Masalah Kesetaraan Gender di Jabar Memprihatinkan

Nadine Alexandra dan Hannah Al Rashid suarakan kesetaraan gender. Foto: Instagram

Nadine Alexandra dan Hannah Al Rashid suarakan kesetaraan gender. Foto: Instagram

POJOKBANDUNG.com – Perempuan masih dianggap gender kedua setelah pria. Norma-norma gender membuat perempuan memiliki wewenang yang terbatas dalam pengambilan keputusan, memiliki akses yang terbatas dalam pekerjaan maupun menanggung beban yang cukup besar dalam urusan domestik, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Masih tingginya pernikahan dini pada perempuan juga masih menjadi masalah perempuan. Pernikahan dini menjadi faktor utama pada kesehatan reproduksi. Permasalahan lainnya, perempuan rentan mengalami malnutrisi dan putus sekolah.

Melihat femomena tersebut, Projter & Gambel (P&G) dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) meluncurkan program kerja sama We See Equal: Transforming Gender Norms Among School Children.

Melalui We See Equal Project, Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children berusaha mempromosikan kesetaraan gender.

“Promosi dilakukan terhadap remaja perempuan maupun laki-laki dengan menghargai kesehatan, pendidikan, dan berbagai peluang serta mengatasi norma-norma sosial yang memiliki stereotipe negatif terhadap gender,” ucap Corporate Communications Manager P&G Indonesia, Stephan Sinisuka kepada Radar Bandung, di Hotel Aryaduta Bandung, belum lama ini.

Di Jawa Barat, angka malnutrisi pada remaja perempuan usia 13-15 tahun cukup tinggi, bahkan 42 persen di antaranya menderita anemia.

Selain itu, provinsi ini juga mencatatkan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, dengan jumlah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang terus berkembang.

Situasi ini menyebabkan tingginya angka putus sekolah yang mencapai 40 persen di mana jumlah perempuan yang putus sekolah lebih tinggi daripada laki-laki. Faktor utama yang berkontribusi pada hal ini antara lain tekanan ekonomi dan pernikahan anak.

Untuk menuntaskan permasalahan tersebut, P&G dan YSTC membuat proyek dengan membangun Unit Kesehan Sekolah (UKS).

“Proyek ini akan terintegrasi dengan UKS dengan memperkuat kebijakan yang berkaitan dengan sektor kesehatan dan pendidikan, termasuk memastikan anak-anak selalu sehat dan juga berperilaku sehat,” sambungnya.

Program tersebut akan dimulai tahun ini dan Kabupaten Bandung dan Cianjur, Jawa Barat dipilih menjadi lokasi pertama pembuatan UKS. Dengan target 10 ribu anak dan 360 guru, Stephan berharap akan ada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

“Melalui adanya program ini saya berharap perempuan bisa lebih berani mengeluarkan suara dan pendapatnya sama dengan pria,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan, akan meningkatkan ketersediaan dan kualitas kesehatan berbasis sekolah dan layanan kebersihan serta meningkatkan fasilitas kesehatan. Selain itu, pengetahuan, sikap, dan perilaku murid, guru, dan orangtua dengan kesetaraan gender dan fokus kepada praktik kesehatan dan kebersihan juga akan ditingkatkan.

“Ada banyak cara yang akan kami lakukan untuk membuat perubahan termasuk pada anak-anak,” pungkasnya.

(fid)

loading...

Feeds