Kebanyakan PNS Perempuan di Kabupaten Bandung Gugat Cerai

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Perceraian di kalangan Pegawai Negeri Sipil hingga kini masih terus terjadi. Kebanyakan PNS yang menggugat cerai, yakni perempuan. Faktor ketidakpuasan finansial terhadap suami menjadi penyebab utama perceraian.


Wakil Panitera Pengadilan Agama Cimahi, Dedeng menuturkan, rata-rata terdapat pengadilan yang meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi itu menerima dua kasus perceraian dalam sebulan yang diajukan oleh PNS.

“Tiap bulan itu selalu ada PNS perempuan yang menggugat cerai suaminya,” ujar Dedeng di Pengadilan Agama Cimahi Kabupaten Bandung, Kamis (12/11/2015).

Bahkan dalam sebulan, ada saja PNS yang mengajukan konsultasi soal kondisi di rumah tangganya. Mereka datang untuk meminta pandangan bagaimana sebaiknya atau seharusnya saat menghadapi rintangan di lingkup keluarganya.

“Ada juga sebelumnya mereka konsultasi dulu. Minta pandangan bagaimana baiknya,” kata dia.

Faktor penyebab perceraian itu sendiri yakni karena tidak adanya pertanggungjawaban dari pihak suami untuk memenuhi kebutuhan baik itu kebutuhan finansial ataupun psikologis. Selain itu, juga ada faktor penyebab berupa perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak suami.

“Biasanya karena tidak ada pertanggungjawaban dari suami, atau karena tergugatnya (suami) itu melakukan komunikasi dengan pihak ketiga,” tutur dia.

Tak hanya itu, terkadang perceraian juga disebabkan oleh adanya intervensi dari pihak luar. Misalnya orang tua dari salah satu pihak, suami ataupun istri, ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Sehingga, kadang kala itu menimbulkan dorongan tersendiri untuk membuat keputusan cerai terhadap pasangannya.

Terkait faktor ekonomi yang menjadi penyebab perceraian, biasanya faktor tersebut sering timbul karena ada rasa ketidakpuasan terhadap total pendapatan yang diterima. Sebab, di sisi lain, ada tuntutan yang harus dipenuhi, misalnya untuk membayar cicilan rumah, dan untuk biaya kebutuhan anak.

“Jadi mereka merasa tidak cukup dengan itu (gaji). Atau suami misalnya enggak ngasih,” kata dia.

Bahkan, sering muncul kasus di mana suami ikut nimbrung dengan pendapatan yang diperoleh istrinya yang berprofesi sebagai PNS. Sedangkan, suaminya sendiri pengangguran, atau, gaji yang diterima suami lebih kecil ketimbang istri.

Perceraian tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga yang salah satunya berprofesi sebagai PNS, tapi juga bahkan terjadi di lingkungan yang suami-istrinya sama-sama menjadi PNS. Untuk kasus perceraian seperti ini, itu disebabkan di antaranya karena suami yang dinilai kurang memberikan perhatian kepada pihak istri.

Sementara itu, menurut Konselor Keluarga Cahyadi Takariawan, jika suami dan istri sama-sama memiliki kemapanan masing-masing, tentu akan memunculkan ego dari kedua pihak. Karena, suami ataupun istri sama-sama memiliki kemandiran dalam hal finansial. Akibatnya, kondisi tersebut malah mengikis rasa saling bergantung di antara suami-istri.

“Padahal yang namanya suami-istri mestinya ada sisi di mana mereka itu saling bergantung,” tutur dia.

Cahyadi menambahkan, ketika suami-istri itu masing-masing mendapatkan kemudahan memperoleh finansial, maka timbul sikap kemandirian pada dua pihak itu. Keduanya mapan dan mampu menghidupi dirinya sendiri sehingga melupakan hubungan komunikasi yang sebenarnya perlu dijalain dengan baik.

