Duh… Pemukiman Cireundeu di Kota Cimahi Terancam Terkubur

Kampung adar Cireundeu, Cimahi. (ist)

Kampung adar Cireundeu, Cimahi. (ist)

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Ratusan pemukiman di bawah bukit Cireundeu Kota Cimahi terancam terkubur. Penyebabnya adalah pembangunan kompleks perumahan.

Berdasarkan hasil cek lapangan yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi beberapa waktu lalu, bukit tersebut memiliki kemiringan 60 derajat. Apabila diatas bukit tersebut dilakukan pembangunan maka, potensi longsor cukup besar.

Kepala Dindas DPKP Kota Cimahi  Nur Kuswandana, mengatakan, setelah pihaknya melaksanakan pemantauan bukit ternyata, proyek pembangunan yang dilakukan oleh pengembang dinilai tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar.

“Tentunya kami tidak ingin terjadi bencana longsor yang membahayakan warga,” katanya.
Sejauh ini, PT Nur Mandiri Jaya Properti selaku pengembang, belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi . Perusahaan asal Demak Jawa Tengah itu baru memiliki Izin Prinsip (IP) saja.

Menurut dia, dalam suatu tahap pembangunan, sebelum melaksanakan aktivitas pembangunan seperti, pematangan lahan, seharusnya pengembang membuat metode teknis pekerjaan yang aman. Selain itu, harus terlebihahulu mengantongi IMB.

“Ketika dicek ke lokasi, mereka (pengembang) sangat sembarangan melakukan pembangunan. Bahkan dinilai tidak memikirkan faktor keamanannya,” ujarnya.

Potensi longsor yang bakal mengancam warga, karena belum dibuatkannya tembok penahan tanah dan drainase serta penunjang lainnya.

Seperti diketahui, di bukit Cireundeu nantinya akan berjejer perumahan sebanyak 420 unit. Namun, karena tidak mematuhi aturan Pemerintah, pembangunan komplek perumahan Griya Asri Cireundeu harus dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Rencananya akan ada pemeriksaan pada pihak pengembang dan konsultan. Kita juga akan lihat seperti apa sertifikasinya,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang warga Cireundeu, Neni (48), khawatir pembangunan ini malah menjadi ancaman bencana bagi warga. Pasalnya, warga disekitaran kampung Cirendeu masih menyimpan kenangan pahit.

“Dulu disini (Cireundeu) pernah jadi tempat pembuangan sampah. Korbannya banyak. Sekarang bakal ada perumahan di atas bukit. Gak tau nanti apa yang akan terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, perempuan yang lahir dan besar di Kampung Cireundeu ini, sangat menyayangkan pembangunan yang dilakukan di atas Bukit Gunung Gajah Langu.

Alasannya, di atas gunung itu ada mata air atau warga biasa menyebut ‘sirah cai’ yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar.
“Saya khawatir, satu dari empat sirah cai yang dikeramatkan oleh warga, bisa menimbulkan bencana apabila disalahgunakan,” ujarnya.

Dengan kondisi lahan yang sudah dipugar itu, ia hanya berharap tanah warisan leluhurnya yang menjadi sumber penghidupan warga, tak membawa malapetaka.

“Semoga tidak semuanya habis dijadikan pemukiman. Karena bagaimanapun puluhan bahkan, ratusan tahun warga secara turun temurun tinggal disini,” pungkasnya.

(gat)

 

loading...

Feeds