Di Persidangan, Homogenic Ditanya Kenapa Berambut Hijau

Band HMGNC (Homogenic) menghadiri persidangan di acara Pengadilan Musik DCDC edisi ke-21. Pengadilan digelar di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

Band HMGNC (Homogenic) menghadiri persidangan di acara Pengadilan Musik DCDC edisi ke-21. Pengadilan digelar di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Dengan segala konsistensi genre electro-pop dan kematangan musikalitasnya selama 16 tahun, sudah tentu mereka patut mendapat perhatian dan apresiasi.

Hal ini pula lah yang akhirnya menjadi dasar Pengadilan Musik edisi ke-21 untuk mengundang HMGNC (Homogenic) untuk diuji ketahanannya dalam mempertanggungjawabkan karya mereka.

Seperti biasa, Pengadilan Musik, Djarum Coklat Dot Com (DCDC) edisi ke-21 berlangsung di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (16/3).

HMGNC yang berstatus ‘terdakwa’ harus menghadapi dua Jaksa Penuntut, yaitu budayawan asal Bandung, Budi Dalton dan seorang penulis novel terkenal ‘Dilan’, Pidi Baiq.

Kursi pembela ditempati penabuh tam-tam dari unit Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB), Yoga dan Drummer dari unit Hardcore asal Bandung, Taring Band yaitu Gebeg.

Pengadilan dipimpin seorang hakim yang juga vokalis Death Metal asal Ujung Berung Bandung, Man Jasad. Bertindak sebagai Panitera Persidangan adalah Eddi Brokoli.

Meskipun wilayah Kota Bandung sempat diguyur hujan lebat pada sore hingga malam hari, namun tak menyurutkan antusias penggemar Pengadilan Musik dan juga para Saviour (Sebutan penggemar HMGNC) untuk datang ke Kantin Nasion The Panas Dalam.

Pengadilan berlangsung sekira 120 menit. HMGNC harus menghadapi serangkaian tuntutan dari dua jaksa tersebut tanpa sang vokalis, Amandia Syachridar yang absen hadir di Pengadilan kali ini dikarenakan habis melahirkan.

Dina Dellyana (synthesizer) dan Grahadea Kusuf (synthesizer, programming) berupaya menjawab semua pertanyaan dan mempertanggungjawabkan karya yang telah mereka hasilkan. Puluhan Saviour yang hadir turut memberikan dukungan.

Pertanyaan pertama datang dari Budi Dalton. Budi bertanya, kenapa rambut Dina berwarna hijau? Apakah ada hubungannya dengan HMGNC? Kendati pertanyaan ini agak nyeleneh dan sukses mengundang tawa penonton, tapi Dina menjawab dengan serius.

Band HMGNC (Homogenic) menghadiri persidangan di acara Pengadilan Musik DCDC edisi ke-21. Pengadilan digelar di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

Menurut Dina, warna rambutnya biru, bukan hijau. Warna biru ini berhubungan dengan lagu-lagu HMGNC yang kebanyakan tentang cinta.

Biru, kata Dina, adalah simbol cinta. Belum puas dengan jawaban Dina, Budi kembali bertanya. Dia mempertanyakan soal nama band Homogenic yang sedikit aneh di mata Budi.

“Kami memiliki kesamaan visi misi, homo itu artinya kan sama. Akan tetapi idenya memang diambil dari salah satu lagu Bjork. Saya fans sama Bjork, karena musiknya yang eksperimen,” tutur Dina.

Salah seorang pembela, yaitu Gebeg kemudian bergabung dengan Dina dan Dea karena pernah menjadi drummer HMGNC. Gebeg membantu HMGNC untuk album Thousand Flowers Bloom (2010) dan Let’s Talk (2012).

Budi kemudian mempertanyakan kenapa Dina dan Dea memilih memainkan musik pop elektronik. Menurut Dina, dia memang suka musik elektronik.

Walaupun pernah tergabung di sejumlah band beraliran pop punk seperti Boys are Toys dan Jolly Jumper, tapi Dina menikmati musik pop elektronik.

“Saya menemukan ternyata kalau memainkan musik elektronik bisa bikin lagu sendiri. Lebih praktis karena bisa lebih eksplorasi musik memakai perangkat digital,” ungkap Dina.

