BKKBN Mitra IBI Terus Gempur Program KB

BKKBN perwakilan wilayah Jawa Barat kerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) (Nur Fidiah/Radar Bandung)

BKKBN perwakilan wilayah Jawa Barat kerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) (Nur Fidiah/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Masih tingginya angka kematian ibu dan anak dan rendahnya minat KB di Jawa Barat membuat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan wilayah Jawa Barat menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai mitra untuk melanjutkan program jangka panjang dalam sosialisasi metode kontrasepsi.

Kepala BKKBN Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Sukaryo Teguh Santoso, mengatakan angka kelahiran total (TFR) di Jawa Barat saat ini berada di 2,4. Angka tersebut menurun setelah 10 tahun stagnant di 2,6.

“Penurunan fertilitas disebabkan oleh 3 faktor, salah satunya adalah pola kawin. Sejak tahun 2002 angka pernikahan di bawah umur berada di 17,8 tahun, di tahun 2017 menjadi 20 tahun. Itu sedikitnya masyarakat sudah ada teredukasi mengenai dampak dari pernikahan dibawah umur,” ucapnya kepada Radar, di Paviljun Hotel Jalan R.E Martadinata, Selasa (17/4).

Ia juga menyebutkan dengan menurunnya angka fertilitas bukan berarti tujuan KB sudah sepenuhnya rampung. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan BKKBN demi tercapainya angka 2,28 di akhir tahun 2019.

Salah satunya, pernikahan di bawah umur yang nyatanya masih banyak terjadi khususnya di wilayah Kabupaten Bandung.

Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (BKBR) BKKBN Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Rakhmat Mulkan, mengatakan usia ideal untuk menikah bagi wanita berada di angka 20 tahun ke atas, sedangkan pria di angka 25 tahun.

“Di angka tersebut, seluruh organ reproduksi dan psikis sudah siap. Jangan sampai slogan ‘ada anak punya anak’ itu terjadi karena ketidaksiapan tersebut,” ujarnya.

Meski kini angka usia pernikahan di 20 tahun, ia berharap kedepannya akan terus meningkat di 20 tahun ke atas.

“Angka kematian ibu dan anak di Jawa Barat menurut survei itu tertinggi setelah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), miris sekali dan itu terbukti bahwa masih ada masyarakat atau anak muda yang belum teredukasi mengenai bahaya menikah dibawah umur,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan program KKBPK, BKKBN masih terhalang oleh tantangan yang bersumber dari struktur penduduk Jawa Barat. Penduduk usia 0-9 tahun (balita dan anak) berjumlah 18,7 persen dari total 46.709 juta penduduk Jawa Barat, usia 10-24 tahun (remaja) berjumlah 26,8 persen, dan usia 60 tahun ke atas (lansia) sebanyak 7,6 persen.

“Slogan yang selalu kami sebarkan agar masyarakat paham adalah 4T, yaitu Terlalu Banyak yang artinya terlalu banyak anak, Terlalu Sering itu terlalu sering melahirkan, Terlalu Muda yang artinya melahirkan terlalu muda di usia 20 tahun ke bawah tidak baik, dan Terlalu Tua yaitu terlalu tua untuk melahirkan di usia 35 tahun juga berbahaya,” ungkapnya.

Terakhir, ia berharap tujuan membangun komitmen selama ini berjalan lancar dan fokus melayani pasangan usia subur. Tak lupa, dalam kegiatan tersebut Teguh terus mengkampanyekan program KB kepada para bidan yang hadir.

“Ada bidan ada KB, ada KB ada bidan,” pungkasnya.

(adv)

loading...

Feeds