Film ‘Dilan 1990’ di Mata Para Pemainnya, Pacaran Pakai Telepon Umum

Para bintang  'Dilan 1990' berfoto bersama usai melakukan sosialisasi filmnya di Cihampelas Walk, Bandung. FOTO: NURFIDIAH/RADAR BANDUNG

Para bintang 'Dilan 1990' berfoto bersama usai melakukan sosialisasi filmnya di Cihampelas Walk, Bandung. FOTO: NURFIDIAH/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Film ‘Dilan 1990’ menjadi salah satu karya yang menarik perhatian penonton. Terlebih film ini diadaptasi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul yang sama.

Lalu, bagaimana para pemain film yang diputar serentak 25 Januari itu bisa memerankan film era 90-an?

Iqbaal, pemeran Dilan mengaku senang bisa bermain dalam film ini. Ia mengaku tidak menemukan kesulitan selama proses syuting termasuk dalam pembentukan chemistry dengan lawan mainnya, Vanesha Prescilla.

“Di sini saya harus memainkan karakter cowok 90-an. Itu tantangan soalnya era 90 itu unik dan apa adanya. Bayangin di zaman itu, kalau yang mau pacaran harus cari telepon umum, lagi sayang-sayangan terus di belakang ada orang yang nunggu karena antre nelepon, harus ada nyali,” ucap pemilik nama lengkap Iqbaal Diafakhri Ramadhan ini.

Iqbal ditemui di sela konvoi film Dilan di Cihampelas Walk Bandung, baru-baru ini.

Vanesha yang memerankan tokoh Milea pun mengatakan tidak menemukan kesulitan untuk membangun chemistry dengan Iqbaal.

“Untuk bangun chemistry tidak sulit karena kita benar-benar dikenalkan dengan tokoh Dilan dan Milea ini, lebih mendalami chemistrynya dengan baca naskah bareng-bareng, beres reading kita ketemu, sharing banyak hal,” kata wanita 18 tahun ini.

Sedangkan Iqbaal mengungkapkan kunci kesuksesan chemistry dengan Vanesha adalah kepercayaan.

“Chemistry bisa terbentuk kalau dua individu saling percaya dan saling menguatkan,” tambahnya.

Dalam film, Dilan diperankan sebagai pemimpin geng motor terkenal di Kota Bandung. Hal itu menuntut Iqbaal untuk mengetahui terlebih dahulu latar belakang geng motor pada tahun 90-an.

“Observasi sebelum syutingnya, saya sempat ngobrol dulu sama geng motor di Bandung yang mana itu orang-orangnya sudah tua dan seangkatan dengan ayah (Pidi Baiq),” lanjutnya.

Penulis yang juga Imam Besar The Panas Dalam, Pidi Baiq, mengaku puas dengan hasil filmnya. Walaupun sempat ragu, namun pria yang akrab disapa Ayah ini senang setelah dirinya menonton hasil akhir film yang proses syutingnya memakan waktu 25 hari ini.

“Saya puas dengan hasil akhir filmnya, karena itu yang bisa kami lakukan, kemampuan kami hanya sampai disitu. Tidak puasnya karena kami memiliki keterbatasan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ayah menjelaskan bahwa dirinya akan melanjutkan sekuel Dilan sampai selesai dan tetap menggunakan Iqbaal dan Vanesha sebagai tokohnya.

“Artis tetap mereka. Walaupun saat saya mengumumkan Iqbaal yang menjadi tokoh Dilan banyak kritik, tapi Iqbaal lebih baik dibandingkan yang lain. Mereka aktingnya bagus-bagus semua,” tutupnya.

Terakhir, Ayah menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang sudah mengapresiasi dan memuji film ‘Dilan 1990’ tak lupa untuk yang mengkritik pun ayah ucapkan terimakasih, karena mereka yang mengontrol sehingga kedepannya dapat diperbaiki lagi.

Untuk diketahui, film yang disutradarai Fajar Bustomi cukup bikin penasaran penonton. Terutama bagaimana sutradara mengolah sosok Dilan yang sudah terlanjur dicintai para pecinta bukunya.

Kebanyakan penonton sudah membaca novel Dilan, mereka penasaran bagaimana novel tersebut difilmkan. Saat Gala Premier Film ‘Dilan 1990’, antusias penonton cukup bagus.

(cr2)

loading...

Feeds

Kian Patuh Sambil Makan Bakso Puyuh

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI–Puluhan pelaku Usaha Kecil dan Menegah (UKM) di wilayah Pelabuhan Ratu mengikuti diskusi bertajuk “Peran UKM Untuk Negeri” di …

Bangun Ekonomi Rakyat, DPD Sosialisasi LPDB

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Peran Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) sangat strategis untuk membantu pengembangan ekonomi kerakyatan …