Bahaya! Walhi Jabar Tolak Penanganan Sampah Kota Bandung dengan Insinerator

Anggota TNI dari Kodam lll Siliwangi membersihkan sampah kiriman Kota Bandung di anak Sungsi Citarum yakni muara Sungai Cikapundung, Jembatan Cijagra, Kecamatan Bojongsoang , Kabupaten Bandung, Jumat (2/3). (RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG)

Anggota TNI dari Kodam lll Siliwangi membersihkan sampah kiriman Kota Bandung di anak Sungsi Citarum yakni muara Sungai Cikapundung, Jembatan Cijagra, Kecamatan Bojongsoang , Kabupaten Bandung, Jumat (2/3). (RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat (Jabar) menolak penanganan sampah dengan teknologi insinerator.

Walhi Jabar menilai, Pemerintah tak memiliki komitmen serta kesungguhan serius untuk menangani permasalahan sampah yang terjadi di wilayah Jabar terutama Bandung.

Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Dadan Ramdan menjelaskan, insinerator adalah sebuah alat yang berfungsi untuk membakar sampah yang akan menghasilkan gas pembakaran dan menghasilkan zat dioksin.

Lanjutnya, dioksin merupakan kelompok zat-zat berbahaya yang termasuk ke dalam golongan senyawa CDD (Chlorinated Dibenzo-p-Dioxin), CDF ( Chlorinated Dibenzo Furan ), dan PCB (Poly Chlorinated Biphenyl). Zat-zat ini berbahaya bagi kesehatan, salah satunya bisa memicu kanker.

“Sampai saat ini dioksin dari insinerator belum ada standarnya. Kami tidak setuju dengan insinerator,” tegas Dadan kepada Radar Bandung di Kantor Walhi Jabar.

Dadan menuturkan, teknologi yang paling ramah lingkungan, lanjutnya, adalah teknologi yang tidak menghasilkan dampak dan sisa baru.

Menurutnya, teknologi insinerator sebaiknya hanya untuk sampah medis saja, yang memang memerlukan penanganan khusus. Sedangkan sampah rumah tangga sedapat mungkin tidak menggunakan teknologi itu.

“Ada efek samping dari penggunaan insinerator. Dikhawatirkan menimbulkan masalah baru nantinya,” terangnya.

Penanganan sampah itu lebih baik menggunakan metode 3R, sistem 3R terdiri dari Reuse, Reduce, dan Recycle.

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat

“Sistem 3R sudah baik jika dijalankan benar-benar. Kita tidak mengenal istilah pembuangan. Tanpa insinerator, penanganan sampah-sampah rumah tangga masih bisa diupayakan,” ujarnya.

Ia memaparkan, volume sampah yang diproduksi di empat Kota dan Kabupaten di Bandung raya mencapai hampir 5.000 ton per hari dan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Dibutuhkan revolusi sosial-budaya, selain pilihan teknologi yang tepat, untuk mengantisipasi permasalahan lingkungan yang serius ini.

“Ubah pola pikir masyarakat secepatnya agar sadar apa yang terjadi sekarang sangat mengancam lingkungan hidup,” tegasnya.

Ia mengatakan, dari 5.000 ton sampah, sekitar 1.800 ton di antaranya dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Sisanya, dalam persentase yang relatif kecil, diolah dengan berbagai cara, mulai dari pengomposan hingga daur ulang.

“Yang lain dibakar atau dibuang, terutama ke sungai,” kata Dadan.

Dadan melanjutkan, TPA Legoknangka, yang direncanakan sebagai pengganti TPA Sarimukti dalam beberapa tahun mendatang, juga memiliki kapasitas minimal serupa, sekitar 1.800 ton per hari. Pilihan teknologi dan mahalnya tipping fee masih menjadi isu utama rencana pengoperasian TPA regional ini.

“Lihat saja tak ada upaya pemerintah menindaklanjuti permasalah sampah yang ada,” ucap Dadan.

Ia menjelaskan, indeks kualitas lingkungan hidup (ILHK) Jabar yang terus turun dari tahun ke tahun. Pada 2016, Jabar ada di peringkat 30 dari 33 provinsi di Indonesia.

Kerusakan dan pencemaran berkontribusi pada bencana lingkungan hidup yang lebih merusak dan terus meningkat jumlahnya, seperti banjir dan longsor. Menurut Dadan, harus ada komitmen jelas dari kepala daerah untuk pengelolaan lingkungan.

“Kami mendorong pengalokasian dana minimal 10 persen dari APBD,” pungkasnya.

(Cr1)

loading...

Feeds