Budi melanjutkan pertanyaan dengan bagaimana menerjemahkan emosi dan rasa ke alat musik digital. Pertanyaan ini lugas dijawab Dina.

Menurut Dina, dia sebagai penulis lirik mentransfer rasa saat pembuatan lagu. Pada prosesnya, Dina membuat lagu dimulai menggunakan piano kemudian menulis liriknya. Setelah jadi, Dina memasukkan ke perangkat lunak sampai akhirnya menjadi satu lagu khas HMGNC yang utuh.

Dalam kesempatan yang sama di Pengadilan Musik tersebut, HMGNC juga memperkenalkan video klip single terbaru dari album Self Titled HMGNC berjudul Sedikit Waktu.

Lagu ini dirilis 14 Februari 2018 yang lalu sebagai kado Hari Kasih Sayang dari semua personil HMGNC untuk para Saviour.

Dina yang menulis lirik Sedikit Waktu mengungkapkan, lagu ini bercerita tentang pasangan yang pernah bersama tapi terpisah ruang dan waktu. Sebuah janji untuk bersama kembali pernah terucap, namun ternyata kisah mereka berkata lain.

“Videonya bercerita dari sudut pandang si perempuan dalam kisah lagu Sedikit Waktu. Ada kerinduan mendalam dari sisi perempuan, tapi karena sedikitnya waktu, akhirnya tidak memberi ruang untuk pasangan lama ini bertemu atau sekadar berbagi kabar. Kerinduan ini lalu dituangkan dalam sebuah lagu yang selalu dibawakan si perempuan, dengan harapan pasangan lamanya akan datang dan mendengar lagu yang dia buat untuknya,” ungkap Dina.

Pada videoklip, selain adegan yang mewujudkan lirik lagu, HMGNC juga memasukan sejumlah footage saat mereka tampil. Hal ini sebagai upaya untuk memperkuat citra HMGNC dengan karya barunya.

Dina menyebutkan, Sedikit Waktu sengaja dirilis saat Valentine’s Day karena ingin memberikan sisi lain dari perayaan kasih sayang. Dari lirik dan videoklipnya saja sudah menggambarkan kegelisahan akan rasa kasih sayang yang tidak selalu berujung bahagia.

Jadi lewat single Sedikit Waktu, HMGNC mendobrak kebiasaan romantis yang kerap muncul saat Hari Kasih Sayang.

Terkait single baru HMGNC, yaitu Sedikit Waktu, jaksa Pidi bertanya tentang konsep videoklip lagu tersebut. Untuk menjawab hal ini, pengadilan memanggil saksi Dwiki, sutradara videoklip Sedikit Waktu yang juga penggemar HMGNC.

Menurut Dwiki, videoklip Sedikit Waktu menyatukan sejumlah footage video HMGNC. Dia memvisualkan lirik lagu yang ditulis Dina.

Selain Dwiki, hadir pula Agung Burgerkill yang menjadi saksi meringankan HMGNC. Agung merupakan salah satu musisi tamu yang mengisi album lima HMGNC untuk trek “This Too Shall Pass”.

“Saya suka musiknya HMGNC karena terdengar seksi. Saat SMA saya ngeband bareng Dina. Kolaborasi sama Dina juga berlanjut di album kedua Burgerkill, dan saya juga mengisi salah satu lagu di album kedua HMGNC. Walaupun musik kami berbeda, tapi ternyata kolaborasi bisa tercipta,” ungkap Agung.

Pertanyaan Pidi berlanjut dengan apa yang membuat HMGNC bertahan selama 16 tahun.

Pembela Gebeg menyambar pertanyaan Pidi dengan menjawab, kalau HMGNC bukan sekadar band tapi sudah jadi keluarga. Hal ini dibenarkan Dina dan Dea yang menganggap HMGNC dan Saviour adalah keluarga.

Di ujung Pengadilan Musik, hakim Man Jasad memberi keputusan kalau single HMGNC, Sedikit Waktu, sangat layak diterima publik musik Indonesia. Tak hanya itu, HMGNC juga mencatat prestasi dengan merilis album kelima di Jepang.

loading...

Feeds