Awas! Obat Mempercepat Kehamilan Marak di Media Sosial

Abdul Rohim - Kepala BBPOM Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

Abdul Rohim - Kepala BBPOM Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung menyesalkan maraknya bisnis obat herbal (tradisional) untuk mempercepat kehamilan di internet.

Menurut BPOM, semua obat tradisional yang dijual harus mendapatkan nomor izin edar dari BPOM.

Kepala Balai Besar Badan POM Bandung, Abdul Rohim mengakui miris melihat fenomena tentang cara orang-orang memanfaatkan isu reproduksi menjadi sebuah ladang bisnis atau keuntungan.

Lanjutnya, masih banyaknya iklan-iklan di internet yang menyatakan sebagai ‘obat’ dengan iming-iming mempercepat kehamilan, namun setelah ditelusuri oleh pihak BPOM ternyata beberapa obat tersebut hanya obat tradisional yang bahkan belum mendapatkan izin edar dari BPOM sendiri serta khasiatnya yang masih meragukan.

“Tidak boleh dibikin dulu, dijual, baru dapat nomor. Secara legalitas tidak bisa,” tegas Abdul saat dihubungi Radar Bandung, Minggu (11/3).

Ia menjelaskan, BPOM membagi obat herbal ke dalam tiga kategori yakni, jamu yang diklaim khasiatnya dibuktikan oleh data empiris, herbal terstandar yang diklaim khasiatnya dibuktikan secara ilmiah atau uji pada hewan (pra klinis) dan fitofarmaka yang diklaim dibuktikan berdasarkan uji pada manusia (uji klinis).

“Ini yang izinnya dikeluarkan oleh BPOM,” imbuhnya.

Menurutnya, seluruh klaim yang tertera baik pada kemasan maupun pada materi iklan menjadi pengawasan BPOM dan harus berisi informasi objektif, lengkap, tidak menyesatkan, dan sesuai dengan informasi yang disetujui pada pendaftaran di Badan POM.

Lanjutnya, masalahnya, iklan dan pemasaran di masa sekarang tidak hanya beredar di frekuensi publik yang diawasi badan berwenang seperti televisi, radio, dan media cetak. Akses informasi terbuka sebebas-bebasnya di sosial media.

“Siapa pun bisa menjual dan memberikan klaim-klaim berlebih, apalagi jika pengawasan penjualannya tidak terdeteksi langsung secara berkesinambungan oleh aparat terkait,” jelasnya.

Abdul mengaku tidak masalah dengan cara penjualan obat multilevel marketing (MLM). Namun, terkait banyaknya akun sosial media dan halaman web yang menjanjikan program kehamilan sebagai dalih menjual obat herbal, Abdul mengatakan, klaim program kehamilan apalagi menyertakan persentase keberhasilan dalam promosi di media merupakan klaim berlebih.

Meskipun memang benar obat-obatan tersebut berfungsi memperbaiki sel, dan melawan radikal bebas, klaim program kehamilan tetaplah berlebihan.

Abdul berkata, beberapa memang bagus, hanya saja jika melakukannya secara berlebih, apa bedanya dengan pembohongan kepada konsumen yang belum teredukasi secara baik tentang obat-obatan.

“Masyarakat sudah tidak rasional lagi dalam memilih produk, kan kasihan konsumen sudah mengeluarkan uang,” ujarnya.

Menurutnya, mungkin saja yang memakai obat herbal itu bisa hamil dikarenan cocok atau pas dengan obat tersebut, tapi tergantung penyebabnya apa, itu pun menurutnya harus diketahui secara riset laboratorium. Misalnya mengandung antioksidan, sehingga bisa menyuburkan kandungan, itu kan efek yang enggak langsung.

“Kehamilan itu kan faktornya banyak,” ujarnya.

Di samping itu, pakar Komunikasi Ekonomi dan Bisnis, Universitas Komputer Indonesia, Maulana Irfan menjelaskan, konsumen cenderung lebih mudah dirayu memakai klaim yang mudah dicerna.

“Klaim membuat seseorang subur dalam suatu program kehamilan (Promil) itu akan lebih menarik dibandingkan melancarkan atau menghilangkan ini itu,” jelas Irfan saat dihubungi Radar Bandung, Minggu (11/3).

Lanjutnya, larisnya obat sejenis promil dipicu oleh kepercayaan laten di masyarakat Indonesia, bahwa pasangan yang sudah menikah sewajarnya memiliki anak. Beban ketika tak kunjung hamil lantas cenderung dibebankan pada perempuan.

“Nilai bahwa perempuan memiliki keharusan untuk melahirkan keturunan telah diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Irfan.

Menurut Irfan, masyarakat Indonesia pada umumnya menempelkan suatu nilai pelik pada perempuan. Jika perempuan yang telah menikah namun belum ada tanda-tanda kehamilan, hal ini akan menimbulkan pertanyaan di masyarakat.

Menurutnya, terjadi sebuah tekanan struktural terhadap seorang isteri yang belum hamil.

“Ia akan menyegerakan agar dirinya hamil, termasuk dengan mengonsumsi obat-obatan herbal,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bandung, Rita Verita menerangkan, Di Indonesia, banyak terjadi “unexplained infertility” alias ketidaksuburan yang belum terjelaskan secara medis.

Ia menjelaskan, Unexplained infertility artinya suami istri sudah diperiksa dan bagus, tidak ada kendala penyakit, hubungan seksual yang teratur dalam batasan dua sampai tiga kali seminggu, tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama satu tahun belum hamil.

“Nah yang unexplained ini yang paling sulit untuk diterapi, karena kita enggak tahu penyebabnya,” ujarnya saat dihubungi Radar Bandung, Minggu (11/3).

Rita khawatir jika masalah yang dialami adalah unexplained infertility, tapi pasangan tersebut semata bergantung pada obat-obatan herbal. Akan lebih berbahaya lagi jika konsumen mempercayai hasil konsultasi online dengan si penjual yang belum tentu tenaga medis terlatih.

“Enggak jelas konsultasinya, lalu ada hal-hal yang sifatnya mitos dan fakta,” ujarnya.

Ia menerangkan, setiap penjelasan kehamilan itu harus ilmiah dan melalui hasil pemeriksaan medis. Menurutnya, darimana seseorang tersebut bisa mengetahui misalnya arah rahim terbalik atau tidak.

“Jadi morfologinya mesti kita lihat dulu. Jadi poin saya adalah tetap harus ke dokter.”

Rita mengakui, program medis untuk program kehamilan atau mempunyai seorang anak masih diangka yang sangat mahal. BPJS belum menanggung urusan program kehamilan atau infertilitas pasangan.

loading...

Feeds