Kampung Agro Wisata Cibuluh Diresmikan

Kampung Cibuluh Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan diresmikan sebagai Kampung Agro Wisata (Humas Pemkab Bandung)

Kampung Cibuluh Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan diresmikan sebagai Kampung Agro Wisata (Humas Pemkab Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Kampung Cibuluh Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan diresmikan Bupati Bandung H. Dadang M. Naser sebagai Kampung Agro Wisata dalam program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) dalam mewujudkan Bandung 1000 Kampung sebagai rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-377 Kabupaten Bandung.

Seperti halnya Kampung Wangun Desa Pasirmulya Kecamatan Banjaran, Kampung Cilodong Desa Karangtunggal Kecamatan Paseh, Kampung Cileutik Desa Pananjung Kecamatan Cangkuang dan puluhan kampung lainnya yang digagas Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Bandung, Kampung Cibuluh ini juga ditata dari segi infrastruktur jalan, listrik, penataan lingkungan permukimannya termasuk perbaikan-perbaikan rumah tidak layak huni.

“Saat ini kita terus membangun dari kampung untuk Kabupaten Bandung, dari Kabupaten Bandung untuk Indonesia,” ucap Bupati di sela kegiatan homestay usai menandatangani prasasti tanda diresmikannya Kampung Agro Wisata Cibuluh Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan, Rabu (25/4).

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser di sela peresmian Kampung Cibuluh Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan sebagai Kampung Agro Wisata (Humas Pemkab Bandung)

“Kampung-kampung kita tata, terlebih Kampung Cibuluh Pangalengan ini merupakan kampung yang terisolir, maka kita dorong supaya Cibuluh dapat berdaya saing seperti kampung-kampung yang sudah kita tata,” sambung dia.

Beberapa permasalahan sosial yang sebelumnya dialami warga, kini perlahan mulai teratasi dengan adanya perbaikan akses jalan tersebut.

“Sebelumnya warga kesulitan air bersih dan juga listrik baru masuk sini. Terisolirnya kampung karena buruknya akses jalan menyebabkan tingginya angka kematian bayi. Ibu-ibu yang hendak melahirkan kehilangan bayinya dalam perjalanan menuju tempat persalinan,” urai Dadang Naser.

“Jauhnya jarak rumah dengan SMA terdekat juga menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan warga. Jarak dengan SMA terdekat saja sudah menghabiskan Rp. 30.000 ongkos ojek sekali jalan. Jadinya sekolah gratis malah jadi mahal dari segi biaya transportasinya,” lanjutnya.

Dadang juga menambahkan ke depan akan melakukan terobosan dengan mengadakan kendaraan pelajar dari Cibuluh menuju Pangalengan agar biaya transportasi sekolah terjangkau.

Dengan ditatanya kampung ini pula Dia berharap ke depan angka kematian bayi dapat ditekan yang pada gilirannya meningkatkan Angka Harapan Hidup (AHH).

“Itulah dampak positif dari adanya kegiatan homestay ini. Jajaran Pemkab Bandung bermalam di sini dan mendekatkan diri dengan masyarakat untuk menyerap aspirasi secara langsung dari warga. Apa saja harapan-harapan mereka ke depan agar kita nanti bisa tindak lanjuti dengan menerapkannya dalam program masing-masing perangkat daerah,” lanjutnya.

Menurutnya, dengan dibentuknya Kampung Agro Wisata akan mengundang para wisatawan untuk turut merasakan pengalaman bermalam di tengah masyarakat dan melihat secara langsung bagaimana keseharian warga di desa.

“Para wisatawan juga bisa melakukan hal yang sama, tarif homestaynya memang tidak ditentukan, tapi yang jelas mereka bisa datang kesini, bermalam, ngaliwet, bercengkerama dengan penduduk setempat. Selain itu juga akan memberikan pengalaman kepada anak-anak yang terbiasa hidup di kota tentang edukasi hidup di tengah-tengah masyarakat desa,” imbuh dia.

Dalam kesempatan homestay tersebut, Dadang Naser juga menyempatkan meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan Barak Homestay sebagai fasilitas tambahan. Gerakan egaliter homestay dari Pemkab Bandung tersebut, sambungnya, akan terus dilakukan di tempat-tempat lain yang perlu penataan.

“Kampung ini jadi Kampung Agro Wisata, penataan hasil-hasil pertanian dan peternakan. Nanti ada penataan peternakan kelinci, burung, maupun peternakan sapi yang meskipun sudah eksisting namun belum tertata karena kandangnya masih bersebalahan dengan rumah tinggal,” kata Dadang Naser.

“Masyarakat memang sudah terbiasa namun ini kurang sehat, makanya ini harus diperbaiki, fungsinya homestay ya temuan-temuan seperti ini. Kandang sapinya harus komunal, dan kotorannya harus diolah, menjadi pupuk organik dan bernilai ekonomis, tapi saat ini masyarakat membuang begitu saja, padahal selain berpotensi menghasilkan uang dari olahan kotoran menjadi pupuk juga menjadi sumber energi yaitu biogas.”

Kepala Disperkimtan Kabupaten Bandung Erwin Rinaldi mengatakan, Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) atau Neighborhood Development pada dasarnya merupakan intervensi lanjutan untuk membangun transformasi masyarakat mandiri menuju madani.

Program ini bertujuan agar seluruh masyarakat dapat hidup secara harmonis dalam lingkungan yang sehat tertib lestari dan berciri khas.

“Perbaikan infrastruktur jalan lingkungan, lingkungan pemukimannya termasuk perbaikan-perbaikan rumah, dimaksudkan untuk meningkatkan potensi wisata yang ada di kawasan Kampung Cibuluh yang sekarang terkoneksi dengan Situ Cileunca ini,” kata dia.

loading...

Feeds