Mengharukan! Ini Doa Cicih, Ibu Renta yang Digugat Keempat Anaknya

Cicih menunjukan surat wasiat dari almarhum suaminya S.Udin di kediamanya Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. (Azis Zulkahairil/Radar Bandung)

Cicih menunjukan surat wasiat dari almarhum suaminya S.Udin di kediamanya Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. (Azis Zulkahairil/Radar Bandung)

Air susu dibalas dengan air tuba. Peribahasa ini tepat untuk menggambarkan keadan Cicih yang di gugat keempat anak kandungnya di Pengadilan Negri Kota Bandung.

=====================

Azzis Zulkhairil, BANDUNG

=====================

Perempuan sepuh 78 tahun itu digugat terkait warisan dari almarhum suaminya, S. Udin. Warisan tersebut sudah dihibahkan melalui surat wasiat kepada Cicih. Cicih kemudian menjualnya.

Tak tanggung-tanggung, perempuan yang sudah renta tersebut digugat Rp 1,6 miliar. Gugatan terdiri dari Rp670 juta dan gugatan imateriil Rp1 miliar.

Padahal, kata Cicih, keempat anaknya, yakni Ai Sukmawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi, dan AI Komariah, sudah mendapatkan jatah warisan dari almarhum S. Udin.

“Semua sudah diberikan jatah masing-masing sebelum suami saya meninggal,” ujarnya saat ditemui Radar Bandung (grup pojokbandung.com) di kediamanya Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Bandung, Kamis (23/2).

Namun, anak-anak Cicih sudah menjual habis warisan bagian mereka. Bahkan, kata Cicih, mereka menjual warisan itu sebelum almarhum S.Udin meninggal.

“Saya tidak pernah tahu sebelumnya kalau warisan yang diberikan sudah dijual habis, tetapi berjalanya waktu saya mengerti,” ungkapnya.

Cicih mengaku, tidak ada yang salah dengan keputusannya menjual sebagian tanah peninggalan almarhum S.Udin. Maka ia merasa tak perlu memberitahu keempat anak yang kini menggugatnya.

“Mereka sebelumnya menjual warisan tanpa sepengetahuan saya, jadi menurut saya tidak ada masalah jika saya menjual diam-diam,” terangnya.

Sebelum mendapat gugatan yang kini tercatat dalam Perkara Perdata Nomor: 18/PDT.G/2018/PN BDG, Cicih tidak pernah punya masalah apa pun dengan keempat anaknya.

“Sebelumnya hubungan kami harmonis pada umumnya keluarga, anak-anak mereka juga sering main ke rumah saya,” ujar wanita berjilbab ini.

Cicih menjual sebagian tanah peninggalan suami demi menyambung hidup, antara lain membeli sembako, tidak untuk membeli peralatan mewah atau hura-hura. Terlebih di rumahnya tinggal anak keduanya, Dede Rohayati, dan cucunya.

“Namun setelah ada anak bungsu saya Alit Karmila datang, lantas dede pergi,” ungkapnya.

Alit Karmila adalah anak bungsu yang kini tinggal serumah bersama Cicih. Sebelum Cicih menjual tanahnya, Alit belum tinggal bersama Cicih. Kini Alit juga berstatus tergugat.

Meski digugat keempat anaknya, Cicih tetap seorang ibu. Ia justru menerima semua apa yang sudah dilakukan anak-anaknya. Ia berharap masalahnya cukup selesai sampai mediasi, tidak sengketa berkelanjutan.

“Saya selalu mendoakan anak-anak saya agar soleh solihah, diberi jalan terang oleh Allah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di tempat yang sama, Alit Karmila membantah bahwa dirinya yang mendorong ibunya menjual wasiat ayahnya. Alit mengaku tak memiliki hak atas tanah wasiat itu.

“Saya ini tidak punya kekuatan apa pun, kalau ibu mau jual ya jual, kalau enggak ya enggak, kan itu sepenuhnya hak ibu,” ujar Alit.

Alit menjelaskan, keberadaanya di rumah Cicih tak lain ingin berbakti pada sang ibu, bukan memperebutkan harta warisan dan lain-lain. Alit juga mengaku sudah memiliki bagian tanah yang sekarang sedang dibangun untuk berwiraswasta.

“Saya juga punya bagian, tapi sekarang masih proses pembangunan untuk usaha,” terangnya.

Alit berharap kasus yang menimpa ibunya bisa selesai dalam proses mediasi, meskipun banyak pihak yang mendukung kasus gugatan anak terhadap ibu itu.

“Karna ini masalah keluarga, saya ingin dengan kekeluargaan juga,” sambungnya.

Radar Bandung sudah mengkonfirmasi keempat anak penggugat. Namun sejauh ini mereka enggan memberikan keterangan.

(*)

loading...

Feeds