Tanggul Harus Diantisipasi, Warga Cingised Khawatir Banjir Kembali Menyergap

Banjir di Cingised, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. (M Gumilang/Radar Bandung)

Banjir di Cingised, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. (M Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sebanyak 140 Kepala Keluarga (KK) asal RW.04, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, menjadi korban banjir yang disebabkan jebolnya tanggul Sungai Cironggeng, Kamis (8/3) lalu.

Tanggul yang menahan air sungai tersebut mengalami jebol dengan tinggi 5 meter dan panjang 20 meter.

Ketua RW.04, Asep Gunawan (55) mengatakan, dari jumlah total 193 KK RW.04 tersebut, 140 KK menjadi korban banjir yang terjadi pada Kamis (8/3) pada pukul 20.00 WIB.

Menurutnya, tak ada korban jiwa dalam kejadian bencana alam banjir tersebut, namun ia mengungkapkan, dari keseluruhan KK yang ada di RW.04, hanya satu KK yang mengunsi ke tempat lain.

“Satu keluarga tersebut posisi rumahnya berdekatan langsung dengan tanggul tersebut, otomatis rumah mereka langsung hancur dan terendam. Mereka mengungsi ke rumah keluarganya yang lain di Jalan Pasupati,” ujar Asep saat ditemui Radar Bandung di lokasi banjir, RW.04, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (9/3).

Ia menjelaskan, kronologis kejadian terjadi sekira pukul 20.00 WIB, saat itu menurutnya hujan lebat sudah mengguyur kawasan tersebut sejak pukul 16.00 WIB.

Menurutnya, kawasan RW.04 tersebut memang sudah menjadi langganan banjir tiap tahunnya, namun kejadian ini merupakan kejadian paling parah yang pernah terjadi selama kurun waktu 2016 sampai 2018.

Jebolnya tanggul sungai Cironggeng tersebut merupakan kejadian yang pertama kali terjadi, sebelumnya hanya luapan air sungai saja yang menerjang pemukiman warga dan itupun menurutnya tidak sedahsyat kejadian pada Kamis (8/3) lalu.

Akibatnya tanggul yang terbuat dari tembok yang sudah tidak kokoh lagi menurutnya, jebol dan menghasilkan lubang sebesar tinggi 5 meter dan panjang 20 meter.

“Ditambah lagi tadi siang, Jumat (9/3), tanggul yang berada di posisi lainnya jebol pula dan menciptakan lubang sebesar tinggi 5 meter dan panjang 10 meter,” ungkapnya.

Lanjutnya, banjir disertai tanah lumpur paling parah terjadi sekitar pukul 22.00 hingga 23.30 WIB.

Ketinggian air mencapai 1 meter dengan sangat deras dari aliran sungai Cironggeng. Hal tersebut membuat warga panik dan menyelamatkan diri ke jalan raya Cingised.

“Banyak warga tidak dapat menyelamatkan barang-barangnya saat kejadian. Semua barang rusak terendam air dan lumpur,” ucapnya.

Asep memaparkan, sejak pukul 07.00 WIB hingga malam nanti, warga dengan Tentara Republik Indonesia (TNI) sedang berupaya untuk membuat tanggul mengalirkan air yang masuk dari sungai Cironggeng.

Ada pun antisipasi atau tindakan awal penanggulangan banjir tersebut adalah dengan cara menanam pasak atau tanggul darurat dengan menggunakan karung yang diisi dengan tanah untuk menutpi lubang jebolnya tanggul tersebut sementara waktu.

“Karung untuk membuat tanggul kami dapat dari Koramil dan sumbangan warga lainnya,” paparnya.

Asep mengkhawatirkan banjir yang terjadi akan semakin parah dikarenakan beberapa hari ini, wilayah Bandung terus menerus diguyur hujan lebat beserta angin kencang.

Lanjutnya, bahkan jebolnya tanggul Cironggeng juga mengakibatkan sejumlah kawasan perumahan di Cisaranten Endah yang biasanya tidak terkena banjir, merasakan kebanjiran. Perumahan Arcamanik Endah dan Griya Caraka paling parah terkena dampak banjir.

“Musibah mah da gak yang tahu yah, kita akan terus melakukan tindakan agar air cepat surut, mohon bantuan kepada semua pihak,” tandasnya.

Di samping itu, seorang Hansip RW.04 bernama Maman Dahlan (64) mengungkapkan, atap rumahnya hancur ketika kejadian ujan deras terjadi pada Kamis (8/3) lalu.

loading...

Feeds

BPJS Kesehatan Polisikan Pengkritik

Polemik defisitnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, lembaga yang dipimpin Fachmi Idris melaporkan dua akun pengkritik ke Bareskrim, Selasa …