Duh! Tak Ada Solusi untuk Atasi Banjir Kota Bandung

Jalan Soekarno Hatta dekat perempatan Gedebage Bandung saat dilanda banjir. (faisal/cr1)

Jalan Soekarno Hatta dekat perempatan Gedebage Bandung saat dilanda banjir. (faisal/cr1)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Selain tol air, pemerintah Kota Bandung masih belum menemukan solusi kongkrit terkait banjir yang melanda beberapa kecamatan di Kota Bandung.

Penanggung Jawab Sementara (PJS) walikota Bandung, Muhamad Solihin menjelaskan, tol air itu hanya salah satu upaya pelaksanan Kota Bandung untuk mengatasi banjir itu juga masih banyak yang harus di evaluasi dari teknisnya sendiri.

“Terutama Pagarsih, karena nenek saya tinggal di sana, saya paham betul kondisi di sana,” kata Solihin saat ditemui Radar Bandung setelah musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di Grand Pasundan, Jalan Peta nomor 147 Bandung.

Lanjut Solihin, selain belum maksimalnya tol air, sampah masih banyak dibuang warga di gorong-gorong, sehingga volume sampah di gorong-gorong semakin menumpuk.

Dalam hal ini masyarakat harus lebih mengerti dalam penanganan sampah rumahan.

“Saya minta seluruh jajaran wilayah, maksud saya di sini camat dan lurah, harus senantiasa menyampaikan ke masyarakat bahwa sampah harus di buang pada tempatnya,” ungkapnya.

Selama ini dirasakan Solihin, pengelolan sampah seharusnya menjadi tugas bersama masyarakat Kota Bandung dalam meminimalisir penumpukan di gorong-gorong, sehingga bisa meminimalisir air berjalan dengan lancar.

“Ini juga menjadi PR besar kita dalam melakukan pembangunan di Kota Bandung,” ujarnya.

Di tempat yang sama, dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Arif Prastya menjelaskan, penanganan banjir untuk di wilayah perkotan menurutnya memang belum menemukan solusi kongkrit. Tol air sendiri masih banyak yang harus dievaluasi.

“Kalau Pagarsih saya sudah sempat berkomunikasi dengan camat, camat bilang bekerja baik, dan debit air juga baik,” terangnya.

Menurut Arif, jika terjadi hujan di Bandung bagian barat, laju air akan bermuara ke perkotan, ditambah hujan yang mengguyur Bandung akhir-akhir ini, dirasanya air akan menggenang di beberapa jalan besar.

“Cekungan paling rendah itu ya seperti Gedebage, kalau pemeliharan kita lakukan dengan adanya pemeliharan sedimen dan peninggian,” sambungnya.

Sehubungan dengan kejadian tersebut, proyek dari pemerintah provinsi Jawa Barat untuk membuat kolam retensi di Gedebage dengan luas tujuh hektar dan kedalaman tujuh meter, bisa meminimalisir banjir di wilayah perkotaan.

“Pengelolaan yang utama, soalnya Bandung kan kota cekungan, pembuangan air harus jelas dan tepat sasaran, sampai saat ini kan air mengalir belum tepat sasaran,” paparnya.

Disinggung mengenai tanggul yang jebol di Arcamanik, Arif masih belum berani berkomentar. “Nanti kami lihat terlebih dahulu,” ungkapnya.

Direktur Perkotaan Perumahan dan Pemukiman, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas), Tri Dewi Virgianti menanggapi, jebolnya tanggul Arcamanik, pasti banyak mengalami kerugian, seharusnya jika mau membangun itu harus dihitung, data juga harus benar.

“Kalau tidak data to data berarti kan hanya kira-kira, sehingga untuk daya tahan tanggul kan salah hitung juga,” ujarnya saat ditemui Radar Bandung setelah Musrenbang.

Lanjut Tri, besar kemungkinan karena banyaknya air di hulu sehingga tanggul bisa jebol, menurutnya hal tersebut harus bisa dihitung dengan benar, jika tidak Pemkot Bandung harus bisa mengendalikan dari laju air tersebut.

“Harusnya ada resapan atau hutan dihijaukan sehingga air tidak lari ke kota,” terangya.

Ia berpesan agar Pemkot Bandung bisa kembali merinci semua pembangunan yang bersifat berkelanjutan, karena dinilainya sangat penting untuk mempertimbangkan keselamatan masyarakat.

(cr3)

loading...

Feeds