Hari tanpa Bayangan, Serem Ya? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Peta kulminasi matahari di Indonesia (Lapan)

Peta kulminasi matahari di Indonesia (Lapan)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tahun ini akan terjadi dua fenomena alam yang disebut hari tanpa bayangan. Untuk wilayah Bandung, fenomena ini terjadi 3 Maret lalu dan 3 Oktober mendatang.

Peneliti Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Rhorom Priyatikanto menjelaskan, matahari akan berada tepat di atas ekuator (khatulistiwa) pada (21/3) di wilayah Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Hal itu menjadi fenomena yang menarik bagi Indonesia yang terletak di garis ekuator seperti Kota Pontianak. Kejadian seperti ini berlangsung dua kali dalam setahun.

“Peristiwa berikutnya terjadi lagi di Pontianak pada (23/9) mendatang,” ujar Rhorhom dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat, saat diwawancarai Radar Bandung melalui saluran telepon, Selasa (20/3).

Ia menerangkan, saat tengah hari, apabila seseorang berada di wilayah khatulistiwa, maka matahari akan berada hampir tepat di atas kepala. Hal ini mengakibatkan tidak adanya bayangan.

“Istilahnya yaitu hari nir bayangan atau hari tanpa bayangan,” kata Rhorhom.

Ia menuturkan, peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang equator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia.

Lanjutnya, pada (20/3) pukul 23.15 WIB, Matahari akan tepat berada di atas equator. Peristiwa ini dikenal sebagai vernal equinox (vernus = musim semi, equus = sama, noct = malam).

“Pada hari itu, durasi siang dan malam di seluruh dunia akan sama, yakni 12 jam,” tuturnya.

Rhorhom memaparkan, di daerah equator, misalnya di Kota Pontianak, Matahari akan berada di atas kepala saat tengah hari vernal equinox sehingga sebuah tugu tegak akan tampak tanpa bayangan.

Pada 21 Maret 2018, Matahari akan mencapai titik puncak atau bahasa ilmiahnya kulminasi pada pukul 11.50 WIB. Setelahnya, Matahari akan turun perlahan hingga terbenam di titik barat sekitar enam jam kemudian. Fenomena yang sama akan terjadi saat autumnal equinox (autumn = musim gugur), pada (23/9).

Menurutnya, fenomena tersebut akan terjadi kembali di Kota Pontianak pada (23/9) mendatang.

Namun lanjutnya, hari nir bayangan tidak hanya terjadi di Pontianak atau kota-kota yang dilewati garis ekuator saja, melainkan dapat terjadi di kota-kota yang berada di antara 23,4 Lintang Selatan dan 23,4 Lintang Utara.

Di antaranya Kota Denpasar, Bali pada (26/2) lalu dan (16/10) mendatang, Jakarta pada (5/3) dan (9/10) mendatang, Kota Bandung, Jawa Barat pada (3/3) lalu dan (11/10) mendatang, Kota Belitung, Kepulauan Bangka Belitung pada (13/3) dan (1/10) mendatang, lalu Kota Sabang, Aceh pada (5/4) mendatang dan (8/9) mendatang.

“Prinsipnya hari tanpa bayangan dapat terjadi ketika matahari lewat di atas suatu Kota. Namun Kota yang berada di antara 23,4 Lintang Selatang dan 23,4 Lintang Utara,” paparnya.

Pada hari nir bayangan (21/3), Lapan akan berpartisipasi dalam Festival Hari Nir Bayangan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Festival tersebut akan berlangsung hingga (23/3) mendatang.

Rhorhom mengatakan, Lapan akan menyajikan pertunjukan planetarium mini, pameran, dan ceramah edukasi di sana.

“Festival di sini akan sangat meriah,” terangnya.

(cr1)

loading...

Feeds

Sandrina Pukau Warga Cianjur

‎Tahun ini Napak Jagat Pasundan (NJP) mengusung tema 'Keur Balarea', ada banyak konsep baru dan unik dalam pengemasannya dibandingkan tahun …