Kasubdit Intel: Terorisme ISIS Berkembang Cepat dan Nyaris Terbuka

pasukan ISIS

pasukan ISIS


POJOKBANDUNG.com, CILEUNYI– Terorisme kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berkembang sangat cepat dan nyaris terbuka. Demikian dikatakan oleh Kasubdit Intel Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Kombes Pol Toriq Triyono.

Bahkan, perkembanhgan ISIS bisa dipantau melalui media online. Sehingga, diperlukan pemahaman kepada masyarakat supaya tidak terpengaruh oleh faham terorisme berkedok agama.

“Perlu kerjasama dari para pemuka agama dan pesantren untuk mencegah meluasnya faham radikalisme agama seperti ISIS di Masyarakat,” tutur Torik ketika diwawancara selepas acara Dialog sosialisasi pencegahan paham radikal, terorisme dan ISIS dilaksanakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerjasama dengan BNPT di Ponpes Al-Jawami, Cileunyi Kabupaten Bandung, Sabtu (21/11).

Dari berbagai kasus yang ditemukan, selain menyebarkan faham radikal, dalam merekrut anggotanya, ISIS banyak memberikanjanji seperti jabatan dan gaji besar di Syria.

“Banyak orang yang terbuai dengan janji-janji mereka (ISIS),”ucapnya.

Banyak juga dari masyarakat yang terbuai sampai pergi ke Syria merasa kecewa, karena janji yang diberikan tidak sesuai harapan, sehingga mereka kembali pulang ke Tanah Air.

Namun, tidak sedikit juga warga Masyarakat yang terlanjur masuk dan tidak bisa pulang. Saat ini, terdapat sejumlah warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di syria dan 15 diantaranya sudah meninggal.

“Akibat ISIS, sudah ada 12 orang bunuh diri di Indonesia, ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu dibentengi supaya tidak ada lagi orang yang bergabung dengan mereka,”ujarnya.

Hal yang sama juga dikakatan oleh Pengurus PBNU, Cucun Ahmad Syamsurijal. Saat ini, terorisme berkedok agama sudah masuk dalam bahaya laten, sehingga perlu dilakukan langkah pencegahan.

“Kami di NU sudah berkomitmen untuk mencgah paham terorisme dan radikal Islam,”ujarnya.

Dengan penduduk beragama Islam terbesar, Indonesia menjadi sasaran empuk paham-paham radikal. Kerjasama antar lini terutama pemuka-pemuka agama diperlukan untuk mecegah menjamurna islam radikal di indonesia.

Para pemuka agama, kiyai, ulama, ajengan serta kader Nahdlatul Ulama yang hadir tersebut untuk mendapatkan informasi yang sebanar-benarnya tentang bahaya terorisme yang berkembang saat ini.

“Mereka juga diharapkan menjadi corong untuk mensosialisasikan bahaya paham radikalisme dan terorisme tersebut. Dengan motif apapun, tujuan apapun, yang namana terorisme tak mewakili islam. Mereka (pelaku terorisme) hanya mencatut nama islam,” ucapnya.

Ia pun berharap para kader nahdliyin dapat merapatkan barisan untuk menghadang gejolak yang terjadi.

(mld)

Loading...

loading...

Feeds