Suami Dipenjara, Istri Malah Lanjutkan Produksi Miras Palsu

Petugas memperlihatkan barang bukti minuman ilegal saat gelar barang bukti di kantor Wilayah Bea dan Cukai, Kota Bandung,  Senin (19/2). (RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG)

Petugas memperlihatkan barang bukti minuman ilegal saat gelar barang bukti di kantor Wilayah Bea dan Cukai, Kota Bandung, Senin (19/2). (RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ibu rumah tangga bernisial TR, tampaknya tidak kapok. Suaminya, ML (53), lebih dulu mendekam dipenjara karena memalsukan minuman keras berbagai merek. Selama suami di balik jeruji, TR justru melanjutkan usaha haramnya itu.

Di kediamannya wilayah Bojongsoang, Kabupaten Bandung, TR memproduksi miras palsu tersebut. Disebut palsu, sebab TR mengemasnya dengan berbagai merek resmi yang ada di pasaran.

Dalam memalsukan miras itu, TR dibantu tiga karyawannya. Cara kerjanya, TR membeli terlebih dahulu cairan miras yang asli atau resmi.

Miras-miras asli itu kemudian dimasukkan ke dalam drum. TR dan kawan-kawan lalu mencampurnya dengan berbagai bahan seperti air putih, gula putih, gula merah, gingseng, jahe.

Barang bukti minuman ilegal saat gelar barang bukti di kantor Wilayah Bea dan Cukai, Kota Bandung, Senin (19/2). (RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG)

Gawatnya, TR juga mencampur semua bahan tersebut dengan alkohol jenis methanol yang bukan untuk dikonsumsi manusia. Biasanya alkohol methanol dipakai untuk keperluan industry kimia, bahan bakar, dan lainnya.

Sedangkan alkohol yang ada pada minuman keras jenisnya etanol yang bisa dikonsumsi dalam kadar yang wajar. Nah, TR tidak membedakan campuran metanol maupun etanol, yang penting dicampur, dikemas dan dijual.

TR memasukkan dan mengemas miras campuran itu dengan alat khusus. TR juga menempelkan pita bea dan cukai di tutup botolnya. Pita cukai diduga dibuat sendiri oleh TR.

Minuman palsu itu kemudian dipasarkan di Bandung, Garut, Tasikmalaya dan daerah lainnya.

Praktik illegal yang dilakukan TR sudah berjalan empat bulan. Selama itu, dia memproduksi rimbuan botol miras palsu. Dalam dua jam, TR mampu membuat satu karton atau 12 botol oplosan, sehinga dalam satu hari kurang lebih 360 botol yang ia produksi dan dipasarkan.‎

Namun baru-baru ini, praktik TR terbongkar Petugas Bea dan Cukai Jawa Barat. Di tangan TR, petugas menyita ribuan miras ilegal yang hendak dipasarkan.

Dalam gelar perkara Senin (19/2), petugas menunjukkan barang bukti berupa alat produksi minuman, 6.908 minuman mengandung etil alkohol, 3.752 botol miras oplosan, 2.085 lembar pita cukai, alat pembuat miras.

Petugas juga mengamankan 2.085 keping pita cukai, dua unit mobil, 25.568 batang rokok tanpa cukai, 222.100 gram tembakau iris impor dan lokal dan menangkap dua orang tersangka, sejumlah drum dan barang bukti lainnya.

Kepala Kanwil Bea dan Cukai Jabar Saipullah Nasution mengatakan, TR dijerat Pasal 50, 54 dan 55 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Ancaman hukuman mencapai 1 sampai 8 tahun bui.

Praktik yang dilakukan TR tak lepas dari peran suami yang sudah dijebloskan ke penjara.

“Suaminya pernah kita tindak awal tahun kemarin. Nah ketika suami di penjara, istrinya melanjutkan,” tandasnya, dalam gelar perkara Senin (19/2). “Dari hasil penindakan ini, jumlah kerugian negara mencapai 1,8 miliar rupiah,” tambahnya.

(nda)

loading...

Feeds