BPOM Bekukan Izin Edar Albothyl, Dilaporkan Perparah Sariawan

Abdul Rohim - Kepala BBPOM Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

Abdul Rohim - Kepala BBPOM Bandung (Gumilang/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membekukan izin edar obat sariawan Albothyl. BPOM menerima 38 laporan keluhan penggunaan Albothyl yang berdampak makin memperparah sariawan.

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Abdul Rohim mengatakan, pihaknya akan segera turun ke lapangan dan mendatangi setiap distributor seperti apotek yang ada di Bandung untuk segera menarik produk tersebut.

“Selambat-lambatnya sebulan kita sudah tarik semua produk tersebut,” ujarnya kepada Radar Bandung (grup pojokbandung.com), di BBPOM Bandung, Jumat (16/2).

Terkait pemantauan Albothyl dalam dua tahun terakhir, Abdul menuturkan bahwa BPOM telah menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan.

Di antaranya, efek samping serius seperti sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi.

“Kami mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut,” tuturnya.

Diketahui, Albothyl merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).

“Obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit, THT, sariawan dan gigi,” terangnya.

Ia berkata, BPOM secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu.

Sambungnya, bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM.

“Silahkan laporkan melalui website www.e-meso.pom.go.id.” ujarnya.

Ia berkata,  BPOM telah menginstruksikan untuk menarik obat dari peredaran Kepada PT Pharos Indonesia selaku produsen Albothyl dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat.

“Paling lambat satu bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar,” terangnya.

(cr1)

loading...

Feeds