Citarum Terusak oleh Sampah

PENCEMARAN LINGKUNGAN: Setiap harinya tidak kurang 100 ton limbah domestik baik sampah rumah tangga, kotoran ternak dan kotoran manusia mencemari Sungai Citarum.

PENCEMARAN LINGKUNGAN: Setiap harinya tidak kurang 100 ton limbah domestik baik sampah rumah tangga, kotoran ternak dan kotoran manusia mencemari Sungai Citarum.

POJOKBANDUNG.com, Bandung– Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerapkan konsep ecovillage atau desa berbudaya lingkungan sebagai upaya dalam mengatasi persoalan di daerah aliran Sungai Citarum. Program ini dipilih dengan harapan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke sungai yang disebut terkotor se-dunia ini.


Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar Anang Sudharna mengatakan, sampah menjadi salah satu penyebab rusaknya Citarum. Jumlah sampah yang dibuang ke sungai tersebut mencapai lebih dari 500 ribu ton atau sekitar 15 ton per desa.

“Makanya kami berharap ecovillage ini bisa mengurangi sampah yang dibuang ke Citarum,” kata Anang di Gedung Sate, Bandung, Kamis (8/10/2015). Anang menjelaskan, saat ini terdapat 120 desa di sembilan kecamatan yang sudah menerapkan sistem tersebut.

Desa-desa tersebut tersebar di Kabupaten Bandung dan Sumedang. Dia optimistis, ecovillage akan menjadi motor gerakan Citarum Bestari karena membangun kesadaran perilaku dan komitmen masyarakat.

Mereka dilibatkan aktif dalam menjadi kelestarian lingkungan dengan mengolah sampah di tempatnya masing-masing. Konsep ecovillage ini pun mengusung pendekatan budaya sehingga diyakini lebih efektif dibanding pendekatan teknis yang selama ini sering gagal.

Namun, pihaknya menyadari betul untuk membangun nilai-nilai masyarakat ini akan memakan waktu yang tidak singkat. “Tidak bisa langsung jadi karena ini mengubah perilaku. Tapi kami yakin masyarakat Jabar bukan masyarakat yang jorok,” katanya.

Anang mengakui, konsep ecovillage ini membutuhkan dana yang cukup besar sehingga perlu mendapat dukungan dari swasta. Meski pemerintah tidak bisa menerima dana langsung dari swasta, pihaknya akan mengarahkan langsung bantuan tersebut ke desa-desa.

“Responsnya cukup positif. Banyak perusahaan yang mengontak untuk dibantu karena selama ini mereka kerepotan mengarahkan program CSR dan PKBL-nya,” kata Anang.

Kehadiran ecovillage juga mendorong pertumbuhan jumlah bank sampah yang kini mencapai 17 unit. Setiap bank sampah biasanya melayani lima desa.

Menurutnya, keberhasilan konsep ecovillage sudah mulai terlihat karena volume sampah sudah mulai turun sekitar 20-30 persen. “Kami menargetkan pada tahun 2017 sudah tidak ada lagi sampah di Citarum,” katanya.

Sementara itu, terkait limbah industri, pihaknya menerapkan imbal jasa dengan
membuat sarana dan prasana pengolahan limbah komunal. Saat ini sedang disusun langkah-langkah strategi pembuatan
pengolahan limbah komunal.

“Perda sudah ada, pergub-nya sedang
disusun. Di perda Nomor 1 Tahun 2012, ada aturan bagaimana pemerintah mengatur masalah limbah dengan berbagai opsi,” katanya.

Dengan adanya sarana pengolahan limbah komunal tersebut, maka industri akan ikut berpartisipasi dalam menjaga Citarum. “Nanti industri ditarik retribusi. Ada dasarnya, kita sangat hati-hati dalam hal itu, karena jangan sampai dianggap pungli,” kata Anang seraya menyebut pihaknya akan mengatur mengenai sistem penarifan.

(RadarBandung/agp)

Feeds