Dedengkot Punk Bandung Jadi Terdakwa Persidangan Pengadilan Musik Edisi ke-22

Persidangan Pengadilan Musik edisi ke-22 menyidangkan Turtles Jr (M Gumilang/Radar Bandung)

Persidangan Pengadilan Musik edisi ke-22 menyidangkan Turtles Jr (M Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Dedengkot Punk-Hardcore asal Bandung, Turtles Jr (Junior), hadir menjadi terdakwa di Persidangan Pengadilan Musik edisi ke-22.

DCDC Pengadilan Musik meminta Turtles Jr mempertanggungjawabkan karya-karya yang sudah mereka hasilkan.

“We are not artist, we just try to exist in hell”, kalimat ini menjadi pembuka perkenalan salah satu band cadas asal Bandung tersebut.

Band ‘Keras Kepala’ ini mengusung warna musik punk-hardcore dan menamainya dengan Turtles Jr atau sering disebut oleh orang Bandung sebagai Kuya Ngora.

Turtles Jr terlihat konsisten, matang dan total dalam bermusik. Hal tersebutlah DCDC Pengadilan Musik memutuskan untuk memanggil Turtles Jr ke persidangan.

Mereka dituntut untuk mampu memaparkan visi dan misi dari segala hal yang berkaitan dengan perjalanan musik Turtles Jr. Mereka juga harus mampu membuktikan bahwa karya mereka memiliki kualitas yang layak dikonsumsi oleh publik.

Seperti biasa, Pengadilan Musik, Djarum Coklat Dot Com (DCDC) edisi ke-22 berlangsung di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (6/4).

Turtles Jr yang berstatus ‘Terdakwa’ harus menghadapi dua Jaksa Penuntut, yaitu Budayawan asal Bandung, Budi Dalton dan seorang penulis novel terkenal ‘Dilan’, Pidi Baiq.

Kursi pembela ditempati oleh penabuh Tam-tam dari unit Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB), Yoga dan Badick yang merupakan mantan gitatis Turtles Jr.

Pengadilan dipimpin oleh seorang Hakim dari vokalis unit Death Metal asal Ujung Berung Bandung yakni Man Jasad dan bertindak sebagai Panitera Persidangan adalah Eddi Brokoli.

Pengadilan berlangsung selama kurang lebih 120 menit, Turtles Jr harus menghadapi serangkaian tuntutan dari dua jaksa tersebut.   Budi (vokal), Buux (gitar), Dohem (Bass) dan Boeboen (drum) berupaya menjawab semua pertanyaan dan mempertanggungjawabkan karya yang telah mereka hasilkan. Puluhan fans Turtle Jr yang hadir turut memberikan dukungan.

Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Budi Dalton yang mempertanyakan, mengapa nama bandnya harus turtle atau kura-kura.

Pidi Baiq menambahkan, ia menilai gaya rambut salah satu personel Turtles Jr malah mirip seperti hewan Iguana bukan seperti kura-kura.

“Dulu vokalis pertama kita, Yoni, sangat suka dengan film kura-kira ninja. Kenapa pakai Junior, karena waktu itu kita memulai main band sejak SMA dan masih muda,” terang Boeboen.

Pertanyaan selanjutnya dari Pidi Baiq mempertanyakan mengapa mengusung genre punk hardcore.

Boeboen menjawab, punk sebenarnya bukan sekedar sebuah genre musik saja, namun merupakan sebuah gaya hidup.

Namun tidak sepenuhnya menganut ideologi atau budaya punk itu secara menyeluruh karena budaya punk yang asli dengan budaya di Indonesia sudah tentu berbeda.

“Kita mencintai kebebasan sih sebenarnya. Punk itu bebas,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, Turtles Jr memperkenalkan video klip terbarunya berjudul No Bullshit. Dalam video klip tersebut, memperlihatkan footage dari rangkaian tur selama 2018 di beberapa Kota di Indonesia.

“Melalui video klip tersebut membuktikan kita masih tetap konsisten dan produktif dalam bermusik,” terang Boeboen.

Boeboen menjelaskan, punk menjadi sebuah cara mereka menyampaikan kritik sosial yang ada di tubuh pemerintahan ataupun masyarakat.

Melalui musik, menurutnya akan tersampaikan secara efektif pesan-pesan yang mereka sampaikan terutama kepada para generasi muda.

“Dari dulu juga punk digunakan sebagai media menyampaikan kritik sosial. Banyak band seperti Sex Pistols dulu di inggris yang lirik-lirik lagunya mengkritisi pemerintahan,” jelasnya.

Di ujung Pengadilan Musik, hakim Man Jasad memberi keputusan kalau video klip terbaru Turtles Jr berjudul Bullshit, sangat layak diterima publik musik Indonesia. Tak hanya itu, Turtles Jr juga diharapkan tetap konsisten melakukan kiritik sosial melalui musik yang mereka usung.

Selain itu, Sarah Saputri salah satu punggawa band Sarah n Soul yang juga hadir menonton acara ini mengatakan, acara ini sangat berkesan dan bagus. Lanjutnya, melalui acara ini, para musisi berkesempatan memaparkan semua karyanya kepada khalayak.

“Sebuah media promosi alternatif yang sangat bagus,” terangnya kepada wartawan, Jumat (6/4).

Disamping itu, Perwakilan DCDC, Sigit Prasetyo Wibowo, mengatakan, Turtles Jr merupakan sebuah band legenda dari skena punk yang ada di Bandung.

“Band yang memberikan pengaruh besar terhadap skena musik punk di Bandung,” terangnya kepada wartawan, Jumat (6/4).

Ia mengatakan, Turtle Jr sempat vakum cukup lama sehingga DCDC Pengadilan Musik mencoba menghadirkan kembali band tersebut ke hadapan para fans yang sudah lama menunggu kehadirannya, terutama karya terbaru dari band ini sebuah video klip hasil tur di beberapa kota di Indonesia.

loading...

Feeds