Dukungan Minoritas Dianggap Jatuhkan Popularitas Cagub

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Aksi dukung mendukung pasangan calon mengemuka selama berlangsungnya Pilgub Jabar 2018. Namun dukungan tersebut tidak seluruhnya direspon positif oleh pasangan calon dan tim suksesnya. Alih-alih menerima dengan baik sebaliknya mereka malah mengajukan bantahan dukungan.
Anggapan mereka, dukungan tersebut merupakan bagian dari black campaign untuk menurunkan popularitas.
Sebut saja pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum yang mendapat dukungan dari komunitas lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sementara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi meraih dukungan dari Paguyuban Paranormal Jabar.
Ridwan Kamil pun bereaksi keras. Wali Kota Bandung non aktif ini pun mengaku tak mampu berbuat apa-apa kalau mendapat dukungan dari komunitas tersebut.

“Saya tidak pernah menyetujui LGBT, semua yang dilarang Alquran, saya ikut melarang. Namun pertanyaannya agak repot, kalau ada yang mendukung masa dilarang? Tapi intinya saya tidak mendukung LGBT,” ujar Ridwan Kamil kepada wartawan.

Pria yang akrab disapa Emil ini menuding dukungan tersebut sebenarnya merupakan kampanye hitam untuk menyerang dia. Apalagi kaum LGBT tidak pernah secara terbuka mengemukakan suara politiknya.

“Sekarang saya nanya baik-baik, itu dukungan bener nggak? Dimana-mana preferensi seperti itu (LGBT) tidak mengekspresikan politiknya. Itu mah black campaign jelas, kalau mau reporting investigatif pasti ketahuan, jelas itu black campaign ada polanya,” ungkap Emil.

Sementara, pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi menuding ada skenario untuk menjatuhkan mereka. Dukungan dari Paguyuban Paranormal Jabar merupakan strategi politik, namun untuk tujuan menjerumuskan.

“Ini kan pola politik itu ada dua, ada pola menjelekkan, ada pola disebutnya teh sokong jongklok (mendukung tetapi buat menjerumuskan lawan). Nah ini mudah-mudahan ini tidak sokong jongklok,” papar Dedi Mulyadi.

Bahkan mantan Bupati Purwakarta ini sempat bereaksi dengan melaporkan isu ini ke Polda Jabar, selanjutnya bergeser ke Bawaslu Jabar.

Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf menyebutkan, fenomena dukungan dari kelompok minoritas merupakan potret masyarakat. Ketika fakta tersebut masuk dalam ranah politik, jangan diartikan ada kesamaan visi dengan para kandidat kepala daerah.

“Tetapi dukungan tersebut mungkin kasuistis, ada sebab akibat dari pernyataan atau sikap para calon sebelumnya. Misal ada statement RK yang dinilai tidak mempermasalahkan LGBT atau Demul yang cenderung terlihat permisif pada masalah budaya,” jelas Asep.

Asep tak memungkiri jika isu tersebut diangkat menjadi isu politik sebagai modal politik untuk menjatuhkan lawan. Dukungan komunitas LGBT dan paranormal menjadi potret kecil fakta masyarakat yang dituding negatif oleh sebagian besar masyarakat.

“Tim sukses harus cerdas menggeser isu kalau tidak berkenan. Masalahnya ini fakta sosiologis yang diangkat jadi isu politik. Memang biasa terjadi dalam politik. Mereka ini segmen masyarakat yang memiliki ikatan emosional. Perlu dicatat, ada pihak yang alergi pada komunitas ini,” pungkasnya. (*/nto)

loading...

Feeds