Warga KBB Tolak Raskin Berkutu dan Bau

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, KBB–Beras miskin (raskin) yang didistribusikan ke sejumlah desa di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) khususnya di wilayah selatan KBB, ditolak warga. Pasalnya, selama beberapa bulan terakhir raskin yang diterima warga dianggap tidak layak konsumsi karena berasnya sudah berkutu dan warnanya pun sudah kekuning-kuningan serta bau.


Salah seorang warga Desa Cikadu, Kecamatan Sindangkerta, Somantri (46), mengatakan warga sepakat untuk menolak raskin yang disalurkan kepada masyarakat. Menurut dia, raskin yang dikirim Bulog itu sudah tidak layak dikonsumsi manusia.

“Ini sudah terjadi dalam dalam bulan terakhir. Masa beras berkutu dikasihkan ke manusia. Jelas banyak warga menolak raskin busuk dan bau seperti itu,” kata Somantri kepada wartawan, kemarin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ani Mulyani (52), warga lainnya. Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir, raskin yang diterima masyarakat kualitasnya memang sangat buruk. Selain berwarna kuning dan berbau, di dalam beras juga terdapat banyak kutu yang menandakan raskin tersebut sudah lama dan tidak layak konsumsi.

Ia mengaku pernah mempertanyakan mengenai buruknya kualitas raskin yang diterimanya kepada pihak desa. Namun, kata Ani, pihak desa pun mengaku tidak tahu menahu dengan buruknya kualitas raskin karena beras tersebut diterima pihak desa dari pihak Bulog.

“Lihat saja nih, berasnya berkutu dan bau seperti ini, Ini beras bulan ini. Makanya banyak warga yang enggan membeli raskin meski harganya murah,” katanya.

Meski dirinya tergolong keluarga yang tidak mampu, kata dia, tapi bukan berarti ia harus mengonsumsi beras dengan kualitas jelek seperti itu. “Mungkin saya orang miskin, tapi kan enggak harus makan beras yang jelek gitu,” ujarnya dalam bahasa Sunda.

Salah seorang aparat Desa Cikadu yang enggan disebutkan namanya mengakui bila memang beras yang diterima Desa Cikadu kualitasnya sangat buruk. Bhakan, kata dia, kondisi beras seperti itu bukan hanya yang diterima pada bulan ini, melainkan juga terjadi pada bulan-bulan sebelumnya.

Dijelaskannya, Desa Cikadu setiap bulannya menerima jatah raskin sekitar tujuh ton untuk disalurkan ke 13 RW dan 47 RT di desa tersebut. Sebagian beras yang diteriam tersebut, kata dia, biasanya kualitasnya buruk sehingga sering dikeluhkan warga miskin yang hendak membeli raskin tersebut.

“Hampir tiap bulan kondisinya raskin memang selalu seperti ini (buruk). Makanya banyak warga yang protes. Bahkan bulan ini, banyak warga yang mentah-mentah menolak raskin karena berkutu dan bau,” kata pria tersebut.

Karena hampir tak ada warga yang membeli raskin kiriman Bulog tersebut, saat ini karung-karung beras terpaksa menumpuk di Kantor Desa. Meski keluhan sudah disampaikan, kata dia, pihak Bulog belum juga mengambil kembali raksin yang tak layak konsumsi tersebut.

“Selain kualitasnya yang buruk, warga juga sering protes karena berat tiap karungnya itu banyak yang kurang. Seharunya per karung 15 kilogram, tapi setelah dikilo ternyata hanya 13 kilo. Sering kurang dua hingga tiga kilo, keterlaluan,” ungkapnya.

Meski kualitas raskin di Desa Cikadu tak layak dikonsumsi, menurut dia, masih ada sejumlah warga yang tetap membelinya. Namun bukan untuk dimakan, melainkan diberikan kepada hewan ternaknya seperti ayam dan bebek. Sebagian lagi dijadikan sebagai campuran dengan beras kualitas baikl yang ada di pasaran .

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat, Ade Sudiana mengatakan pihaknya sudah menerima informasi mengenai buruknya kualitas raskin yang diterima warga di wilayah selatan Bandung Barat. Ade berjanji akan segera aberkoordinasi dan melaporkan hal tersebut kepada Bulog.

“Katanya akan segera diambil oleh Bulog. Kami akan koordinasi lagi dengan Bulog,” kata Ade Sudiana. (bie)

Feeds

Energi Postif Moonraker untuk Kemajuan Daerah

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Bukan lagi zamannya ugal-ugalan dijalanan. Apalagi melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Stigma negatif …