Hadapi Bonus Demografi, BKKBN Perwakilan Jabar Siapkan Program KB

Kepala BKKBN Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Sukaryo Teguh Santoso. Foto:Nur Fidhiah Shabrina/pojokbandung

Kepala BKKBN Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Sukaryo Teguh Santoso. Foto:Nur Fidhiah Shabrina/pojokbandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Memperingati Hari Keluarga ke-25, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan wilayah Jawa Barat masih terus menggencarkan program Keluarga Berencana (KB) sebagai fokus utama dalam kependudukan.

Meski trend positif terus terjadi, namun program tersebut masih harus di sosialisasikan dengan sebaik mungkin karena masih ada tantangan yang dihadapi.

Kepala BKKBN Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Sukaryo Teguh Santoso, mengatakan angka fertilitas di Jawa Barat saat ini berada di angka 2,4 persen. Angka tersebut menurun setelah 8 tahun stagnant di 2,6 persen.

“Penurunan fertilitas disebabkan oleh 3 faktor, salah satunya adalah pola kawin. Sejak tahun 2002 angka pernikahan di bawah umur berada di 17,8 tahun, di tahun 2017 menjadi 20 tahun. Itu sedikitnya masyarakat sudah ada teredukasi mengenai dampak dari pernikahan dibawah umur,” ujarnya kepada Radar Bandung (grup pojokbandung) dalam Silaturahmi Idul Fitri 2018 Pengelola Program KKBPK se-Jawa Barat di Kantor Perwakilan BKKBN Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin (2/7/2018).

Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan memberikan ceramah. Nur Fidhiah Shabrina/pojokbandung

Ia juga melanjutkan, tidak mudah menurunkan angka fertilitas yang selama 8 tahun terakhir stagnan. Banyak hal yang dilakukan dalam mensosialisasikan tapi juga tidak lepas dari partisipasi dinas dan organisasi terkait. Masih ada tantangan yang dihadapi salah satunya, aspek kependudukan dan terkait bonus demografi.

“Jumlah penduduk di Jawa Barat sebanyak 48 juta. Dari 48 juta, 18,7 persen penduduk usia 9 tahun ke bawah. Harus benar dijamin kepenuhan kebutuhan gizi dan pola asuh yang baik,” sambungnya.

Selain itu sebesar 26,6 persen penduduk Jawa Barat berusia 10-24 tahun, tingkat remaja yang perlu pengawasan lebih dan 8,7 persen untuk usia 60 tahun ke atas.

Untuk mendampingi ketiga struktur tersebut, Teguh mengatakan, semua itu tidak bisa lepas dari peran keluarga. Kuncinya harus membekali setiap penduduk agar peduli dengan keluarganya.

Pentas seni ibu-ibu BKKBN perwakilan Jabar. Nur Fidhiah Shabrina/pojokbandung

Sedangkan tantangan lainnya yang harus di pahami adalah tentang bonus demografi. Disampaikan bila secara nasional, bonus demografi terjadi pada tahun 2020 sampai 2035 atau 15 tahun ke depan. Namun untuk Jawa Barat, hal tersebut bisa terjadi lebih cepat sebab faktor pertumbuhan yang masih tinggi dengan jumlah penduduk yang padat. Di perkirakan bonus demografi akan berlangsung lebih cepat yakni hanya 4 sampai 5 tahun.

“Untuk mengantisipasi bonus demografi yang terjadi, salah satu kuncinya adalah menghidupkan kembali program KB,” terangnya.

Teguh menambahkan, kedua tantangan itu menjadi isu kunci. Termasuk isu kependudukan, meliputi balita, remaja dan lansia. Dia berharap, hal tesebut menjadi perhatian pemangku jabatan ke depan.

(fid/pojokbandung)

 

loading...

Feeds