KBB Antisipasi Bencana Musim Hujan Tahun 2015 Ini

Warga bergotong royong membersihkan material lumpur yang memenuhi rumah di Kampung  Ciampel RT 05/RW 03 Ds. Ciampel, Kec. Padalarang, KBB.  Sejumlah desa di KBB, khususnya di wilayah Selatan KBB, mulai mengantisipasi bencana di musim hujan dengan berbagai cara.

Warga bergotong royong membersihkan material lumpur yang memenuhi rumah di Kampung Ciampel RT 05/RW 03 Ds. Ciampel, Kec. Padalarang, KBB. Sejumlah desa di KBB, khususnya di wilayah Selatan KBB, mulai mengantisipasi bencana di musim hujan dengan berbagai cara.

POJOKBANDUNG.com, SINDANGKERTA – Sejumlah desa di Kabupaten Bandung Barat (KBB), khususnya di wilayah Selatan KBB, mulai mengantisipasi bencana di musim hujan dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan penanaman pohon-pohon keras seperti Jati dan sejenisnya.
Kepala Desa Rancasenggang Kecamatan Sindangkerta KBB, Dadan Anwar Hamdani menuturkan, salah satu cara untuk meminimalisir bencana longsor yang kerap terjadi di desanya, yakni dengan menanami tanaman keras di tiap bebukitan yang rawan longsor.


“Karena letak desa yang memang berada di dataran tinggi dengan dikelilingi tebing-tebing tanah, karena ya di sini kebanyakan sering terjadi longsor. Antisipasi kita dengan penanaman pohon di tiap bukit. Pohon Albasiah, Jabon, Jati, dan tanaman keras yang lain,” ujar Dadan kepada wartawan, Minggu (8/11).

Menurut Dadan, beberapa kampung di desanya yang kerap terjadi longsor, yaitu Kampung Cipicung, Kampung Pasirbungul, dan Kampung Bojongloa yang paling rawan. Selain itu menurutnya, dengan penanaman tanaman keras, sudah sebulan terakhir pihak desa menggiatkan kegiatan-kegiatan layaknya kerja bakti.

Seperti, membersihkan selokan dan tanggul yang berada di sekitar pemukiman warga untuk melancarkan arus air hujan dan tidak terjadi pengendapan. “Kebanyakan longsor itu terjadi karena air yang tergenang, mampet, (dinding drainasenya) enggak kuat, terus longsor,” ujar dia.

Dadan pun telah mengaktifkan beberapa petugas dari Linmas dan warga lainnya, untuk mengantisipasi terjadinya bencana di musim hujan. “Gerakan-gerakan dari masyarakat sampai Linmas, sedanglan, jika terjadi bencana yang tergolong besar, kita akan bakal langsung menyampaikan laporan ke SKPD terkait,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Buninagara Kecamatan Sindangkerta Acep Hadiansah menuturkan hal senada. Desanya bakal menanami tanaman keras yang didapat melalui bantuan dari pihak Perhutani. “Kita bikin penanaman pohon, Kebetulan kita juga dapat bantuan dari Perhutani, untuk tanaman kayu-kayuan ini,” ujar dia.

Acep mengakui, penanaman pohon tersebut memang belum dilakukan. Namun, desa telah menyiapkan lahan-lahan yang akan ditanami itu. Seluruh kampung di desanya akan ditanami tanamn tersebut. Di semua kampung nanti pihaknya akan penanaman pohon.

“Ada beberapa kampung di desanya yang rawan sekali terjadi longsor. Di antaranya, Kampung Batulawang, Kampung Cibangoak, dan Kampung Cikoneng. Kampung Batulawang sempat mengalami bencana longsor pada Maret yang lalu,” sebutnya.

Bahkan, beberapa hari lalu, tepatnya pada Kamis (5/11) malam lalu, longsor lagi-lagi menimpa desa tersebut sehingga 15 rumah pun terkena dampaknya. Untungnya, longsor tersebut tidak terlalu fatal, dan tidak ada rumah yang rusak akibat longsor itu. “Yang rusak parah tidak ada. Hampir 15 rumah kena dampaknya tapi engga parah. Enggak sampai rusak. Masih bisa ditempatin (rumahnya),” tutur dia.

Akibat longsor tersebut, jalan raya arah Sindangkerta-Ciwidey pun tertutupi longsoran tanah sehingga pengguna jalan tidak bisa lewat. Setelah kejadian itu, petugas dari BPBD KBB, kepolisian, dan TNI-AD berdatangan untuk membantu menyingkirkan longsoran tanah yang menutupi jalan. “Ada dari BPBD, Kepolisian dan TNI, untuk membersihkan lahan yang terkena dampaknya,” ujar dia.

Menurut Acep, pemerintah KBB perlu membangun tembok penahan tanah agar tidak terjadi lagi longsor di wilayahnya. Sebab, saat ini, belum ada satupun tembok yang dibangun untuk menyanggah tingginya permukaan tanah di wilayah desa tersebut. “Ini harus dibangun TPT (tembok penahan tanah), karena di sini belum ada, makanya pemda harus menyediakan TPT,” tutur dia.

Acep menjelaskan, kontur permukaan tanah di desanya memang memiliki kemiringan yang cukup tinggi, 30 sampai 40 derajat. Jika musim hujan datang, selalu ada saja peristiwa longsor yang menimpa desanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rony Rudiana mengakui sering terjadi longsor saat musim hujan melanda KBB. Namun, saat ini sebanyak 50 anggota dari BPBD telah diterjunkan ke 16 kecamatan di KBB. Ini dilakukan untuk mencegah sekaligus mengantisipasi bencana yang berpotensi terjadi di daerah rawan longsor. Menurut dia, wilayah selatan KBB secara umum memiliki potensi terjadinya longsor.

Bupati Bandung Barat Abubakar mengaku telah berkoordinasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan antisipasi bencana jelang musim hujan. Menurut dia, dari sisi mitigasi bencana, dan prakiraan cuaca, sampai saat ini masih sulit diperkirakan.

Kata dia, karakter bencana di KBB memang berbeda ketimbang daerah lain. Perbedaan tersebut karena banyaknya patahan-patahan di beberapa wilayah di KBB, Lembang misalnya. Selain patahan, kontur permukaan tanahnya juga bebukitan. “Wilayah kita bebukitan. Hampir tiap kecamatan ini punya potensi bencana longsor,” ujar dia.

(bie)

Loading...

loading...

Feeds

Energi Postif Moonraker untuk Kemajuan Daerah

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Bukan lagi zamannya ugal-ugalan dijalanan. Apalagi melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Stigma negatif …