Ternyata Suhu Dingin Tak Terkait Fenomena Aphelion

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof.Dr.Thomas Djamaluddin.Foto:Lapan

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof.Dr.Thomas Djamaluddin.Foto:Lapan

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Sejumlah pesan singkat yang beredar menyebutkan suhu dingin di hampir seluruh Pulau Jawa belakangan ini disebabkan fenomena Aphelion atau titik terjauh bumi dengan matahari. Tetapi ternyata suhu dingin yang saat ini terjadi, sama sekali tidak terkait dengan fenomena Aphelion.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof.Dr.Thomas Djamaluddin membenarkan bahwa banyak yang bertanya-tanya mengapa suhu di beberapa kota di Jawa menjadi lebih dingin. ’’Adakah hubungannya dengan Aphelion pada setiap bulan Juli?’’ katanya saat dihubungi, Jumat (6/7/2018).

Dengan tegas Thomas suhu dingin yang sekarang terjadi tidak ada hubungannya dengan Aphelion. Sebab perubahan jarak matahari ke bumi, tidak terlalu signifikan memengaruhi suhu permukaan bumi.

Lebih lanjut Thomas menuturkan suhu udara dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari. Dia mengatakan saat ini posisi matahari berada di belahan bumi bagian utara. Sehingga belahan bumi bagian selatan mengalami musim dingin. Termasuk di antaranya di Australia, saat ini mengalami musim dingin.

Posisi matahari juga memengaruhi tekanan udara. Ketika saat ini posisi matahari saat ini berada di belahan utara bumi, tekanan udara di belahan bumi selatan lebih tinggi dibanding belahan utara. Akibatnya angin bertiup dari selatan menuju utara.

Bertiupnya angin dari selatan ke utara ini juga mendorong awan bergerak ke utara menjauhi Indonesia. ’’Sehingga Indonesia mengalami musim kemarau,’’ katanya.

loading...

Feeds