Jangan Gampang Nyebar Informasi, Ini Bahaya Hoaks buat Perekonomian

Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jawa Barat (Jabar) bersama Kepolisian Daerah (Polda) Jabar deklarasi Tolak Hoaks (M Gumilang/Radar Bandung)

Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jawa Barat (Jabar) bersama Kepolisian Daerah (Polda) Jabar deklarasi Tolak Hoaks (M Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jawa Barat (Jabar) bersama Kepolisian Daerah (Polda) Jabar melakukan penandatanganan dan deklarasi Tolak Hoaks di aula Bale Pasundan, Kantor Bank Indonesia, Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu (4/4).

Menurut BMPD, hoaks apabila didiamkan dapat berdampak terhadap kegiatan perbankan dan perekonomian.

Deklarasi ini dihadiri kurang lebih 150 orang  diantaranya, Kepala Grup SLA dan PUR Bank Indonesia, Sukarelawati Permana, Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Wakapolda Jabar, Brigjen Pol Supratman, PJU Polda Jabar.

Lalu, Kasat Binmas Polrestabes Bandung AKBP Suherman, Kapolsek Sumur Bandung Kompol Abdul Kholik, para pimpinan cabang bank dan warga perbankan Jawa Barat, Kepala OJK, dan Sekjen BMPD Jawa Barat Ismet Widodo.

Sekretaris Jenderal, BMPD Jabar, Ismet Inono mengatakan, hoaks apabila didiamkan dapat berdampak terhadap kegiatan perbankan dan perekonomian, antara lain kepercayaan terhadap perbankan berkurang, persaingan usaha yang tidak sehat, dan dapat menghambat stabilitas perekonomian.

“Himbauan perbankan Jabar kepada masyarakat terhadap berita hoaks agar lebih berhati-hati dalam menerima dan meneruskan informasi. Selain itu untuk tidak meneruskan informasi berita yang tidak benar atau hoaks,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara tersebut.

Ia menuturkan, perbankan Jabar bersama Polda Jabar tengah mendeklarasikan tolak hoaks dengan menyatakan menolak segala bentuk berita bohong yang menimbulkan rasa kebencian, berlatar belakang suku, agama, ras dan antar golongan.

Lanjutnya, pihaknya mendukung Polri untuk menindak tegas kepada pelaku penyebar hoaks dan senantiasa menjaga situasi dan kondisi Jawa barat tetap aman, damai dan kondusif.

Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan semua pihak untuk menyajikan berita kepada masyarakat dengan cara menolak, menangkal dan menghentikan informasi yang tidak benar atau hoaks, baik berupa gambar, foto atau ilustrasi yang menimbulkan rasa kebencian, permusuhan yang berlatar belakang Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA).

“Hoax ini harus kita lawan dengan kerjasama antar pihak tentunya,” ucapnya.

Di samping itu, Kapolda Jabar, Agung Budi Maryoto menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi kepada perbankan yang turut memerangi hoaks.

Ia harap dengan adanya deklarasi hantam hoax ini bisa menjaga situasi kondusif di Kota Bandung dan Jawa Barat dan diharapkan selalu kondusif hingga proses pilkada selesai.

“Sampai saat ini situasi di Jabar masih kondusif dan pihak kepolisian sudah mengungkap para pelaku pembuat hoaks,” tuturnya saat memberikan sambutan di acara tersebut.

Ia menilai, gangguan keamanan selama tahapan Pilkada Serentak 2018 di Jawa Barat diklaim turun. Tercatat turun sekira 30 sampai dengan 20 persen.

Dari sisi jumlah, penurunan hampir terjadi sekitar 30 kasus per hari. Polda Jabar menganggap kedewasaan masyarakat dalam berpolitik semakin meningkat.

“Gangguan Keamanan dan Keteriban Masyarakat (Kamtibmas) turun dari biasanya 80 kejadian per hari, sampai hari ini turun menjadi sekira 30 kasus. Artinya, masyarakat sudah memposisikan diri menjadi polisi bagi dirinya sendiri,” terangnya.

Ia menjelaskan, turunnya kasus keamanan di Jabar juga terjadi pada gangguan pilkada.

Menurut dia, selama proses kampanye, angka gangguan keamanan yang terkait pilkada turun. Hingga kini, pihaknya hanya menemukan sembilan kasus dan kasus tersebut saat ini sedang dalam proses.

Lanjutnya, Polda Jabar berkeyakinan, gangguan keamanan selama pilkada bisa terus ditekan hingga proses pilkada serentak berakhir.

Kendati demikian, pihaknya masih mengidentifikasi lima gangguan keamanan yang tercatat masih cukup tinggi, meliputi gangguan pencurian dan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, perkelahian, dan kasus narkoba.

“Kasus perkelahian juga masih tinggi. Tetapi biasanya diawali karena menenggak minuman keras dan hiburan. Tetapi secara umum, lima kejadian itu saling berkaitan satu sama lain,” pungkasnya.

(Cr1)

loading...

Feeds