820 Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Tidak Laik Edar

Ilustrasi obat (pixabay.com)

Ilustrasi obat (pixabay.com)

POJOKBANDUNG.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, memaparkan, 357 obat tradisional dan 463 suplemen kesehatan yang ada di Jawa Barat tidak laik edar.

Sementara 309 Iklan obat tradisional dan 110 Iklan suplemen kesehatan tidak memenuhi ketentuan penayangan iklan.

Deputi Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Maya Gustina Andarini, mengatakan, BPOM telah berusaha melakukan sosialisasi, komunikasi dan edukasi kepada pelaku usaha agar iklan-iklan obat tradisional maupun suplemen makanan yang tidak memenuhi syarat penayangan iklan, akan segera ditertibkan.

“Sebab mereka biasanya memakai jasa pengiklan untuk penayangan iklan,” ujarnya kepada wartawan di Hotel Aston, Jalan Dr Djundjunan, Bandung, baru-baru ini.

Maya menuturkan, selama ini, BPOM melakukan pengawasan dengan pengamatan dan disesuaikan dengan izin edar yang dikeluarkan.

Lanjutnya, ketika BPOM mengeluarkan izin produksi untuk sebuah produk obat tersebut, di situ ada klaim yang dikeluarkan dan perusahaan hanya bisa mengeluarkan iklan sesuai klaim tersebut.

“Tetapi setelah diawasi, melebihi yang kita perbolehkan,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga sering mendapati adanya upaya pembohongan publik dari produsen iklan tersebut kepada masyarakat atau konsumen, seperti contohnya, banyak hal-hal yang nampak menjelaskan bahwa obat tersebut mempunyai khasiat menyembuhkan segala macam penyakit, namun kenyataanya tidak ada suatu obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

“Agak berlebihan dan jadinya pembohongan publik atau konsumen,” terangnya.

Adanya pelanggaran tersebut, BPOM sudah mengeluarkan sanksi bertahap seperti peringatan ringan hingga peringatan keras. Jika terus membandel, maka BPOM akan mencabut izin edar dan penghentian sementara kegiatan produksi dan informasi.

“Yang terkena sanksi sudah banyak,” katanya.

Maya menjelaskan, kerjasama juga sudah dilakukan Badan POM dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) di beberapa provinsi di Indonesia dan tidak hanya di Jawa Barat saja.

Menurutnya, KPID punya kewenangan terhadap penyiaran di daerah dengan melakukan eksekusi, rekomendasi bahwa iklan tidak sesuai dan ada peringatan kepada media tersebut untuk dicabut atau dihentikan penayangannya.

“Konsumen juga akan kita cerdaskan bagaimana memilih produk sesuai dengan standar yang ada,” jelasnya.

Di samping itu, Kepala Balai Besar BPOM Bandung, Abdul Rohim, mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah penarikan berbagai obat tradisional dan suplemen makanan yang tidak memenuhi syarat edar dari BPOM.

“Ada saja obat yang tidak punya syarat edar dari kita tetap dijual di pasaran,” terangnya.

Ia menuturkan, sebanyak 357 obat tradisional dan 463 suplemen kesehatan yang ada di Jawa Barat tidak laik edar. Hal tersebut setelah dilakukan penindakan selama Januari sampai Desember 2017.

“Kita lakukan penarikan produk-produk tersebut,” ujarnya.

Menurut Abdul, masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan para pelaku usaha mengenai persyaratan edar ataupun konteks iklannya dari produk obat tradisional atau suplemen kesehatan.

Ada pun jenis pelanggaran yang sering terjadi menurut Abdul, untuk obat tradisional adalah pelanggaran tidak mencantumkan spot baca aturan pakai, sedangkan untuk suplemen kesehatan adalah pelanggaran tidak mencantumkan baca aturan pakai.

“Terutama nomor bets tertentu biasanya yang tidak memenuhi syarat tersebut. Jadi terkadang ada obat yang tidak semua produknya tidak memenuhi syarat, hanya bets tertentu saja,” imbuhnya.

loading...

Feeds