Apalagi, jika misalnya gaji istri meningkat, sedangkan gaji suami tidak demikian, maka dalam kondisi tersebut istri akan merasa mampu untuk melakukan apapun karena ia merasa derajatnya saat itu berada di atas lebih tinggi ketimbang suami.

Padahal, meski keduanya memiliki kemapanan, komunikasi harus tetap dijaga. Tetap memberi perhatian satu sama lain dan juga tetap membina rasa ketergantungan di antara mereka. Sebab, ikatan pernikahan itu bisa menjadi sedemikian lemahnya jika salah satu pihak ada yang telah merasa mampu untuk menghidup dirinya sendiri.

“Karena tidak ada yang merasa bergantung sama sekali,” ujar dia.

Cahyadi mencontohkan, ada istri yang rasa independesninya itu tinggi, kemudian begitu suaminya tidak bisa memenuhi harapannya, istri kemungkinan akan berpikir kembali kenapa harus tetap hidup bersama suaminya itu.

Rasa saling bergantung itu, menurut Cahyadi, harus dituangkan dalam sikap di dalam rumah tangga. Seperti, ketika pasangan suami-istri harus mengambil satu keputusan, semestinya mereka saling bermusyawarah sebelum membuat keputusan. Ini perlu dilakukan karena satu keputusan itu pasti berpengaruh ke suami ataupun istri.

“Ketika mereka menghadapi satu keputusan tertentu, sikap mereka harus saling bergantung, di situlah letak musyawarah,” ujar dia.

Selain itu, soal pelayanan. Artinya, suami-istri harus saling memberikan pelayanan dalam bentuk apapun kepada pasangannya. Karena, ketika istri merasa sudah tidak memerlukan suami, bisa jadi dia menjadi enggan untuk memberikan pelayanan kepada suami.

Dia meencontohkan, bentuk pelayanan seperti menyajikan teh di pagi hari menjadi hilang. Begitupun sebaliknya, suami pun harus memberikan pelayanan dalam berbagai hal kepada istri.

Cahyadi juga mengkhawatirkan, terkadang gugatan perceraian itu mengabaikan posisi anak. Karena tingginya ego di salah satu pihak, suami ataupun istri, pemberian perhatian kepada anak dianggap hal yang sepele karena merasa bisa dirawatnya sendiri. Padahal, anak membutuhkan perhatian dari kasih sayang ibu dan ayahnya.

Dari data yang diperoleh, perceraian yang diajukan PNS perempuan kepada Pengadilan Agama Cimahi, pada 2013, yakni sebanyak 103 perkara. Sedangkan cerai talak, atau yang diajukan PNS laki-laki, yaitu sebanyak 56 perkara selama 2013.

Pada 2014, PA Cimahi sendiri menerima cerai gugat di kalangan PNS, atau cerai yang diajukan PNS perempuan, sebanyak 165 perkara. Sedangkan cerai talak di kalangan PNS itu sebanyak 128 kasus.

Kemudian, di tahun ini, dari Januari sampai September, kasus perceraian yang diajukan PNS perempuan sudah mencapai 140 lebih. Sedangkan, perceraian yang diajukan PNS laki-laki di waktu yang sama, jumlahnya sekitar 90 perkara. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

Ajak Masyarakat Pelihara Budaya Sunda

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mendukung penuh program “Saur Sepuh” yang diinisiasi oleh PGRI Kota …

Kerugian Bencana Capai Rp816 Juta

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI — Selama Januari hingga Februari 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat terdapat 23 kejadian bencana. …

Angin Kencang, Pohon Timpa Mobil

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Cijambe, Subang. Akibatnya bodi kendaraan pun ringsek. Peristiwa yang …

Dorong Bupati Rampingkan SOTK

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkab Subang dinilai terlalu gamuk sehingga pembuatan perencanaan dan penyusunan anggaran …

Bakal Punya Wadah Industri Kreatif

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan bertekad mewujudkan industri kreatif milenial. Gagasan itu rupanya tak main-main. Upaya …