Perlu KTP buat Bikin Panti Pijat, Penyandang Disabilitas Ini Harus Bayar 800 Ribu

Heri Purnomo

Heri Purnomo

Kehilangan penglihatan sejak umur 12 tahun tidak menjadikan Heri Purnomo (33) patah arang. Pada 2015 ia hijrah ke Bandung guna melanjutkan asa. Dua kali mengurus dokumen, dua kali pula kena pungli.

======================

Indra Kurniawan, Bandung

======================

Tiba di Bandung, Heri bergabung dengan  Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Bandung. Tak hanya membina, panti tunanetra tertua di Indonesia itu memeberinya kerja sebagai terapis.

Setelah menyelesaikan kontrak kerja, Heri memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Berbekal tabungan selama bekerja sebagai terapis, pria asal Bandar Lampung tersebut memilih Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Bandung.

“Saya ingin jadi guru, profesi paling mulia di dunia,” kata mahasiswa tingkat satu Jurusan Pendidikan Agama Islam itu.

Berkat pekerjaannya sebagai terapis pula, Heri bisa berkenalan dengan salah seorang Dekan Fakultas Unisba.

Itu sebab, Heri memberanikan diri mengajukan rencana untuk mendirikan panti pijat khusus di wilayah kampus Unisba. Bak gayung bersambut, rencana Heri disetujui. Syarat utamanya, Heri diminta untuk segera menyertakan E-ktp berlabel Kota Bandung.

“Pihak Unisba setuju soal lahan dan juga peralatan pijat. Rencananya saya akan ajak teman-teman dari Wyata Guna juga. Tapi soal KTP ini jadi kendala,” tutur Heri.

Peristiwa tidak menyenangkan menimpa Heri saat mengurus keperluan identitas diri.

Saat mengajukan permohonan E-ktp berlabel Kota Bandung, Heri diminta untuk menyediakan uang sebesar 800 ribu rupiah oleh ketua RT tempat ia mengontrak kamar kos di Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

“Katanya uang tersebut harus disetor untuk keperluan balik nama,” ungkap Heri.

Mendengar permintaan janggal tersebut, Heri menampik. Dengan alasan sedang tidak memiliki uang sebesar itu, Heri tetap dirayu untuk membayar secara mencicil.

Bahkan, ketua RT itu dengan bangga menceritakan keberhasilannya menembuskan dua permohonan KTP sebelum kedatangan Heri.

loading...

Feeds