Yuk ke Pameran “Sense Of Order” di Selasar Sunaryo Art Space

Pameran “Sense of Order” di Selasar Sunaryo Art Space (NURFIDIAH/RADAR BANDUNG)

Pameran “Sense of Order” di Selasar Sunaryo Art Space (NURFIDIAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Seniman asal Bandung Nurdian Ichsan menggelar pameran dengan tema Sense Of Order di Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur No 100 Bandung.

Pameran yang resmi dibuka 26 Januari 2018 itu, berhasil menarik pengunjung pecinta seni keramik ini.

Pameran ini menghadirkan keramik dan lempung yang menghiasi ruangan B.

“Pengunjung saat weekday itu sekira 30, weekend bisa mencapai 50,” kata Nisa Nurjanah, Exhibition Guide di Selasar Sunaryo Art Space.

Nurdian Ichsan atau biasa disapa Sasan adalah seniman, kurator, dan pengajar di Program Studi Seni Keramik Institute Teknologi Bandung (ITB).

Setidaknya ada tiga hal pokok yang dapat diajukan untuk menampilkan karya-karyanya di pameran ini.

“Pokok yang pertama adalah kesadaran konseptual Sasan akan sifat-sifat utama material lempung sebagai bahan baku untuk karya-karya keramik,” kata Nisa Nurjanah.

Pameran “Sense of Order” di Selasar Sunaryo Art Space (NURFIDIAH/RADAR BANDUNG)

Yang kedua, sambung dia, pandangan kritisnya atas konstruksi yang bisa disebut ‘makna’, yang biasa dilekatkan dengan intensi para seniman serta alasan kehadiran suatu karya seni.

Ketiga, terkait wacana kontemporer yang melandasi penciptaan karya-karya keramiknya mengenai diri atau subjek dan apa yang kerap disebut sebagai proses-proses subjektivasi.

Ketiga ihwal pada karya Sasan sekaligus juga menggambarkan ketegangan antara material lempung dan praktik artistik seni keramik kontemporer.

Bagi Sasan, struktur naturalistis yang membentuk persepsi serba ‘non’ bagi lempung itu justru melahirkan ruang dan praktik keberadaan bagi seniman kontemporer.

Ia menulis, “Karya-karya keramik bisa dilihat dalam sebuah spektrum di antara yang tak tentu atau disorder, dengan yang tentu atau order. Dorongan untuk membentuk tergambar dalam tingkat kontrol tertentu terhadap lempung.”

Ada enam benda keramik dan tanah liat yang dipamerkan dalam exhibition yang berlangsung sampai 25 Februari 2018 ini.

“Ada mask, yaitu keramik berbentuk wajah namun dibuat abstrak dengan bahan porcelain, kemudian mass adalah keramik yang sama seperti mask namun lebih kecil dan dipajang panjang ditembok bagian depan ruang B, dan yang lainnya,” sambungnya.

Saat memasuki ruangan, pengunjung akan langsung disambut dengan barisan keramik putih berbentuk wajah abstrak yang ditempel memanjang di dinding ruangan, kemudian disamping nya ditempel juga keramik putih dengan bentuk yang sama namun ukurannya lebih besar, yaitu 12 x 18 x 32 cm.

Kesan elegan dengan unsur all white membuat pengunjung betah mengamati karya-karya Nurdian.

Masuk ke dalam, disamping kanan pengunjung akan menemukan tumpukan patung keramik yang berjumlah 100, dibentuk seperti kubus. Lalu di samping kanannya ada tanah liat yang dibuat membentuk terracota, yang dipajang diatas langit-langit ruangan.

“Relasi antara lempung dan keramik bagi Sasan bukanlah relasi tanda. Lempung bukanlah petanda karya keramik atau sebaliknya. Material ini adalah penanda dan petanda sekaligus,” tutupnya.

Pameran ini buka setiap Selasa-Minggu, pukul 10.00 – 17.00 WIB. Pengunjung tidak dipungut biaya untuk datang menikmati pameran tersebut.

(cr2)

loading...

Feeds