Banjir Bandung Selatan, Ekonomi Dayeuhkolot Lumpuh

Pedagang sepanjang Jalan Raya Dayeuhkolot, memilih tidak berjualan selama banjir. (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

Pedagang sepanjang Jalan Raya Dayeuhkolot, memilih tidak berjualan selama banjir. (Azis Zulkhairil/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com – Akibat banjir tak kunjung surut, beberapa pedagang Jalan Raya Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung, mengeluh sepi pembeli.

Pantauan Radar Bandung, banjir di Dayeuhkolot ditandai hujan deras yang mengguyur seluruh kawasan Bandung Raya Kamis (22/2). Akibatnya, air menggenangi Jalan Dayeuhkolot mulai 02:00 WIB sampai pukul 17:00 WIB.

Dampak banjir membuat jalanan yang digenangi air terlihat lengang. Salah satu penjual interior rumah di Jalan Raya Dayeuhkolot, Asep Hemun mengaku terpaksa menutup sementara tempat jualannya. Banjir membuat aktivitas jual beli terganggu.

“Mulai hujan dua hari lalu, paling besar kemarin, perkiraan tinggi sampai sebetis itu waktu jam 06.00 WIB-lah,” terangnya, Jumat (23/2).

Asep melanjutkan, musibah banjir yang melumpuhkan beberapa jalan di Kabupaten Bandung sudah lama terjadi saat musim hujan. Setiap banjir, ekonomi lumpuh.

“Sangat menghambat perekonomian warga dan lalu lintas sepi, seperti kota manti,” ungkapnya.

Menurut Asep, ketinggian banjir di Jalan Raya Dayeuhkolot setiap tahunnya berbeda-beda. Pada 80-an, air tidak sampai manggenangi ruko miliknya, dan itu dirasakannya memerlukun hujan yang berhari-hari baru terlihat genangan air.

“Sekarang dua hari hujan sudah sampai dalam ruko, jadi kami juga harus selalu kontrol barang dagangan,” sambungnya.

Asep Beranggapan, tingginya banjir diakibatkan penyumbatan beberapa sungai untuk pembangungn sungai Citarum.

“Itu hanya perkiraan saya dan beberapa teman saja, faktanya biar masyarakat lain yang menilai,” ungkapnya.

Sebab lain, karena banyaknya sampah yang menutupi gorong-gorong. Ini mengakibatkan pergerakan air kurang lancer. Kepedulian membuang sampah pada tempatnya untuk warga Kabupaten Bandung ia rasa juga masih minim.

Asep berharap, pemerintah segera membuat waduk atau bendungan. Senada dengan Asep, pemilik toko pakaian, Saefudin menjelaskan, keberadan genangan air di sekitar toko membuat ia menutup sementara tokonya.

“Sudah biasa setiap banjir ya pasti masuk toko, bukan hal yang lain lagi, jadi gk dapet pelanggan,”terangnya.

Fudin mengatakan, banjir di Bandung selatan tersebut juga diperparah dengan pembangunan. Menurutnya, banyaknya sawah yang diuruk memperparah banjir.

“Jika dilihat, semakin tahun pembangunan Kabupaten Bandung semakin meningkat, risikonya ya seperti ini,” pungkasnya.

(cr3)

loading...

Feeds

Sandrina Pukau Warga Cianjur

‎Tahun ini Napak Jagat Pasundan (NJP) mengusung tema 'Keur Balarea', ada banyak konsep baru dan unik dalam pengemasannya dibandingkan tahun …