Gusti Nurul, Putri Keraton yang Diperebutkan 4 Tokoh Besar

gusti nurul

gusti nurul

 


POJOKBANDUNG.com, SOLO– Gusti Nurul yang lahir pada 1921 merupakan buah pernikahan GKR Timur Mursudariyah dan HRH Mangkunegoro VII. Begitu lahir, orangtuanya memberi nama Gusti Raden Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani.

Masa pertumbuhan sang putri lebih banyak dihabiskan dibalik tembok keraton. Namun, Gusti Nurul yang menempuh pendidikan di sekolah Belanda, tak berpikiran kolot. Dia justru cenderung berpikir melampaui zamannya. Buktinya, sang putri hobi berkuda, selain berenang dan mahir main tenis. Soal hobinya berkuda, zaman itu amat ditabukan bagi seorang putri keraton.

Sebagai putri keraton, Gusti Nurul mahir menari. Kemahirannya menari membuat Ratu Belanda Wilhelmina mengundangnya untuk menari di pernikahan putinya, Juliana. Saat itu, dia menari dengan diiringi gamelan secara teleconference, yaitu musik gamelan Kanjut Mesem dimainkan di Solo sedangkan Gusti Nurul mendengarkan alunan gamelan melalui telepon dan menari di hadapan tamu undangan pernikahan. Karena sambungan telepon yang belum baik sang Ibu masih memberikan aba-aba secara langsung berupa ketukan-ketukan. Ratu Wilhelmina yang kagum pada Gusti Nurul memberinya gelar de bloem van Mangkunegaran atau kembang dari Mangkunegara.

Dengan berbagai kelebihannya itu, tak heran Gusti Nurul membuat takjub banyak tokoh republik saat itu. Sedikitnya, ada empat tokoh bangsa yang menjadi penggemar dan berlomba mendapatkan sang primadona. Sebut saja Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Pada saat itu Soekarno orang nomor satu di republik, Sultan HB IX orang nomor satu di Yogyakarta, Sutan Sjahrir perdana menteri dan Djatikusumo adalah panglima tentara (KSAD).

Saking menyenangi Gusti Nurul, suatu ketika Soekarno berhasil mengundangnya ke Istana Cipanas. Soekarno pun memanggil pelukis naturalis kesayangannya, Basuki Abdullah untuk melukis Gusti Nurul. Setelah jadi, lukisan itu dipajang di kamar kerja Presiden Soekarno di Cipanas.

Kendati diperebutkan, Gusti Nurul tak asal pilih pria yang akan menjadi pasangan hidupnya. Buktinya, dia tak suka tokoh politik karena dinilai terlalu banyak mengandung risiko. Gusti Nurul yang menolak poligami belum juga menemukan tambatan hatinya hingga usia 30 tahun. Tentu usia yang terlalu tua bagi para gadis di zaman itu.

Nah barulah pada 24 Maret 1951, sang putri menemukan pria idamannya. Namun, pria beruntung itu bukan seorang pembesar atau tokoh terpandang, melainkan seorang tentara. Dia adalah Surjo Sularso, seorang kolonel militer, sepupu dari Gusti Nurul sendiri.

Loading...

loading...

Feeds

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …