Jalur Trans Papua Rampung, Harga Semen Ditargetkan Turun

Acara The 25th ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) Technical Symposium and Exhibition, di Trans Convention Center Jalan Gatot Subroto

Acara The 25th ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) Technical Symposium and Exhibition, di Trans Convention Center Jalan Gatot Subroto

POJOKBANDUNG.com – Pembangunan jalur trans Papua yang rencananya rampung di tahun 2019 diharapkan bisa mengurangi harga semen yang tinggi di bumi Cendrawasih. Selama ini harga bahan baku pembuatan properti di sana mencapai Rp 500 ribu per sak.

“Distribusi ke Papua lancar apalagi bila disubsidi oleh pemerintah, karena semen itu barang berat beda dengan elektronik,” ucap Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Widodo Santoso, ditemui dalam acara The 25th ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) Technical Symposium and Exhibition, di Trans Convention Center Jalan Gatot Subroto, baru-baru ini.

Kendala dalam biaya perjalanan pun menjadi salah satu alasan harga semen yang mahal di kota yang terkenal dengan keindahan alamnya.

“Wajar kalau harga tinggi, ongkosnya saja mahal karena perjalanannya jauh. Tetapi nanti kalau jalur trans Papua yang dicanangkan Pak Jokowi selesai itu bagus dan sangat membantu. Otomatis ongkos pasti turun,” ungkapnya.

Widodo juga memastikan bahwa kota Papua tidak akan kekurangan semen, karena sejak tahun 2016 Indonesia mengalami kelebihan pasokan semen.

“Tahun 2017, total kapasitas produksi semen tahunan Indonesia meningkat menjadi 107,9 juta ton,” tambahnya.

Kapasitas produksi semen dalam negeri masih akan terus meningkat, diantaranya disumbangkan oleh Conch Cement Indonesia di Sulawesi Utara yang mulai berproduksi tahun 2018 dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun, menjadikan Indonesia sebagai produsen semen terbesar di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik.

Industri semen di Indonesia juga sangat aktif selama kurun waktu dua tahun terakhir ini. Tahun 2017, penjualan domestik naik menjadi 66,3 juta ton (pertumbuhan 7,7 persen year on year (yoy) dan penjualan ekspor naik menjadi 2,95 ton (pertumbuhan 84 persen yoy), dibanding tahun sebelumnya, yaitu 62 juta ton penjualan domestik dan 1,6 juta ton penjualan ekspor.

Pertumbuhan konsumsi semen domestik didorong oleh proyek-proyek infrastruktur pemerintah seperti jalan tol Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, smelter, petrokimia, pembangkit listrik, proyek MRT di Jakarta, kereta api, dan perkembangan pelabuhan dan bandara di seluruh wilayah di Indonesia.

Pulau Jawa dan Sumatera tercatat sebagai konsumen semen terbesar di dalam negeri dan mencatat pertumbuhan konsumsi terbesar pada tahun 2017.

Pertumbuhan permintaan di Jawa mencapi 12,3 persen dan Sumatera 4,9 persen yoy di tahun 2017, sementara itu pertumbuhan semen permintaan di Indonesia bagian timur masih stagnan.

“Kalau sudah rampung, harga semen di Papua nanti bisa Rp 70 ribu per sak, ya beda lima sampai sepuluh ribu kan wajar. Yang pasti pemerintah akan menyiapkan kelaikan suplai, ” tutupnya.

(cr2)

loading...

Feeds

Sandrina Pukau Warga Cianjur

‎Tahun ini Napak Jagat Pasundan (NJP) mengusung tema 'Keur Balarea', ada banyak konsep baru dan unik dalam pengemasannya dibandingkan tahun …