Firman Sebut Undang-undang Perlindungan Konsumen Masih Lemah

Seorang perawat sedang membantu membersihkan pasien yang sakit.

Seorang perawat sedang membantu membersihkan pasien yang sakit.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Undang-undang perlindungan konsumen masih lemah, khususnya dibidang kesehatan. Banyak praktik curang tidak pernah terungkap. Hal itu jelas merugikan baik materil ataupun imateril.

Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), Firman Turmantara angkat bicara terkait hal itu. Menurut dia, sejauh ini antara undang-undang perlindungan konsumen dan kesehatan belum jelas atau tumpang tindih. Imbasnya, perlindunganpun tidak jelas.

“Padahal pasien bisa dibilang (konsumen) dibidang kesehatan,” ucap Firman saat ditemui di Aston Braga Hotel, Bandung, Jumat (20/7/2018).

Jauh Firman melihat, kerugian yang dialami oleh pasien seperti malpraktek yang tidak bisa di ungkap ke ranah publik. Selian itu, kata dia,
kurangnya pemahaman ihwal hukum terkait hal tersebut lantaran kurangnya sosialisasi.

“Budaya sadar hukum di masyarakat saat ini belum optimal. Komsumen yang dirugikan pelaku usaha masih cukup banyak yang nerima. Padahal jika ada pelanggaran segera laporkan, kerugian materil dan non materil sangat banyak,” sebutnya.

“Tidak hanya masyarakat yang belum faham tapi pengusahanpun banyak yang tidak peduli hak konsumennya,” sambungnya.

Firman menyebut, pemerintah melihat sebelah mata tentang Undang-undang perlindungan konsumen. Contohnya saat kasus larangan beredar susu kental manis, kasus cacing dalam ikan makarel dan vaksin palsu yang bisa terbongkar setelah 13 tahun beroperasi.

“Nasib konsumen seakan dibiarkan,” ucapnya.

Firman meminta, konsumen harus cerdas dan kritis terhadap kerugian yang dialami. Ia juga menyarankan agar tidak segan untuk melaporkan kepada BPSK terkait segala pelanggaran yang mengakibatkan kerugian konsumen.

“Jika merasa di rugikan laporkan saja. Sertakan foto bukti kecurangan, walau itu nilainya kecil,” pungkasnya.

(ipn)

loading...

Feeds