Perempuan Miskin di Tiga Kabupaten Ini, Diberi Inovasi

jumpers program inovasi perempuan miskin

jumpers program inovasi perempuan miskin

 


POJOKBANDUNG.com, JAKARTA–Sejak Januari 2015, Konsorsium Global Concern dan KOPEL Indonesia (Konsorsium GCK) dengan dukungan Project MAMPU-AusAID telah melaksanakan Program Inovasi Perempuan Miskin untuk Penguatan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Alor, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Manggarai Timur. Program ini juga mengusung konsep Desa Ramah Perempuan yang telah diujicoba di enam desa di tiga kabupaten tersebut.

Konsorsium GCK untuk membawa pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan program tersebut ke tingkat yang lebih luas. Tujuannya, untuk memberi masukan pada para pengambil kebijakan di tingkat nasional terkait konsep Desa Ramah Perempuan dan Inovasi Perempuan Miskin dalam kebijakan penanggulangan kemiskinan.

Terkait itu, Konsorsium GCK akan mengadakan diskusi nasional dengan tema “Bergerak Menuju Satu Digit : Inspirasi Desa Ramah Perempuan dan Inovasi Perempuan Miskin Untuk Penanggulangan Kemiskinan”. Kegiatan ini akan dihadiri pemerintah daerah, anggota legislatif, pemerintah nasional (melalui kementerian terkait), akademisi, praktisi LSM, pekerja media dan lembaga donor. Diskusi Nasional ini akan dilaksanakan pada Senin 23 November 2015, di Swiss Belhotel Mangga Besar.

Untuk membicarakan agenda tersebut, Konsorsium menggelar Temu Media yang dihadiri berbagai media massa. Selain dari konsorsium, acara ini dihadiri Dr dr Hanibal, Direktur Pelayanan Dasar, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi yang digelar di Resto Pulau Dua Senayan Jakarta.

Dalam paparannya, Hanibal menyampaikan respon yang sangat positif terhadap program konsorsium khususnya mengenai konsep penerapan Desa Ramah Perempuan. Hanibal menekankan pentingnya pemerintah memerhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan kebutuhan perempuan terutama menyangkut pelayanan dasar di bidang kesehatan.

‘’Harus diakui keberadaan perempuan di desa masih sangat potensial, karena jumlahnya yang cukup dominan,’’ katanya.

Hanibal juga memberikan penekanan pada upaya mendorong kemandirian desa, melalui otonomi desa yang memberikan keleluasaan kepada pihak desa untuk mengembangkan potensi desanya masing-masing. Hal lain yang penting dipahami ketika berbicara mengenai kebijakan menyangkut desa adalah faktor perbedaan karakteristik desa di seluruh tanah air.

Hanibal mendukung dan berharap setiap kebijakan di level atas yang berimbas ke masyarakat desa, sejogjanya mempertimbangkan kearifan local yang berkembang di masing-masing daerah.

Sementara, Direktur Konsorsium Angel Manembu mengaku sudah melakukan pengawalan program hampir setahun. Program ini dilandasi fakta masih tingginya angka kemiskinan Indonesia meski sudah cukup banyak program penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan. Semua program baik dari pemerintah, provinsi dan kabupaten kota sudah memberikan kontribusi untuk penanggulangan kemiskinan. Namun kiranya perlu dipikirkan bagaimana cara agar kemiskinan menurun dengan cepat.

‘’Kami memulai dengan perempuan miskin , karena perempuan miskin merupakan pihak yang paling tidak mau keluarganya menjadi susah hidupnya. Mereka yang dengan keterbatasannya kenapa bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana? Ibu yang lahir di Pulau dengan tujuh anaknya, pulau tanpa air dan tak pernah dikunjungi dokter, tetapi semua anaknya selamat.

Mengapa? Kita jarang mau belajar dari perempuan miskin. Mereka lebih tepat sebagai penerima bantuan, tapi tidak pernah diposisikan sebagai pemberi inspirasi, terlebih ketika persoalan mereka dan masyarakatnya bisa ada jalan keluarnya,’’ kata Angel.

Dalam pencermatan di lapangan, ternyata ditemukan adanya praktek-praktek cerdas dari perempuan-perempuan miskin untuk menjawab persoalan yang dihadapi. Angel kemudian memaparkan fakta adanya perempuan miskin yang bisa membuat posyandu sederhana dan sampai 5 tahun terakhir tidak ada ibu melahirkan, bayi dan balita yang meninggal. Adapula perempuan yang menjadi peneliti dan mempunyai 96 warna alami untuk kain tenun di desa tersebut.

Di tempat lain ditemukan ada yang bisa menuntaskan gisi buruk di dusunnya sendiri. ‘’Kami berharap dengan mendokumentasikan dan mendesiminasikan cerita-cerita inspiratif dari beragam perempuan miskin, yang pastinya banyak juga di tempat lain, bisa memperkuat program penanggulangan kemiskinan pemerintah dengan memfasilitasi dan membagikan cerita-cerita dengan berbagai cara di berbagai media, agar bisa menyebarkan inspirasi. Praktek cerdasperempuan miskin ini dengan beragam cara sudah dipraktekan oleh mereka sendiri, tanpa kelembagaan yang canggih ataupun biaya yang tinggi,’’ tandasnya.

Akhirnya, Senior Program Konsorsium Mary Alimsyah memberikan kesimpulan bahwa pandangan kita terhadap orang miskin harus diubah. ‘’Mereka jangan dipandang sebagai pihak yang selalu dijadikan objek, harus diberikan uang dan subsidi lainnya. Pada kenyataannya, mereka bukan butuh itu, tapi yang dibutuhkan adalah akses untuk berkembang, pemberian informasi, difasilitasidan dibuka ruang untuk memasarkan hasil produk mereka, dan tentu saja pemberian pengetahuan dan keterampilan justru lebih membantu dibanding pemberian materi,’’ paparnya. (*)

Loading...

loading...

Feeds

Belajar Madu di Kedai Lebah

POJOKBANDUNG.com, RANCABALI – Tak hanya menyiapkan sajian madu asli, Kedai Lebah di Jalan Raya Ciwidey-Rancabali Kabupaten Bandung juga memberikan edukasi …

DPRD Jabar Imbau Ponpes Taati Prokes

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketua Fraksi PKB DPRD Jabar M. Sidkon Djampi mengimbau para santri dan pengajarnya taati protokol kesehatan Covid-19. …

Kenaikan Sanksi Prokes Terbentur Pergub

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penerapan kenaikan sanksi denda untuk pelanggaran protokol kesehatan (prokes) sulit dilakukan. Musababnya, realisasi sanksi tersebut harus melakukan …