Anis Mata Kunjungi Ponpes Penggerak Aksi Jalan Kaki 212

Calon Presiden dari PKS Anis Matta saat sapari politik di Kafe Badami Kuhate Jalan Otista Tarogong Kidul, Garut, Rabu (11/4). (Yana Taryana / radartasikmalaya.com)

Calon Presiden dari PKS Anis Matta saat sapari politik di Kafe Badami Kuhate Jalan Otista Tarogong Kidul, Garut, Rabu (11/4). (Yana Taryana / radartasikmalaya.com)

POJOKBANDUNG.com – Calon Presiden versi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Mata mengunjungi Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Bayasari Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Selasa (10/4) lalu.

Ponpes tersebut terkenal karena menjadi penggerak aksi jalan kali pada gerakan 212.

Anis mengaku sering mendapat pertanyaan dari rekan-rekannya di Eropa dan Afrika mengenai aksi jalan kaki yang fenomenal itu.

Rekan-rekannya itu, kata dia, penasaran mengapa aksi jalan kaki bisa terjadi menempuh rute berkilo-kilometer. Menurutnya, aksi jalan kaki bisa terjadi atas izin Allah.

“Bisa jalan ratusan kilometer buat demo,itu tandanya allah sayang Indonesia. Orang-orang enggak percaya demo sebesar 411,212. Orang-orang di Eropa dan Afrika nanyain itu,” katanya di hadapan ratusan santri.

Ia menilai Ponpes layak menjadi elemen dalam jihad. Sebab ia ingin mengembalikan cara berpolitik sebagaimana diajarkan Alquran. Menurutnya, ranah politik ini belum sering dijamah oleh kelompok muslim itu sendiri.

“Ponpes jadi simbol jihad politik. Saya ingin kembali pada Alquran untuk menginspirasi bagaimana mengelola kehidupan politik karena jarang disentuh muslimin,” ujarnya.

Di pesantren yang luasnya 15 hektare itu, Anis memberikan wawasan politik Islam ke sejumlah santri yang bertajuk “Langit kita terlalu tinggi, masalahnya kita terbang terlalu rendah #ArahbaruIndonesia”.

Pria kelahiran Bone tersebut mengajak para santri kembali membaca ulang kisah nabi dan rasul, mengambil analogi bentuk dari negara riwayat nabi Sulaiman yang menjadi negara utopis bagi negara saat ini.

Anis menjelaskan, ada empat kekuatan yang menjadi sumber kekuatan sejahteranya negara Nabi Sulaiman saat itu.

“Di antaranya ilmu pengetahuan teknologi, agama, kekuatan militer, dan kekuatan ekonomi,” jelasnya.

Selain itu, dalam kesempatan ini Anis menyebarkan ide gagasan bagaimana menjadikan indonesia sebagai kekuatan kelima di dunia.

“Ini momentum yang harus kita raih di gelombang ketiga sejarah Indonesia, yang mana Indonesia sudah mengalami dua gelombang sejarah sebelumnya,” sebutnya.

Lebih jelas Anis menyebutkan di antaranya gelombang pertama ialah gelombang  menjadi Indonesia yang puncaknya hari sumpah pemuda 1928 dan hari kemerdekaan 1945.

Kemudian dari 1945 hingga saat ini yang mana sudah melalui Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi itu bisa dikategorikan sebagai gelombang besar yaitu menjadi bangsa modern.

“Artinya membangun konstitusi dan institusi negara yang masyarakatnya maju, kita membangun sistem kolektif yang bernama demokrasi yang harusnya outputnya kesajahteraan,” jelas Anis Matta.

Dia menilai demokrasi dan kesejahteraan itu sejauh ini tercapai namun sayangnya ada tendensi di periode ini untuk mengedepankan sekuriti yang berlebihan.

loading...

Feeds