Korban Banjir Cibadak Minta Pemkot Bandung Adil

Musola kecil di RT 04 kelurahan cibadak kecamatan astanaanyar, ambruk oleh banjir.(Jumat 23/2) (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

Musola kecil di RT 04 kelurahan cibadak kecamatan astanaanyar, ambruk oleh banjir.(Jumat 23/2) (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Banjir di beberapa titik kelurahan Cibadak kecamatan Astanaanyar, Bandung, mengakibatkan kerugian material tak sedikit, termasuk ambruknya satu musola.

Berdasarkan penilain warga, selain disebabkan hujan deras, banjir tak lepas dari hadirnya tol air yang diresmikan Pemkot Bandung beberapa waktu lalu. Warga menilai, fungsi tol air belum maksimal.

Banjir tersebut dimulai pukul 19:00 WIB, Kamis (22/2). Ketinggian air mulai naik pada pukul 21:00 WIB. Di waktu tersebut, air mulai masuk ke rumah warga. Air baru surut pada pukul 00:00 WIB.

Ketua RT 05 RW 07 kelurahan Cibadak, Angga Perwira mengatakan, bali kali ini yang terbesar dibanding banjir sebelumnya.

“Saya dengan warga sebelumnya sudah bersiap-siap, karena biasanya banjir tidak sebesar sekarang,” ujarnya saat ditemui Radar Bandung (grup pojokbandung.com) di posko evakuasi RT 05 kelurahan Cibadak, Jumat (23/2).

Diperkirakan, ketinggian banjir mencapai 1,70 meter. Semua RT yang ada di kawasan tersebut terkena banjir. “Biasanya RT 04, tidak kena, sekarang kena,” sambungnya.

Angga berpendapat, banjir diakibatkan dari pembagian tol air yang belum maksimal. Program Pemkot Bandung tersebut membuat sungai Citepus mendapat banyak limpahan air lebih deras dari sebelum ada tol air.

“Pagarsih aman, tapi daerah kami yang kena imbasnya,” ungkapnya.

Masih kata Angga, Tol Air Pagarsih ada positif dan negatifnya. Menurutnya, air hujan dari Pagarsih cepat larut. Tapi dampaknya semua air mengalir ke Citepus.

“Biasanya air itu kebagi-bagi ke sungai-sungai lain, tapi sekarang ke Citepus semua airnya,” terangnya.

Angga menambahka, tidak ada korban jiwa dari bencana tersebut. Namun kerugian materil tidak sedikit. Bahkan satu bangunan musola warga RT 2 ambruk.

“Terus ada rumah jebol kaca dan barang elektronik yang terendam, kalau perhiasan tidak ada,” sambungnya.

Angga berharap, sistem tol air bisa diperbaiki kembali. Sebab, perbaikan irigasi di kawasan banjir sudah menyangkut masalah nyawa warga. Jika sistem tol air masih sama, ia khawatir kejadian serupa akan terjadi kembali.

“Kalau semua air hujan dan sungai di masukan ke daerah kami, percuma saja, nanti banjir lagi, pemerintah harus lebih serius, ini sudah kami alami bertahun-tahun, sejak saya masih kecil sampai sekarang berkeluarga masih saja banjir,” tuturnya.

Senada dengan Angga, Warga RT02, Citra menjelaskan, semenjak ada tol air, banjir di kawasannya semakin tinggi. Sebelum ada tol air, banjir tidak sampai setengah badannya.

“Biasanya hanya sampai lutut, tidak sampai dada,” ujarnya.

Citra mengaku sejumlah barangnya terendam banjir, antara lain peralatan dapur, elektronik. Ia juga kehilangan e-KTP dan SIM.

“SIM dan KTP saya taruh di meja makan tiba-tiba raib oleh air banjir,” ungkapnya.

loading...

Feeds