Terbanyak di Jabar, Pernikahan Dini di KBB Capai 900 Pasangan per Tahun

pernikahan dini

pernikahan dini

POJOKBANDUNG.com, KBB–Dalam mencapai Program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Bandung Barat, Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Bandung Barat (KBB), memberikan Pelatihan Teknik Advokasi dan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Bagi Kades dan Tokoh Masyarakat di lembang, Kamis (12/11).


Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Bandung Barat Asep Ilyas menuturkan, Bukan hanya Keluarga Berencana (KB) yang disosialisasikan, tetapi juga sejumlah faktor penyebab peningkatan penduduk atau Permasalahan Keluarag, seperti pencegahaan terhadap, perkawinan dini, Tingkat Perceraian, Kekerasaan Dalam Rumah Tangga, dan aborsi.

Bukan hanya kontrasepsi, pengendalian kependudukan bulan hanya alat kontrasepsi, tapi banyak faktor yang mempergaruhi jumlah kelahiran, maka dari itu kita memberikan pengetahuan terhadap Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat agar dapat memberikan pengertian terhadap masyarakat luas,” kata Asep Ilyas di sela-sela kegiatan “Pelatihan Teknik Advokasi dan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Bagi Kades dan Tokoh Masyarakat” di Lembang, Kamis (12/11).

Selain itu dirinya mengungkapkan, Bahwa angka pernikahan usia dini di Kabupaten Bandung Barat masih tinggi dimana setiap tahunnya rata-rata 900 pasangan menikah dalam usia masih muda. Pernikahan di usia muda paling menonjol terjadi di wilayah Selatan, Kabupaten Bandung Barat.

“Hampir setiap tahun angka pernikahan dini di kisaran 900-an pasangan. Itu menjadi yang terbanyak di Jawa Barat, makanya ini menjadi perhatian dari pemerintah di dalam mengejar Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP),” ujarnya.

Dia menambakan, yang menjadi perhatian pemerintah dalam pernikahan usia dini adalah perempuan tidak pada laki-lakinya. Dimana batas usia perempuan yang masuk kategori dini disaat menikah di bawah usia 18 tahun.

“Kita tidak melihat sisi laki-lakinya sebagai patokan, tapi usia perempuan saat menikahnya. Sekalipun laki-lakinya berusia di atas 30 tahun tapi kalau perempuannya di bawah 18 tahun tetap masuk kategori pernikahan dini,” ujarnya.

Menurutnya, kenapa perempuan yang dijadikan tolok ukur, karena berkaitan erat dengan kematangan alat reproduksi. “Perempuan yang hamil diusia muda sangat beresiko, baik terhadap keselamatan ibu dan bayi dalam kandungannya,” ungkapnya.

Masih tingginya angka pernikahan usia dini, lanjut Asep sangat berkaitan erat dengan faktor budaya, pendidikan, ekonomi, kejiwaan, dan tambahan kemajuan teknologi internet yang sangat mudah diakses.

“Pengaruh teknologi juga ikut menyumbang terjadinya pernikahan dini, kemudahan mengakses tayangan berbau pornografi membuat kaum muda terpengaruh. Sampai pada akhirnya melakukan tindakan tak pantas, hamil sebelum menikah. Karena hamil itulah akhirnya dinikahkan,” tandasnya.

Selain itu upaya yang dilakukan pemerintah di dalam menekan angka pernikahan usia dini, ialah dengan lebih lebih mengaktifkan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) baik yang ada di sekolah, masayarakat, maupun pesantren.

Dirinya mengatakan, kedepan BP3AKB bekerja dengan Kantor Kementrian Agama (Kemenag) untuk lebih menghidupkan Badan Penasehat pembinaan Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) yang ada disetiap kantor Urusan Agama (KUA). (bie)

Loading...

loading...

Feeds