Kades Gudangkahuripan Sosialisai Pentingnya BPJS Kesehatan Lewat Pengalaman Warga

Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana ST (batik cokelat)

Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana ST (batik cokelat)

POJOKBANDUNG.com – Desa menjadi ujung tombak dalam mensosialisasikan program pemerintah, termasuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Salah satu desa yang aktif mensosialisasikan program wajib untuk semua warga negara Indonesia itu ialah Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana ST mengatakan, sebagai aparatur negara dan warga masyarakat, tentunya harus mengikuti program pemerintah.

“Karena BPJS Kesehatan ini sangat bermanfaat bagi warga, menyangkut proteksi untuk biaya kesehatan,” jelas Agus Karyana, kepada Pojokbandung.com (grup Radar Bandung).

Mengingat pentingnya manfaat BPJS Kesehatan, ia mengaku tak bosan melakukan sosialisasi.

“Saya termasuk keluarga telah ikut BPJS Kesehatan. Warga di sini yang tidak mampu dan tidak tercover juga diikutkan BPJS Kesehatan. Harapan kita tentu ingin sehat terus. Tapi jika suatu waktu sakit, tidak perlu belepotan mengurus persyaratan karena sudah punya BPJS Kesehatan lebih dulu,” katanya.

Ia mengatakan, bagi warga kurang mampu sudah bisa menggunakan BPJS Kesehatan, sebab sebelumnya mereka tercover Jamkesmas. Semuanya ada 370 rumah tangga sasaran (RTS).

Namun warga mampu yang belum punya BPJS Kesehatan diimbau supaya segera melakukan pendaftaran. Bagi yang sudah memiliki BPJS Kesehatan, diimbau agar rutin melakukan pembayaran iuran bulanan.

Menurutnya, BPJS Kesehatan memberikan ketenangan kepada semua peserta. Walaupun ada kewajiban membayar iuran, hal ini dilakukan untuk membantu biaya pengobatan secara gotong-royong.

“Agar semua masyarakat tenang walaupun ada kewajiban bayar, kalau tak dipakai manfaat BPJS Kesehatannya, kita kan tetap sehat sekaligus berbuat baik kepada saudara kita. Mereka terbantu dengan iuran yang kita bayar, jadi jangan merasa rugi,” ungkapnya.

Dalam melakukan sosialisasi, ia selalu merujuk pada contoh-contoh kasus yang terjadi di wilayahnya. Misalnya, ada warga sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit. Namun warga tersebut belum punya BPJS Kesehatan, hingga harus mendadak mengurus berbagai macam persyaratan.

Hal itu tentu tidak akan terjadi jika warga tersebut sudah memiliki BPJS Kesehatan. “Dari pengalaman itu kita kasih gambaran kepada masyarakat,” katanya.

Contoh lain, ada warga yang melahirkan di rumah sakit. Beruntung warga tersebut sudah punya kartu BPJS Kesehatan, sehingga biaya persalinannya ditanggung.

“Warga tersebut punya BPJS Kesehatan, dan biaya persalinan Rp10 juta, karena harus operasi Caesar, tidak bayar. Pengalaman ini juga menjadi contoh buat kita sosialisasi pentingnya BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

(bie/men/pojokbandung)

loading...

Feeds

Akan Ada Mini Bandung di Ukraina

Kerjasama ini terbangun setelah Pemkot kota Bandung mendapat mandat Kedutaan Besar Indonesia di Ukraina pada Oktober 2017 untuk mengenalkan budaya …