Pembangunan di Bukit Cireundeu Bertentangan dengan Keyakinan Kampung Adat

Proyek pembangunan perumahan di RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan (Gatot/Radar Bandung)

Proyek pembangunan perumahan di RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan (Gatot/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Pembangunan perumahan di atas Bukit Cireundeu memiliki potensi dampak buruk terhadap warga sekitar. Dampak buruk itu di antaranya longsor. Selain itu, warga Adat Cireundeu masih memegang teguh kepercayaan.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Cimahi, Yusup Handriyana, berharap pembangunan di Kampung Cireundeu tidak menghilangkan apa yang telah warga kampung adat jaga dan lestarikan.

Ia pun sebagai warga Cimahi sebetulnya sangat menyayangkan pembangunan tersebut.

“Saya harap jangan sampai apa yang dilestarikan dari leluhurnya hilang begitu saja akibat ada pengaruh dari luar,” katanya.

Menurut dia, alangkah baiknya pemerintah membeli lahan tersebut dari masyarakat untuk dijadikan kawasan hutan kota. Seingga memiliki potensi besar untuk dijadikan salah satu destinasi wisata.

Selama ini Cimahi kesulitan mengembangkan potensi wisata. Ditambah lagi dengan terus berdirinya bangunan hingga ke atas bukit.

“Baiknya pemerintah bisa membeli lahan yang tersisa di kawasan Cireundeu, dan jangan sampai kembali diserobot oleh swasta yang akhirnya berujung dibangunnya kembali perumahan,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang warga Cireundeu Neni (48), pembangunan ini dinilai menjadi kiamat kecil.

“Dulu di sini (Cireundeu) pernah jadi tempat pembuangan sampah. Korbannya banyak. Sekarang bakal ada perumahan di atas bukit. Gak tau nanti apa yang akan terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, perempuan yang lahir dan besar di Kampung Cireundeu ini sangat menyayangkan pembangunan yang dilakukan di atas Bukit Gunung Gajah Langu.

Alasannya, di atas gunung itu ada mata air atau warga biasa menyebut ‘sirah cai’ yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar.

“Saya khawatir, satu dari empat sirah cai yang dikeramatkan oleh warga, bisa menimbulkan bencana apabila disalahgunakan,” ujarnya.

Dengan kondisi lahan yang sudah dipugar itu, ia hanya berharap tanah warisan leluhurnya yang menjadi sumber penghidupan warga, tak membawa malapetaka.

“Semoga tidak semuanya habis dijadikan pemukiman. Karena bagaimanapun puluhan bahkan, ratusan tahun warga secara turun temurun tinggal disini,” pungkasnya.

(gat)

loading...

Feeds