada pembebasan,”katanya.

Diding mengakui, persoalan pembebasan lahan ini masih bermasalah di harga. Harga yang ditawarkan pemerintah dan yang diminta warga masih belum cocok. Pada 2009 lalu, kata dia, memang sudah ada sekitar 20 rumah yang dibebaskan lahannya. Saat itu, tanah dengan bangunannya itu dibeli dengan harga Rp 1,5 juta per meter. Sedangkan, kalau tanah saja, itu dihargai Rp Rp 4,5 juta per tumbaknya. Waktu itu, ada warga yang menolak dan ada yang menerima.

Kalau untuk sekarang ini, ujar Diding, sebetulnya warga sangat ingin tanahnya dibeli dengan harga yang saat ini. Harapannya, kata dia, tanah dengan bangunan itu bisa dibayarkan pemerintah dengan harga Rp 2,5 juta per meter. Sementara kalau tanah saja, warga inginnya Rp 10 juta per tumbak. “Sebetulnya warga juga sudah enggak sabar. Pengen cepat-cepat dibeli, tapi harus sesuai dengan keinginan warga juga,” ucap dia.

Diding pun mengaku sudah sangat bosan dengan kondisi Cienteung yang terus banjir dan tidak berujung pada solusi. Tiap kali ada wartawan yang datang meliput ke kampung tersebut, ia selalu mengutarakan harapan-harapannya kepada pemerintah. Tapi tetap saja pemerintah tampak abai.

“Kalau dibilang sudah bosan, ya bosan. Sudah beberapa kali diutarakan. Wartawan juga sudah banyak yang nanya. Kalau betul-betul pemerintah berpihak kepada rakyat, enggak mungkin seperti ini kan,” kata dia.

Kalau pun ada bantuan berupa perahu dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, tetap saja akan sulit membantu mengevakuasi warga. Sebab, Diding dan masih banyak warga lainnya yang tinggal di dalam gang-gang yang tentunya sulit dimasuki perahu.

Warga Cieunteung lainnya, Nur pun mengaku bingung tak tahu harus mengungsi ke mana nantinya jika Cieunteung banjir parah. Apalagi, sepengetahuan dia, kantor kelurahan yang biasa dijadikan tempat mengungsi akan dijadikan tempat pemilihan pada Pilkada Kabupaten Bandung 2015.

Warga Cieunteung yang lain, Dayat menuturkan, dahulu, sekitar 1980-an, kampung Cieunteung memang sudah selalu kebanjiran. “Dari tahun 1986 sudah banjir, pas Persib jadi juara pertama.

Peristiwa banjir terparah yang dirasakan Dayat, pada 2009, 2011, 2012, 2013. Banjir paling dasyat pada 2009. Sebab, ia bersama warga lain harus mengungsi selama delapan bulan. Tempat pengungsiannya, ada yang di kantor Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan di kantor kelurahan Baleendah serta gedung juang. Tiga tempat yang masih berlokasi di Baleendah ini jadi langganan tempat pengungsian bagi warga Cieunteung yang terkena dampak banjir.

Warga pun sempat ada yang mengungsi di rusunawa di belakang kantor kecamatan Baleendah saat itu. Mengungsi di rusunawa tergolong cukup nyaman ketimbang di kantor kelurahan, ataupun yang lainnya. Karena, Dayat tidak harus mengantre mandi sejak pukul 05.00 WIB subuh.

Makanya, bagi Dayat, meski di rusunawa itu tidak ada air, tapi lebih nyaman dijadikan tempat untuk mengungsi. Tidak adanya air di rusunawa ini karena warga tidak bayar sewa kontraknya. “Kalau kita bayar mah baru ada airnya,” ujar dia. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

Gandeng LBH Gerakan Pemuda Anshor

POJOKBANDUNG.com, CIMANGGUNG – Untuk melindungi warga karang taruna dan masyarakat Cimanggung yang berurusan dengan masalah hukum, Forum Pengurus Karang Taruna …